Presiden Diserang saat Parade Militer, Ditembak-Dilempar Granat
Jakarta, CNBC Indonesia - Peristiwa berdarah terjadi di Mesir saat parade militer besar-besaran. Presiden Anwar Sadat ditembak tentara yang membelot hingga tewas dalam kejadian pada 6 Oktober 1981, tepat hari ini 45 tahun lalu.
Hari itu, Sadat sedang menghadiri parade militer besar di Kairo. Perayaan megah tersebut digelar untuk memperingati keberhasilan pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez dan menembus barisan pertahanan Israel dalam Perang Yom Kippur tahun 1973.
Sadat duduk di tribun utama dan dijaga dengan pengamanan super ketat. Tak satu pun pihak curiga bakal terjadi insiden mematikan. Mengingat parade militer secara prosedur standar selalu menggunakan senjata tanpa peluru tajam.
Namun, pengawasan ketat itu jebol setelah pasukan militer disusupi oleh kelompok radikal. Saat iring-iringan kendaraan militer melintas di depan tribun, sebuah truk mendadak berhenti. Seorang perwira turun dari atas truk lalu memberikan hormat kepada Sadat.
Mengutip New York Times, Sadat lantas membalas hormat itu dengan berdiri. Namun, gestur hormat tersebut ternyata cuma siasat. Dalam hitungan detik, tiga granat dilemparkan ke arah tribun, disusul rentetan tembakan senapan otomatis dari arah truk. Suasana perayaan seketika berubah menjadi kekacauan massal. Sadat tumbang di tempat bersama sejumlah pejabat dan tamu undangan.
Sadat dilarikan ke rumah sakit dan sempat menjalani penanganan medis darurat, tetapi nyawanya tak tertolong. Sang presiden dinyatakan meninggal dunia pada hari yang sama.
Di lokasi kejadian, pihak keamanan langsung menahan Letnan Khalid Islambouli yang jadi otak penyerangan. Dia merupakan bagian dari kelompok radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok ini terbentuk sebagai reaksi keras atas langkah politik Sadat yang dinilai mengkhianati perjuangan rakyat Palestina dan garis keras negara-negara Arab.
Sebagai catatan, mengutip buku Anwar Sadat: visionary who dared (2013), pada 26 Maret 1979 Sadar menandatangani Perjanjian Damai Camp David bersama Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Perjanjian ini dipilih karena Sadat meyakini kekuatan militer tak lagi bisa mengalahkan Israel secara mutlak, sehingga jalan diplomasi menjadi pilihan paling realistis demi stabilitas kawasan.
Padahal, sejak berdirinya negara Israel pada 1948, Mesir konsisten menjadi salah satu pilar utama yang menentang zionisme. Negara ini berkali-kali terlibat perang terbuka melawan Israel, termasuk pada Perang Yom Kippur 6 Oktober 1973 ketika pasukan Mesir dan Suriah melancarkan serangan kejutan hingga meloloskan diri dari pengawasan intelijen AS dan menggemparkan dunia.
Atas dasar inilah, perjanjian damai memicu gelombang penolakan masif di dalam negeri. Kalangan militer hingga ulama garis keras merespons keras kebijakan tersebut hingga memicu lahirnya sel kelompok radikal yang merencanakan pembunuhan sang presiden.
Meski gerakan perlawanan sempat ditekan aparat, ideologi tersebut tetap menyusup ke tubuh militer melalui figur seperti Khalid Islambouli. Usai melancarkan aksinya dalam parade militer 1981, Islambouli ditangkap di lokasi kejadian, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi di tangan algojo pada 15 April 1982.