Liputan Khusus

Perlukah Asuransi Kesehatan Jika Sudah Punya BPJS?

Investment - Arina Yulistara, CNBC Indonesia
29 April 2018 - 18:11
Perlukah Asuransi Kesehatan Jika Sudah Punya BPJS?
Jakarta, CNBC Indonesia- Untuk urusan jaminan kesehatan, tak sedikit masyarakat Indonesia yang bergantung pada BPJS. Dengan menggunakan layanan BPJS, mereka tidak lagi pusing memikirkan biaya dokter dan rumah sakit.

Ketika sudah punya BPJS, masih perlukah membeli asuransi kesehatan?




Perencana keuangan ternama Freddy Pieloor mengatakan bahwa saat sudah memiliki BPJS tak perlu lagi punya asuransi kesehatan lain. Menurut Freddy, BPJS sudah menutupi semua biaya dokter dan rumah sakit yang berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia dengan segala usia.

Meski demikian, penulis 'Money, Love, & Marriage' itu mengatakan kalau semua kembali ke pilihan. Jika memang mampu dan ingin memproteksi diri lebih baik lagi bisa mengikuti asuransi kesehatan.

"Nggak perlu kita asuransi kesehatan lagi tapi itu pilihan. Saya pikir BPJS sangat baik karena untuk semua warga Indonesia tidak terkecuali. Kalau untuk asuransi kesehatan, beli untuk orang yang mampu dan biasanya hanya meng-cover hanya usia produktif saja. Kalau sudah pensiun dan sakit-sakitan mana mau perusahaan asuransi cover," jelas Freddy saat dihubungi CNBC Indonesia.

Sementara perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie mengatakan bahwa asuransi kesehatan akan menjadi penting untuk orang yang mengedepankan pelayanan rumah sakit. Ini karena banyak orang masih kurang percaya dengan pelayanan yang diberikan oleh BPJS.

"BPJS kesehatan memberikan jaminan pelayanan kesehatan tapi level pelayanannya yang tidak dapat dipastikan. Sehingga punya askes tambahan menjadi penting bagi sebagian orang karena memudahkan dan memberi kepastian mendapat layanan sesuai yang diinginkan," ujar Prita.

Mengenai asuransi kesehatan, Prita juga menyarankan untuk membeli proteksi buat keluarga terutama anak. Jika memang memiliki kemampuan membayar premi tak ada salahnya anak mulai didaftarkan asuransi kesehatan, disarankan sejak lahir.

Ini dilakukan karena risiko sakit mulai timbul sejak buah hati tercinta lahir dan biaya perawatan anak tidaklah murah. Jika tidak memiliki asuransi pribadi minimal mendaftarkannya ke BPJS sebagai bentuk jaminan kesehatan anak.

BPJS kerap disalahgunakan?

Perencana keuangan ternama Freddy Pieloor mengatakan bahwa sifat orang Indonesia cenderung tidak mau rugi dalam urusan apa pun termasuk BPJS. Mereka yang merasa membayar iuran BPJS setiap bulan tak ingin pengeluaran tersebut sia-sia sehingga berusaha memanfaatkannya untuk kesejahteraan pribadi.

Hal ini disesalkan oleh Freddy sehingga bisa menghambat orang yang seharusnya mendapatkan bantuan dana. "Banyak orang karena ikut BPJS mereka rajin ke rumah sakit. Itu sebenarnya yang buat antre panjang karena masyarakat Indonesia nggak mau rugi, batuk sedikit ke dokter, sehingga yang seharusnya mendapatkan bantuan bisa jadi terlambat," kata Freddy saat dihubungi CNBC Indonesia.

Freddy mengingatkan untuk menggunakan BPJS secara bijaksana. Coba peduli dengan orang lain terutama bagi yang masuk golongan ekonomi mampu.

Sementara Kepala Humas BPJS Kesehatan Nopi Hidayat menjawab pengguna BPJS antara ekonomi mampu dan berpenghasilan rendah jumlahnya seimbang. Berdasarkan data BPJS, peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang menerima bantuan iuran dari pemerintah pusat sebanyak 92.254.546 jiwa dan penerima bantuan pemerintah daerah mencapai 24.766.236.

Sisa dari total keseluruhan yang lebih dari 196 juta jiwa adalah peserta yang bayar iuran sendiri.
"Sampai dengan 20 April 2018, jumlah peserta JKN-KIS telah mencapai 196.272.696 jiwa atau lebih dari 75% dari total penduduk Indonesia. Jadi untuk bauran kepesertaaannya saat ini bisa dikatakan cukup seimbang," ujar Nopi saat dihubungi CNBC Indonesia


Tak Semua Rumah Sakit Layani BPJS

Untuk pertimbangan lainnya, juga perlu diketahui bahwa tidak semua rumah sakit bisa melayani BPJS. Hingga saat ini, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencatat lebih dari 2.300 rumah sakit di Indonesia telah bermitra. Masih ada sekitar 400 rumah sakit swasta yang belum menyediakan layanan BPJS. Mengapa demikian?

Soemaryono Rahardjo, SE, MBA, selaku perwakilan dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mengatakan bahwa rumah sakit swasta semua modal sendiri tidak dibantu pemerintah. Berbeda dengan rumah sakit negeri yang memiliki berbagai subsidi termasuk pembelian alat hingga gaji SDM.

Soemaryono juga menuturkan kalau rumah sakit swasta tidak memiliki kewajiban untuk ikut program BPJS. "Modal tinggi, kita juga modal sendiri. Swasta kan tidak wajib ya jadi harus ada segmen pasar yang tidak ikut BPJS. Kami lihat pasien dengan BPJS kan sudah terbantu benar sekarang. Walau ada yang masih belum ada BPJS tapi kami dari swasta juga sering membuat charity," ujar Soemaryono kepada CNBC Indonesia saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Tidak hanya itu, menurut Soemaryono fasilitas BPJS juga belum menutupi harga pengeluaran rumah sakit yang tinggi. "Walaupun sudah ada BPJS tapi harga cost rumah sakit belum, apalagi dengan bayaran yang tertunda dan segala macam," tambahnya.

Sementara Kepala Humas BPJS Kesehatan Nopi Hidayat menanggapi hal ini dengan memberikan data dari Kementerian Kesehatan. 80% fasilitas kesehatan di Indonesia sudah bekerjasama dengan BPJS.  Sebagian besar rumah sakit berasal dari pihak swasta. Ini artinya rumah sakit swasta yang belum bekerjasama bukan berarti enggan ikut bermitra namun ada sejumlah faktor yang memenuhi syarat sehingga kerjasama antara pihak keduanya tertunda. (gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading