Pangeran Jawa Sobek Ijazah SMA di Depan Atasan & Tinggalkan Istana
Jakarta, CNBC Indonesia - Anak raja Jawa bernama Soerjopranoto mengambil keputusan radikal. Ia melabrak atasannya, menyobek ijazah sekolah yang diperolehnya dengan susah payah, meninggalkan pekerjaan bergengsi, dan memutuskan keluar dari lingkungan istana karena kesal melihat tindakan sewenang-wenang pemerintah kolonial Belanda.
Peristiwa itu terjadi pada 1914. Perkara dimulai ketika pemerintah kolonial memecat Asisten Wedana Temanggung karena diketahui bergabung menjadi anggota Sarekat Islam (SI)
Mendengar perlakuan tersebut, Soerjopranoto yang kala itu menjabat Kepala Dinas Pertanian Wonosobo buru-buru datang untuk menuntut keadilan. Ia bahkan langsung melabrak atasannya, yakni Asisten Residen Banyumas.
Adu mulut sengit pun terjadi. Namun, setelah berdebat, Soerjopranoto menyadari bahwa berdebat dengan aparat kolonial tidak akan mengubah keadaan.
"Di saat itu, juga ia keluarkan Surat Pengangkatan Jabatan dan Surat Ijazah dari 'MiddelbareLandbouwschool' untuk disobek-sobek di hadapan pembesar kolonial," ungkap Soerjopranoto dalam autobiografinya berjudul Raja Mogok: R.M Soerjopranoto (1983).
Pada masa itu, Middelbare Landbouwschool merupakan sekolah menengah atas pertanian dan tidak semua orang bisa menempuh pendidikan tersebut. Namun, Soerjopranoto memilih merobek dokumen penting itu di hadapan pembesar kolonial sembari berkata:
"Sejak detik ini aku tidak sudi lagi bekerja untuk pemerintah Belanda!".
Tindakan berani itu disaksikan sang istri, Jauharin Insyiah Soerjopranoto. Setibanya di rumah, perempuan itu dengan tenang dan sabar memunguti sobekan-sobekan ijazah tersebut lalu menempel-nempelkannya kembali.
Langkah itu dilakukan bukan karena berharap suaminya kelak kembali bekerja untuk pemerintah kolonial. Sang Nyonya Soerjopranoto bertindak atas kesadaran penuh untuk ikut mencatat perjalanan suaminya yang menempuh jalan perjuangan non-kooperasi dan non-kompromis.
"Aku ingin mendidik putra-putriku kelak mengenal watak seorang ksatria sejati," kata Soerjopranoto.
Aksi menyobek ijazah tersebut menjadi penanda bagi Soerjopranoto untuk meninggalkan pekerjaan prestisius sekaligus angkat kaki dari istana.
Padahal, pria kelahiran 11 Agustus 1871 tersebut merupakan anak tertua Pangeran Haryo Soerjaningrat dan kakak kandung Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hajar Dewantara.
Soerjopranoto sejatinya memegang garis keturunan untuk menjadi penguasa Kadipaten Pakualaman. Namun, akibat ayahnya mengalami kebutaan, trah kekuasaan tersebut terputus sehingga ia gagal menjadi raja.
Meski demikian, status bangsawan tetap membuatnya kaya raya. Hanya saja, didikan sang ayah yang menanamkan rasa hormat kepada sesama membuat Soerjopranoto sejak kecil terbiasa bergaul dengan anak-anak kampung yang miskin hingga empatinya tumbuh.
Ia menyadari kekayaan tidak ada gunanya jika rakyat sengsara akibat sistem segregasi Belanda. Ia bahkan pernah menangis melihat kuli perkebunan tebu hanya diupah 12 sen sehari, sementara sang mandor menerima 500 gulden sehari padahal hanya ongkang-ongkang kaki.
Setelah memilih bergabung dengan warga miskin demi mengadvokasi rakyat usai menyobek ijazah, Soerjopranoto memulai lagi dari awal. Pada dekade 1920-an, ia menjadi guru di sekolah Taman Siswa milik adiknya, Ki Hajar Dewantara.
Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997) mencatat, ia aktif di Boedi Oetomo hingga Sarekat Islam. Ia bahkan menjadi orang pertama yang berhasil memimpin demonstrasi pemogokan buruh di masa kolonial, hingga Belanda geram dan menjulukinya "raja mogok".
Idealismenya terus bertahan meski Indonesia telah merdeka pada 1945. Soerjopranoto konsisten hidup sederhana bersama warga miskin di luar istana sampai akhir hayat.
(mfa)