PM Singapura Mau Baikan dengan RI, Lakukan Aksi Tak Terduga di Jakarta
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Singapura 1959-1990, Lee Kuan Yew, harus melakukan gestur diplomatik yang tak biasa demi memperbaiki hubungan dengan Indonesia. Saat berkunjung ke Jakarta pada Mei 1973, Lee mendatangi makam dua marinir Indonesia, Usman dan Harun, yang dihukum gantung atas perintahnya sendiri di Singapura pada 1968.
Langkah ini menimbulkan kontroversi di Singapura tetapi harus dilakukan Lee. Karena, negaranya membutuhkan Indonesia sebagai mitra strategis untuk membangun negaranya setelah berpisah dari Malaysia pada 1965. Tapi kala itu, upaya menjalin hubungan baik itu terhambat oleh kasus Usman dan Harun yang memicu ketegangan dengan Indonesia.
Kasus tersebut bermula pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pada 10 Maret 1965, Usman dan Harun ditugaskan melakukan pengeboman di Singapura, yang saat itu masih menjadi bagian dari Malaysia. Bom tersebut menewaskan tiga orang dan melukai 33 lainnya.
Keduanya kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Pada 1968, Usman dan Harun dieksekusi dengan cara digantung atas keputusan pemerintah Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew. Eksekusi tersebut memicu kemarahan di Indonesia dan membuat hubungan diplomatik kedua negara berada pada titik terburuk.
"Peristiwa itu menempatkan hubungan Indonesia-Singapura dalam posisi terburuk. [...] Menjelang hukuman gantung dilaksanakan, seluruh staf kedutaan Indonesia di Singapura dipulangkan, kecuali atase pertahanan dan beberapa staff lain," kenang diplomat Abdul Rachman Ramly dalam Pak Harto: The Untold Stories (2011).
Namun, situasi mulai berubah setelah Soeharto memimpin Indonesia. Berbeda dengan era Sukarno yang diwarnai konfrontasi dengan Malaysia, pemerintahan Soeharto lebih membuka ruang bagi kerja sama dengan negara-negara tetangga.
Lee Kuan Yew melihat peluang untuk memperbaiki hubungan tersebut. Ia merasa memiliki kesamaan pandangan dengan Soeharto dan berniat berkunjung ke Indonesia pada Mei 1973. Hanya saja, Soeharto memiliki satu syarat sebelum menyambut kedatangan perdana menteri Singapura tersebut. Lee harus menabur bunga langsung di makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
"Pak Harto mempersilakan PM Lee datang dengan syarat harus meletakkan karangan bunga langsung di makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata, bukan di tempat yang biasanya tamu negara meletakkan karangan bunga, di kaki tugu makam pahlawan," masih kata diplomat Abdul Rachman Ramly dalam Pak Harto: The Untold Stories (2011).
Lee memenuhi syarat tersebut. Ia mendatangi makam kedua marinir itu dan meletakkan karangan bunga. Bagi Lee, tindakan tersebut bukan sekadar penghormatan kepada orang yang telah dieksekusi, melainkan juga cara untuk meredakan ketegangan dengan Indonesia.
Dalam autobiografinya, From Third World to First (2000) Lee menjelaskan pertimbangan dari sudut pandang Jawa.
"Jika ingin membangun persahabatan sejati dengan Presiden Soeharto, episode seputar hukuman gantung terhadap dua marinir tersebut harus ditutup dengan sebuah gestur diplomatik yang mengakomodasi "keyakinan masyarakat Jawa mengenai jiwa dan hati nurani yang bersih," ungkap Lee.
Lee menilai gestur tersebut penting karena para jenderal Indonesia sangat menghargai tindakan semacam itu. Ia pun menyetujui permintaan Soeharto. Selain itu, demi membangun komunikasi yang lebih dekat, Lee bahkan mempelajari bahasa Indonesia agar dapat berbicara langsung tanpa bantuan penerjemah.
Kunjungan ke makam Usman dan Harun menjadi salah satu langkah penting dalam upaya memperbaiki hubungan kedua negara. Setelah peristiwa tersebut, hubungan Indonesia-Singapura berangsur-angsur membaik dan membuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat.
(mfa/sef)