Features

Fenomena Startup Investasi, Berkah atau Disrupsi Negatif?

Investment - Irvin Avriano Arief & Monica Wareza, CNBC Indonesia
29 April 2019 15:17
Fenomena Startup Investasi, Berkah atau Disrupsi Negatif?
Blo blo blo blo blo blo blo, blo blo blo blo blo.
Kau anak ajaib, selalu jadi idola.
Kau anak ajaib, memang sungguh jenius.
Saat orang butuh ditolong, kau bagai malaikat.
Saat orang sedan bersedih, kau buatnya tertawa haha haha ha.
Huwa, huwa huwa, anak ajaib...

Masih ingat lirik dari film Anak Ajaib ini enggak? Film anak-anak pada medio 1999-2000 ini amat digemari masyarakat Indonesia saat itu dan bercerita tentang robot berkekuatan super menyerupai manusia bernama Tomi (diperankan aktor cilik Joshua Suherman) yang gemar menolong teman yang kesulitan.

Nah di pasar modal dan dunia investasi, ternyata ada juga pengejawantahan 'anak ajaib' dengan bentuk yang berbeda, tapi punya kemampuan 'luar biasa' dan bertujuan menolong orang lain untuk berinvestasi. Sekelompok 'anak ajaib' itu berhasil mengembangkan aplikasi (apps) dengan nama, Ajaib.


Anderson Sumarli dari Jakarta dan Yada Piyajomkwan dari Thailand adalah dua 'anak ajaib' yang berhasil membangun aplikasi Ajaib tersebut di bawah payung PT Takjub Teknologi Indonesia. Latar belakang pendidikan internasional dengan gelar MBA di usia tak lebih dari 25 tahun dan memimpin perusahaan di usia sangat muda mampu mengundang decak kagum. 

Fenomena Startup Investasi: Ajaibnya Inovasi dan DisrupsiFoto: Co-founder Ajaib Yada Piyamjomkwan dan Anderson Sumarli (CNBC Indonesia/Bernhart Farras)

Kedua anak muda 'ajaib' ini dipertemukan di kampus Stanford University, California (AS). Keduanya pun berhasil membawa Ajaib menjadi satu-satunya perusahaan rintisan (startup) di Asia Tenggara yang turut serta dalam event inkubator startup global bertajuk Y Combinator di Silicon Valley, AS.

Pada Agustus 2018, Ajaib lalu disuntik pendanaan awal oleh Y Combinator senilai US$ 120.000 atau setara dengan Rp 1,68 miliar (asumsi kurs Rp 14.000/US$) untuk mengembangkan purwa rupa (prototype) apps investasi mereka.

Ajaib adalah platform investasi yang mengincar investor baru pasar modal (khususnya produk reksa dana) sebagai target pasar, berhasil mendapatkan beberapa ribu nasabah dalam 3 bulan pertama tahun ini.


Saat ini perseroan bahkan sudah bekerja sama dengan beberapa manajer investasi seperti PT CIMB-Principal Asset Management, PT Ciptadana Asset Management, PT RHB Asset Management Indonesia, PT Henan Putihrai Asset Management, dan PT Trimegah Asset Management.


Hadirnya Ajaib yang membidik investasi milenial lewat ponsel ini adalah cermin mulai menggeliatnya industri reksa dana yang sudah tumbuh sejak 2008, tapi relatif bergerak di bawah tanah.

Keberadaan startup berbasis finansial technology (fintech) yang menjadi Agen Penjual Reksa Dana (Aperd) memunculkan harapan bahwa industri ini bisa tumbuh eksponensial.

Selain Ajaib, saat ini ada lebih dari 10 fintech Aperd yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Belum lagi tambahan kehadiran marketplace e-commerce dan bahkan aplikasi peer-to-peer lending (P2P) yang juga menawarkan jasa sebagai gerai penjualan dari reksa dana seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Investree.

Di tengah makin menjamurnya fintech Aperd, pelaku utama reksa dana di pasar modal yaitu perusahaan efek dan bank, juga tak kalah giat melebarkan sayap demi meraup untung dari penjualan produk investasi. Strategi ini diyakini menjadi pintu ke pasar modal yang lebih bersahabat dan lebih sederhana bagi investor awam.  

Aperd FintechNama LainAfiliasi-PendiriFitur Unggulan
PT Bareksa Portal InvestasiBareksaSyailendra Asia dkkSupermarket, data
PT Bibit Tumbuh BersamaBibitWellson Lo, StockbitManajemen portofolio Markowitz
PT Investamart Principal OptimaInvestamartInfovesta-Bina Insan, baru dijual 
PT Star Mercato CapitaleTanam DuitM Hanif dkkButik investasi, jual SBR dan ST
PT Raiz Invest IndonesiaRaiz InvestRaiz Invest Australia, Instreet Investment Ltd, Acorns USRound up investment
PT Supermarket Reksa Dana IndonesiaSMARDDjoko Indarto, Joseph S Sosrodjojo, Jason Indarto 
PT Takjub Teknologi IndonesiaAjaibAnderson Sumarli & Yada PiyajomkwanManajemen portofolio Markowitz, referral fee
PT Xdana Investa IndonesiaXdanaDenny Thaher dkk 
PT Nusantara Sejahtera InvestamaInviseeGrup Jatis-Indivara 
PT Moduit Digital IndonesiaModuitJeffry LomantoReferral fee, asset allocation
Sumber: OJK, diolah


Bisnis penjualan produk reksa dana ini begitu menggiurkan, apalagi jika ada embel-embel marketing: tanpa biaya pembelian.

Slogan itu bukan hoax atau tipu-tipu, karena inovasi industri memungkinkan investor tidak dibebankan ongkos pembelian (subscription fee) sebesar 1%-2% seperti di perbankan atau sekuritas.

Di era sekarang ini, alih-alih mengenakan lagi fee pembelian, fee yang dikantongi si penjual berasal dari pemotongan biaya pengelolaan dana (management fee) yang semuanya seharusnya menjadi hak manajer investasi.

Jadi, tergantung sebesar apa daya tawarnya, setiap pembelian dari portal atau web-nya akan memotong 20%-70% management fee manajer investasi, yang besarannya 0,5%-2% per tahun dari dana kelolaan.

Jika satu agen penjual fintech menghasilkan penjualan reksa dana dalam setahun Rp 50 miliar, maka management fee yang dikenakan manajer investasi adalah Rp 125 juta-Rp 500 juta, dan dengan dikalikan 30%-70% maka yang didapat si Aperd adalah Rp 37,5 juta-Rp 350 juta.

Belum lagi pertumbuhan investor dari masing-masing fintech. Contoh, Moduit sudah menggandeng ratusan pengguna sejak Oktober, Ajaib juga mampu mendapatkan ribuan pengguna sejak Januari, dan aplikasi lainnya yakni Bibit mampu meraih 5.000 pengguna dalam 2 pekan sejak akhir Januari 2019.

Dengan minat besar dari sisi penjual dan pembeli tersebut, tampaknya tak sulit bagi National Campaign Reksa Dana yang digagas Januari lalu bisa membukukan hasil yang maksimal. Ini adalah kampanye yang digagas Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) bersama dengan Asosiasi Agen Penjual Efek Reksa Dana (ABAPERDI).

Namun, tentu perlu cara lain agar kampanye ini menciptakan keajaiban untuk membuat masyarakat berinvestasi di reksa dana dan pasar modal.

Sosialisasi Masih Menjadi Kunci
Selain aturan permodalan yang lebih murah, dari sisi pelaku pasar, pelaku pasar fintech menilai kehadiran mereka bukanlah disrupsi negatif bagi reksa dana. Namun justru kehadiran mereka bisa lebih menggemakan sosialisasi lebih masif dan bergaung di penjuru jagad.

"Apalagi saat ini syarat modal Aperd fintech juga rendah, hanya Rp 500 juta, tidak seperti perusahaan efek yang minimal Rp 25 miliar," kata Mohamad Hanif, CEO start-up investasi PT Star Mercato Capitale yang mengembangkan aplikasi (apps) Tanam Duit.

"Namun, tetap saja, pekerjaan rumah yang utama adalah sosialisasi dan membuat investor potensial mentransfer dana pembelian," ujar mantan Ketua APRDI tersebut.

Setelah sosialisasi, katanya, apapun strategi dari penjual reksa dana, fitur secanggih apapun sebuah apps, hal yang paling utama adalah membuat investor potensial mentransfer dana untuk membeli reksa dana. Kalau belum, sosialisasi sebaik dan semasif apapun kepada investor potensial, maka tetap saja mereka masih menjadi investor potensial, bukan dan belum menjadi investor beneran.

Dia menilai fenomena tren penurunan batas minimal investasi di reksa dana, dari yang dulunya puluhan juta rupiah menjadi tinggal Rp 10.000 juga turut mendukung iklim investasi di dalam negeri dan menunjukkan semakin terbukanya investasi pasar modal bagi publik.

"Untuk gimmick promosi tentu baik saja, misalnya untuk hadiah, tetapi untuk tujuan investasi juga jangan sekecil itu karena hasil investasinya juga sangat kecil."

Anderson Suharli, CEO Ajaib, mengatakan jumlah minimal investasi yang sangat rendah itu pun memungkinkan investor bisa memiliki bauran alokasi aset investasi yang baik dengan jumlah hanya Rp 400.000.

Selain tren yang membuat investasi reksa dana lebih terjangkau, dia juga menilai ke depannya pasar reksa dana Indonesia akan lebih terbuka dan masih memiliki potensi besar karena dua hal.

Pertama
, karena penetrasi investasi pasar modal masih sangat kecil. Kedua, reksa dana masih dapat menghasilkan kinerja keuntungan (return) yang lebih besar dibanding indeks atau reksa dana yang dapat ditransaksikan di bursa atau ETF (exchange traded fund).

"Potensi pasar masih cukup besar, dan kalau saja masing-masing Aperd berbagi kue dan mendapatkan 10% dari masyarakat yang belum memiliki investasi di pasar modal, maka akan sebuah kemajuan bagi industri dan menambah jumlah investor," kata Anderson

Fenomena Startup Investasi: Ajaibnya Inovasi dan DisrupsiFoto: Alec Syafrudin/KSEI.co.id

Terkait dengan jumlah investor pasar modal, Syafruddin, Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), justru berpendapat jumlah nasabah pasar modal sudah meningkat pesat.

Dia menilai saat ini jumlah investor pasar modal sudah tumbuh signifikan, naik 8% sejak akhir 2018 menjadi 1,79 juta nomor tunggal identitas investor (single investor identification/SID) per 10 April. Angka SID itu terdiri dari 746.409 SID reksa dana, 649.249 SID saham dan obligasi, serta 397.392 SID irisan keduanya.

Di situs KSEI terlihat sudah ada 1,15 juta sub rekening efek yang tercatat di C-Best per Maret, yang baru mencatat sub rekening untuk investor saham, obligasi, ETF, dan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) saja. Jumlahnya sudah naik 36,55% dari Maret 2018.





Selain itu, OJK juga sudah merilis aturan 'ajaib' yang dapat dapat melipatgandakan pertumbuhan jumlah investor pasar modal tadi. Aturan tersebut adalah Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 6/SEOJK.04/2019 tentang Pedoman Pembukaan Rekening Efek Nasabah dan Rekening Dana Nasabah Secara Elektronik Melalui Perusahaan Efek yang Melakukan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek.

"Aturan itu memungkinkan tahapan pengenalan konsumen (know your consumer/KYC) bisa dialihkan dari sekuritas ke perbankan atau pihak ketiga. Selain itu, pembukaan rekening efek juga sudah bisa menggunakan tanda tangan digital sehingga tidak perlu bertemu langsung yang membutuhkan waktu," kata Alec, panggilan akrabnya. 

Pemangkasan proses itu membuat tidak lagi dibutuhkannya tanda tangan basah dan formulir berbentuk kopi keras (hard copy). 

Fenomena Startup Investasi: Ajaibnya Inovasi dan DisrupsiFoto: Ist


Junior Investor Program dan Inovasi Lain
Selain itu, Alec mengatakan sudah ada inisiatif dari OJK dan self regulatory organization (SRO) bursa, termasuk KSEI, untuk menstruktur SID direct dan SID indirect. Dengan begitu bisa membuka peluang adanya rekening SID induk dan tentunya investor di bawah umur, atau biasa disebut Junior Investor Program.

"Karena itu kami mengundang manajer investasi dan sekuritas, bersama-sama membentuk mekanismenya, supaya seiring semua dan bisa membuat basis investor domestik, seperti ke reksa dana, membludak."

Keajaiban memang dapat saja terjadi, tetapi tentu tidak akan sekonyong-konyong menunjukkan hasil jika tidak ada yang menjalankan seluruh program.

Alec membenarkan bahwa Junior Investor Program memang lebih cocok untuk membuka rekening reksa dana yang lebih pasif dan relatif tidak memiliki potensi penyalahgunaan, sehingga sangat besar kemungkinannya turut berkontribusi pada pertumbuhan reksa dana.

Belum lagi, tuturnya, dukungan dari 'anak-anak ajaib' dari 'planet fintech' tentu diharapkan dapat menggandakan jumlah investor seperti halnya penggandaan jumlah pengguna ponsel dan aplikasinya.

"Seharusnya pasar modal jangan takut dengan fintech, dan bukan tidak mungkin pelaku pasar modal juga meluaskan bisnis ke fintech di bidang keuangan lain," tegas Alec.

Keajaiban lain yang sudah muncul adalah mulai adanya perusahaan sekuritas yang menggodok bisnis dompet virtual dan alat pembayaran. Strategi inovasi sekuritas itu diharapkan dapat memperluas cakupan industri investasi.

Nah, satu per satu keajaiban sudah tercipta di pasar modal, tinggal mengonversi seluruh potensi menjadi pertumbuhan dana kelolaan atau jumlah investor pasar modal.

Semoga, semua semudah sim salabim!

TIM RISET CNBC INDONESIA

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading