CNBC Insight

Kabut Asap Beracun Kepung Kota, 20 Orang Tewas-Presiden Turun Tangan

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
28 October 2026 12:40
Pemandangan cakrawala Kota New York terlihat melalui lapisan asap kebakaran hutan di New York City, Amerika Serikat (AS), Kamis (16/72026). (REUTERS/Mike Segar)
Foto: Ilustrasi AS (REUTERS/Mike Segar)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabut asap beracun mengepung Kota Donora, Pennsylvania, Amerika Serikat. Akibatnya, 5.000-an warga atau 43% populasi jatuh sakit dan 20 di antaranya meninggal dunia dalam kejadian yang terjadi tepat hari ini 78 tahun lalu. 

Hari itu, Donora diselimuti kabut asap kekuningan yang sangat pekat hingga jarak pandang warga nyaris nol. Aktivitas masyarakat terganggu, sementara rumah sakit dipenuhi orang yang kesulitan bernapas. Satu per satu orang pun meninggal. 

Korban meninggal pertama tercatat dua hari setelah kejadian. Lalu beberapa hari setelahnya, 19 orang lainnya hilang nyawa. Sementara ribuan orang lain berbondong-bondong mendatangi rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Saking parahnya, pemerintah kota sampai meminta agar penduduk dengan gangguan nafas dan penyakit jantung langsung meninggalkan kota. Untungnya, kabut beracun itu baru mulai menghilang setelah hujan turun pada Minggu siang.

Salah satu sakti dan tenaga medis pada hari kejadian mengungkap jumlah korban bisa jauh lebih besar jika hujan tidak turun di hari itu.

"Jumlah korbannya akan mencapai 1.000 orang, bukan 20," ujar Dr. William Rongaus, dikutip dari Smithsonian Magazine. 

Gara-Gara Asap Pabrik

Datangnya kabut asap beracun ternyata berkaitan dengan aktivitas industri yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Donora. Kota yang berada di sepanjang Sungai Monongahela itu menjadi tempat operasional pabrik baja dan fasilitas peleburan seng.

Semua pabrik itu mengeluarkan berbagai polutan, termasuk gas beracun, logam berat, dan partikel halus. Parahnya, polutan tersebut tak bisa keluar dari kota alias terperangkap karena pergerakan udara yang terhambat.

Menurut riset "The Donora Smog Revisited: 70 Years After the Event That Inspired the Clean Air Act" (2018), ini terjadi karena kondisi geografis Donora yang berada di lembah sempit dan diapit tebing tinggi. Alhasil, polutan akhirnya menumpuk di dekat permukaan tanah selama beberapa hari hingga membentuk kabut asap yang membahayakan kesehatan warga.

Beberapa hari sebelumnya, warga sebenarnya sudah mengeluhkan kondisi kabut asap. Hanya saja, pemerintah kota tidak bisa berbuat banyak karena pabrik-pabrik itu menjadi tempat pencaharian warga. 

Setelah bencana, pemerintah mencatat 5.900 warga alias 43% populasi jatuh sakit. Lalu 20 di antaranya meninggal dunia. Kondisi tanaman, ternak dan sumber air juga sudah tercemar, sehingga kehidupan warga yang masih hidup terganggu. 

Tragedi ini kemudian membuat Presiden AS, Harry Truman, langsung turun tangan. Beberapa hari setelahnya, presiden langsung mengadakan rapat darurat dan berbagai konferensi. Hasilnya, AS memiliki aturan yang menegaskan keharusan kota menjaga udara bersih dengan beberapa indikator. Setelah kejadian ini, bencana kabut asap serupa akibat efek polutan pabrik tak terjadi lagi di AS. 

(mfa/mfa)

Most Popular
Features