CNBC Insight

Geger Mantan Menteri RI Terciduk Ngontrak di Rumah Kecil

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 08:20 WIB
Foto: PHK massal berantai dan tutupnya pabrik di sektor padat karya berefek berantai pada sejumlah usaha di kawasan pabrik di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang menganggap mantan pejabat negara akan menikmati masa pensiun dengan hidup berkecukupan. Namun anggapan itu tidak berlaku bagi Mohammad Natsir.

Natsir sebenarnya bukan orang biasa-biasa saja. Dia pernah menjadi Perdana Menteri ke-5 Indonesia saat negara masih menganut sistem parlementer, ketika perdana menteri menjadi kepala pemerintahan, sementara presiden berperan sebagai kepala negara. Sebelumnya, dia juga pernah menjabat Menteri Penerangan dan Menteri Pertahanan.

Meski pernah menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan, Natsir tidak menjalani kehidupan mewah. Setelah tak lagi berkuasa, ia bahkan tinggal di rumah kontrakan berukuran kecil. Kisah ini diungkap anak-anaknya dalam buku Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim (2016).


"Keluarga menjalani 'kehidupan nomaden', terus berpindah kontrakan dari paviliun di Jl. Surabaya sampai rumah petak di Jl. Juana di belakang Jl. Blora, Jakarta Pusat. Rumah itu terdiri atas satu kamar tidur, ruang tamu kecil dan ruang makan merangkap dapur."

Kondisi tersebut bermula setelah Natsir terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemerintahan Soekarno menganggapnya sebagai pemberontak sehingga ia ditahan.

Selama menjalani masa penahanan itulah, keluarganya hidup berpindah-pindah di rumah kontrakan. Bahkan setelah dibebaskan pada 1966, Natsir juga harus berdiam diri di rumah kontrakan itu karena belum memiliki rumah sendiri sampai memperoleh tempat tinggal tetap.

Membeli rumah pun bukan perkara mudah baginya. Akibat tidak memiliki cukup uang, Natsir harus meminjam dana dari sejumlah sahabat. Pinjaman itu kemudian dicicil selama bertahun-tahun hingga lunas. Rumah yang berhasil dibelinya berada di Jalan Jawa No. 46, yang kini menjadi Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta.

Kesederhanaan Natsir sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum ia menjadi perdana menteri. Saat menjabat Menteri Penerangan pada 1946, ia belum memiliki rumah sendiri dan menumpang di kediaman seorang sahabat di kawasan Tanah Abang.

Penampilannya pun jauh dari kesan pejabat elite. Ia dikenal sebagai menteri yang mengenakan jas penuh tambalan. Lalu, ia juga tidak punya mobil mewah. Rumahnya pun kusam, tidak seperti menteri lain.

Ini terjadi karena Natsir memandang jabatan bukan alasan untuk mengejar kemewahan. Ia memilih menjalani hidup sederhana dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

"Cukupkan yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat," kata pria kelahiran 1908 itu.

Prinsip itulah yang ia pegang sepanjang hidupnya. Meski pernah menduduki jabatan tertinggi dalam pemerintahan, Natsir tidak menjadikan kekuasaan sebagai jalan untuk mengumpulkan harta. Bahkan setelah pensiun, ia tetap hidup sederhana, sebuah teladan yang wajib ditiru pejabat sekarang. 


(mfa/wur) Add as a preferred
source on Google