Naik Rp 9.000/gram, Ini Pemicu Harga Emas Antam Cetak Rekor

Investment - Houtmand P Saragih & Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
26 August 2019 11:59
Naik Rp 9.000/gram, Ini Pemicu Harga Emas Antam Cetak Rekor Foto: Ilustrasi Karyawan menunjukkan emas batangan yang dijual di Butik Emas, Sarinah, Jakarta Pusat. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas seri acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp 9.000 (1,26%) hingga tembus rekor Rp 725.000 per gram karena naiknya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS)-China.  

Memanasnya hubungan kedua negara membuat pelaku pasar keuangan semakin sulit melihat akhir dari perseteruan yang naik-turun sejak Agustus tahun lalu. Kondisi tersebut membuat harga emas dunia menguat, terkait dengan kodrat si logam mulia sebagai instrumen investasi lindung nilai (hedging) yang menghindari risiko dan dianggap produk lebih aman (safe haven instrument) ketika pasar global berkontraksi.  

Karena itulah, harga emas Antam juga mengekor harga emas dunia yang juga membentuk rekor baru sejak 6 tahun terakhir.  




Aksi balas (retaliasi) ancam dilakukan China pada Jumat malam WIB atau pagi hari waktu AS terhadap rencana penaikan tarif impor oleh Negeri Paman Sam, yang dibalas kembali oleh Presiden AS Donald Trump terhadap retaliasi tersebut.  Ketegangan perang dagang AS-China terbangkan harga emas Antam hingga mencetak rekor tertinggi baru sejak 6 tahun terakhir.  
Aksi balas-membalas pekan lalu tersebut berawal dari rencana penaikan tarif impor oleh China menjadi 10% dibandingkan sebelumya sebesar 5% terhadap produk impor AS senilai US$ 75 miliar. Rancangan tersebut diniatkan akan berlaku efektif pada waktu yang sama dengan rencana pengenaan AS sebelumnya, yaitu September dan Desember.  

Selain itu, Beijing juga berencana untuk mengenakan tarif impor senilai 15% untuk mobil buatan AS dan 5% terhadap komponen otomotif AS. Pasca rencana tersebut, Trump langsung membalas kontan langkah China dengan menaikkan rencana tarif produk impor Negeri Tirai Bambu senilai US$ 300 miliar menjadi sebesar 15% dari rencana sebelumnya sebesar 10%.  

Tidak sampai di situ, tarif impor produk China senilai US$ 250 miliar lainnya yang telah terkena tarif sebesar 25% akan dinaikkan menjadi sebesar 30% dan berlaku efektif per 1 Oktober 2019. Dari pertemuan G7 di Prancis akhir pekan lalu, Trump sempat membuat bingung pelaku pasar karena memiliki rencana lain terkait tarif.  

Gedung Putih juga mengatakan pada Minggu bahwa Trump berniat menaikkan tarif pada barang yang diimpor dari China lebih besar lagi dari yang disampaikan sebelumnya, tetapi belum tentu akan mengeksekusi rencana menarik operasional perusahaan AS di China.  

Rencana memindahkan bisnis perusahaan AS di China sebelumnya sempat mengemuka sebagai langkah pamungkas Trump menghadapi langkah Beijing, yang semakin memperjelas totalitas dan eskalasi yang memuncak dari pertentangan keduanya. Kondisi itu sukses mengangkat harga emas dunia hingga menembus rekor tertinggi baru sejak 2013, di mana harga emas di pasar spot mencapai US$ 1.526 per troy ounce (oz) pada akhir pekan lalu dan menjadi US$ 1.539 per oz hari ini. 

Harga tersebut juga diikuti harga emas di pasar berjangka New York Mercantile Exchange, Inc (Comex) yang melambung pada akhir pekan lalu menjadi US$ 1.537 per oz dan masih menguat hari ini menjadi US$ 1.549 per oz. Hari ini, Trump dijadwalkan akan menggelar konferensi pers gabungan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, kutip Reuters.  

Saat ini, pelaku pasar masih meyakini bahwa meskipun kondisi perang dagang sedang berkontraksi, bank sentral AS yaitu the Fed harus mengambil langkah agresif dan diprediksi akan memangkas suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin (bps) pada September dan lebih dari 1,1% hingga akhir 2020. 

"Trump menunjukkan tidak ada tanda-tanda melunakkan kebijakan perdagangannya yang destruktif," ujar Analis JPMorgan Adam Crisafulli, kutip Reuters.   


TIM RISET CNBC INDONESIA
     (irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading