Gunung Api di Jawa Meletus, 341 Korban Jiwa-Ada Warga Tewas Saat Sujud
Jakarta, CNBC Indonesia - Sikap berbeda diambil Mbah Maridjan ketika Gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Alih-alih ikut evakuasi, juru kunci Merapi itu justru memilih bertahan. Ia bahkan menolak permintaan Sultan Hamengkubuwana X untuk meninggalkan kawasan yang selama ini dijaganya.
Keputusan tersebut berakar pada keyakinan Mbah Maridjan terhadap amanat yang diberikan Sultan Hamengkubuwana IX, ayahanda Hamengkubuwana X. Ia diminta untuk menjaga Merapi. Sebagai penjaga, tentu saja ia tidak mau meninggalkan tugas. Atas dasar itulah, permintaan evakuasi tidak serta-merta membuatnya mengurungkan niat untuk tetap tinggal.
Terlebih, bagi Mbah Maridjan, Merapi juga memiliki makna lebih dalam daripada sekadar gunung berapi yang bisa meletus sewaktu-waktu. Gunung itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
"Merapi kuwi mbangun", ungkap Mbah Maridjan yang berarti "Merapi itu membangun", dikutip dari paparan "The Animal That Laughs at Itself False False Alarms about the End of 'Man'".
Lewat keyakinan itu, dia tidak ingin meninggalkan Merapi sejengkal pun. Keyakinan itu seolah mendapat pembenaran pada 2006. Ketika Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas, Mbah Maridjan menolak evakuasi dan memilih bertahan di lereng gunung. Ia selamat dari kejadian tersebut karena arah angin yang tidak membawa awan panas menuju tempatnya berada.
Empat tahun kemudian, situasinya berubah. Pada 26 Oktober 2010, awan panas menerjang kawasan Kinahrejo, tempat tinggal Mbah Maridjan di lereng selatan Merapi. Sang juru kunci meninggal dunia bersama puluhan korban lainnya. Ia ditemukan tidak bernyawa dalam posisi bersujud, mengakhiri hidupnya di kawasan yang selama ini menjadi tempat pengabdiannya.
Erupsi Merapi Memuncak pada Awal November
Satu Indonesia gempar ketika Mbah Maridjan ditemukan tewas. Namun, aktivitas gunung sebenarnya belum mencapai puncak. Baru setelahnya, Merapi justru memasuki fase erupsi yang jauh lebih eksplosif.
Letusan ini memicu awan panas yang meluncur ke lereng selatan. Pergerakan magma yang cepat dan perubahan kubah lava turut mendorong aktivitas gunung berkembang menjadi lebih berbahaya.
Puncaknya terjadi pada malam 4 hingga 5 November 2010. Kolom abu menjulang hingga sekitar 17 kilometer ke atmosfer, sementara awan panas meluncur sejauh sekitar 15-16 kilometer melalui lembah Kali Gendol. Jangkauan tersebut jauh melampaui fase awal erupsi dan memperluas wilayah yang terancam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam catatan "Data Bencana Indonesia Tahun 2010" mengungkap, besarnya letusan membuat pemerintah memperluas zona bahaya hingga radius 20 kilometer. Ratusan ribu penduduk harus meninggalkan rumah mereka untuk menghindari ancaman awan panas dan material vulkanik. Rangkaian letusan ini tercatat sebagai salah satu erupsi Merapi paling dahsyat dalam sejarah lebih dari satu abad.
Akibatnya, BNPB mencatat 341 orang meninggal dunia, 368 orang dirawat di rumah sakit, dan 61.154 orang dievakuasi. Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp4,23 triliun, termasuk kerusakan pada 3.307 bangunan.
Setelah erupsi dahsyat pada 2010, Gunung Merapi kembali mengalami erupsi magmatis pada 11 Agustus 2018 yang berlangsung hingga September 2019. Aktivitasnya berlanjut dengan serangkaian letusan eksplosif pada 2020, sebelum memasuki fase erupsi efusif pada Januari 2021 yang ditandai pertumbuhan kubah lava, guguran lava, dan awan panas guguran.Â
Meski erupsi besar seperti pada 2010 belum kembali terjadi, Merapi tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang perlu diwaspadai. Perubahan aktivitasnya terus dipantau untuk mengantisipasi ancaman bagi masyarakat yang tinggal di lerengnya.
(mfa/mfa)