Malam-Malam Banjir-Longsor Hancurkan Kota, Banyak Mayat Bergeletakan
Jakarta, CNBC Indonesia - Padang dilanda banjir besar akibat hujan berintensitas tinggi pada Sabtu (10/10/2026) dan Minggu (11/102026). Tepat seabad lalu, bencana serupa pernah menimpa masyarakat Padang. Pada 8-9 April 1926, hujan deras bak air bah yang mengguyur selama berjam-jam membuat sungai meluap, permukiman terendam, infrastruktur rusak, hingga membuat banyak mayat bergeletakan.Â
Menurut pemberitaan koran Sumatra-Bode (21 Mei 1926), hari itu hujan deras mengguyur Padang selama sekitar 12 jam, sejak pukul 18.00 hingga 06.00. Menurut kesaksian, di tengah hujan yang tak kunjung reda, warga mendengar suara gemuruh keras. Suara itu ternyata berasal dari langit dan aliran air yang meluap lalu bergerak deras menuju permukiman.
"Di malam yang gelap gulita, terdengar suara gemuruh banjir yang mengalir deras dari pegunungan," tulis laporan Sumatra-Bode.Â
Kerusakan pun tak terhindarkan. Derasnya aliran air lantas membuat sejumlah jembatan rusak atau hanyut, rumah dan pertokoan terendam, serta jalur kereta api terputus. Kanal banjir yang tak mampu menampung air kiriman dari pegunungan semakin memperparah keadaan. Air meluap dan menerjang bangunan serta permukiman di sepanjang alirannya.
Situasi semakin mencekam ketika listrik padam dan kota diliputi kegelapan.Â
"Hujan deras yang mengguyur kota kita tadi malam telah menimbulkan dampak yang merusak," demikian laporan De Gooi- en Eemlander (21 Mei 1926).
Saat banjir mulai surut, besarnya kerusakan dan jatuhnya korban jiwa terungkap. Menurut Tilburgsche Courant (13 Mei 1926), banjir merusak jalan dan jembatan, merendam toko serta gudang, dan mengganggu lalu lintas kereta api menuju dataran tinggi.
Sementara itu, Voorwaarts (11 Mei 1926) melaporkan sejumlah wilayah di sekitar Padang juga dilanda longsor dan banjir. Sebuah rumah tertimbun longsor hingga menewaskan seorang perempuan dan seorang anak. Laporan lain menyebut seorang perempuan dan anaknya terseret arus ketika menyeberangi jembatan hingga keduanya tewas tenggelam.
Berdasarkan laporan yang terbit saat itu, jumlah korban meninggal tidak diketahui. Hanya saja, pagi itu banyak mayat bergeletakan di tanah.Â
Besarnya dampak banjir juga tercermin dari kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Menurut Nieuwe Rotterdamsche Courant (17 Mei 1926), kerugian penduduk diperkirakan mencapai setengah juta gulden atau setara 2-3 ton emas.
Angka tersebut belum mencakup kerugian perusahaan ekspor Eropa dan perusahaan impor Tionghoa, yang masing-masing diperkirakan sebesar 25.000 gulden. Pemerintah kota juga menanggung kerusakan jalan dan fasilitas lainnya senilai 7.000 gulden, sedangkan kerugian pemerintah secara keseluruhan belum dapat diperkirakan.
Di sejumlah kawasan, air meninggalkan lumpur yang harus dibersihkan warga. Jalan-jalan bahkan terkikis hingga menyerupai dasar sungai. Banjir tidak hanya melumpuhkan aktivitas kota, tetapi juga menyisakan pekerjaan besar untuk memulihkan kawasan terdampak.
Setelah kabar bencana meluas, bantuan dari berbagai daerah di Hindia Belanda mengalir deras, termasuk dari tokoh-tokoh nasional yang mengirimkan dana untuk membantu pemulihan. Kini, hampir 1 abad kemudian, bencana serupa kembali terjadi dan menjadi pengingat bahwa wilayah ini masih menyimpan potensi bahaya serupa. Sejarah tersebut tetap relevan dan menjadi alarm penting mengenai urgensi mitigasi bencana.
(mfa/mfa)