CNBC Insight

Gubernur Jawa Barat Nekat Naik Kapal Demi Lihat Anak Krakatau Meletus

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
09 September 2026 11:40
Purbaya Sebut Stimulus Ekonomi Erupsi Anak Krakatau Belum Perlu
Foto: CNBC INDONESIA
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan Gunung Anak Krakatau pada 1927, sekitar 44 tahun setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883, menarik perhatian banyak orang. Salah satunya yang tidak mau ketinggalan adalah Gubernur Jawa Barat Willem Pieter Hillen (1876-1941).

Pada Januari 1928, Hillen mendatangi Anak Krakatau bersama istrinya, Residen Banten Putman Cramer, wartawan, dan peneliti. Rombongan berangkat pada Jumat malam, 20 Januari, menggunakan kapal uap pemerintah Wega yang saat itu berada di Tanjung Priok.

"Rombongan pelancong, yang berangkat pada Jumat malam, 20 Januari, dengan kapal uap pemerintah 'Wega' [...] terdiri dari Gubernur Jawa Barat, Bapak WP Hillen, istrinya, dan Residen Bantam, Bapak Putman Cramer," tulis koran Bataviaasch Nieuwsblad (24 Januari 1928).

Perjalanan tersebut dilakukan ketika Anak Krakatau sedang aktif. Menurut arsip koran De Locomotief (20 Januari 1928), selama sepekan di Januari, gunung tersebut mengalami letusan-letusan kecil berulang kali. Aktivitas itu diduga berasal dari kawah bawah laut yang baru aktif.

Atas dasar itulah, Gubernur Jawa Barat dan rombongan melakukan lawatan ke sana. Setelah beberapa hari berlayar dari Jakarta, rombongan akhirnya mulai melihat tanda-tanda aktivitas vulkanik dari kejauhan.

Pertama, dari arah ujung utara gunung yang telah runtuh, terlihat gumpalan uap tebal membumbung ke udara.

"Uap itu tebal, berminyak seperti endapan dari percobaan kimia. Benda itu sangat mudah bergerak dan jelas terdorong ke atas dengan kekuatan yang luar biasa. Berkali-kali, seperti disebabkan oleh alat peniup udara yang sangat besar, tepat di belakang Pulau Panjang itu," tulis wartawan yang ikut dalam rombongan, dikutip dari Haagsche courant (20 Februari 1928).

Pemandangan itu semakin jelas setelah kapal Wega mengitari sudut selatan Pulau Panjang dan bergerak ke depan Pulau Terpencil. Dari posisi tersebut, rombongan bisa melihat langsung apa yang terjadi di permukaan laut.

Tiba-tiba, massa hitam pekat menyembur dari laut. Material itu melesat ke atas sebelum jatuh kembali dan meninggalkan gundukan putih di permukaan air. Dengan teropong, rombongan dapat melihat yang terlontar bukan sekadar air atau uap, melainkan bongkahan lava berukuran besar yang berpijar dan mengandung gas.

Sementara air laur seketika menjadi mendidih. Permukaannya bergelembung, bergelombang, dan mengeluarkan uap. Warna air pun berubah-ubah, dari gelap menjadi biru pucat, kehijauan, hingga kuning seperti belerang di dekat pusat aktivitas.

Pengamatan yang dilakukan rombongan tersebut sejalan dengan catatan peneliti Dr. Stehn yang menunjukkan bahwa aktivitas Anak Krakatau memang sedang sangat intens. Pada 15 Januari 1928, dalam empat jam pengamatan, tercatat 217 letusan, dengan 18 di antaranya mencapai ketinggian lebih dari 250 meter.

Sehari kemudian, jumlahnya melonjak menjadi 380 letusan, termasuk 29 letusan yang mencapai lebih dari 250 meter. Pada 17 Januari, masih tercatat 55 letusan dengan ketinggian lebih dari 250 meter. Tidak berhenti di situ. Pada Sabtu pagi sekitar pukul 07.30, salah satu letusan bahkan melontarkan material hingga ketinggian 1.200 meter.

Namun, semua yang dilihat rombongan pada siang hari ternyata belum seberapa dibandingkan pemandangan ketika malam tiba.

Ketika kapal berlabuh, rombongan kembali melihat kawasan letusan. Kali ini, dalam gelapnya malam, kawasan tersebut berubah menjadi lautan cahaya merah. Bongkahan lava pijar terlontar dari laut dan melesat ke udara seperti bom magnesium. Ketika meledak, material itu menghasilkan cahaya putih terang yang menerangi permukaan laut.

"Dan kami, di atas kapal Wega, yang berlabuh di Pulau Panjang tidak jauh dari kawah, dapat menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Mengerikan!," ungkap Haagsche courant (20 Februari 1928).

Bagi rombongan Hillen, perjalanan itu akhirnya bukan sekadar kunjungan untuk melihat gunung api baru. Mereka menyaksikan dari atas kapal bagaimana Krakatau, yang pernah menghancurkan Selat Sunda pada 1883, kembali menunjukkan kekuatannya, kali ini melalui letusan bawah laut yang melontarkan lava pijar hingga ratusan meter ke udara.

(mfa/wur)

Most Popular
Features