Presiden Tewas Ditembak Orang Kepercayaan saat Makan Malam
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Korea Selatan Park Chung-hee tewas ditembak oleh orang kepercayaannya sendiri saat menghadiri jamuan makan malam. Peristiwa yang terjadi pada 26 Oktober 1979, tepat hari ini 47 tahun lalu, itu mengakhiri kekuasaan pemimpin yang berjasa dalam pembangunan ekonomi Korea Selatan, tetapi juga dikenal menerapkan pemerintahan otoriter.
Malam itu, Park menghadiri makan malam pribadi di sebuah rumah persembunyian milik Badan Intelijen Pusat Korea (KCIA) di Gungjeong-dong, Distrik Jongno, Seoul. Dia datang bersama Direktur KCIA Kim Jae-gyu.
Mengutip BBC International, suasana perjamuan mendadak berubah menjadi tragedi ketika Kim mengeluarkan pistol dan menembak Park. Kepala Dinas Keamanan Kepresidenan Cha Ji-chul, yang bertanggung jawab atas keselamatan presiden, juga tewas dalam insiden tersebut.
Kekerasan tidak berhenti di dalam ruangan. Di luar, para pengawal Kim turut melepaskan tembakan ke arah pasukan pengamanan presiden yang masih bertahan. Dalam hitungan menit, enam orang tewas di lokasi kejadian, termasuk Presiden Park.
Setelah membunuh Park, Kim bergerak menuju markas besar Angkatan Darat Korea Selatan untuk meminta penetapan darurat militer. Namun, langkah tersebut dilakukan ketika sejumlah petinggi militer belum mengetahui bahwa orang yang datang membawa permintaan itu justru merupakan pembunuh presiden.
Situasi kemudian berbalik ketika petinggi militer memperoleh informasi mengenai kejadian tersebut. Kim akhirnya ditangkap dan dibawa untuk menjalani proses hukum.
Dalam persidangannya, mengutip situs Korean Daily, Kim mengaku tindakannya merupakan bagian dari perjuangan untuk demokratisasi Korea Selatan. Namun, sebagaimana disorot dalam berbagai pembahasan mengenai kasus tersebut, klaim itu menimbulkan pertanyaan. Sebab Kim merupakan bagian dari lingkaran elite pemerintahan Park yang otoriter, bukan tokoh yang dikenal aktif dalam gerakan demokrasi.
Kematian Park lantas menyisakan duka bagi jutaan warga Korea Selatan. Sebab, Park sendiri dianggap sebagai pemimpin yang sukses mendorong transformasi ekonomi Korea Selatan. Dalam laporan Reuters, di bawah kepemimpinannya, Park berhasil membangun industri dan infrastruktur yang menjadi fondasi kebangkitan ekonomi Negeri Ginseng.
Hanya saja, pembangunan tersebut juga berjalan dengan pembebasan kebebasan politik. Pemerintahan Park sering menekan kelompok oposisi, membatasi kebebasan pers, serta menggunakan aparat keamanan untuk menghadapi pihak-pihak yang dianggap mengancam kekuasaannya.
Pada sisi lain, kematian Park juga menyimpan ironi tersendiri. Setelah dua kali lolos dari ancaman pembunuhan agen Korea Utara, Park justru meninggal di tangan Kim Jae-gyu, pejabat intelijen yang berada di lingkaran kekuasaannya sendiri.
(mfa/luc)