CNBC Insight

Anggaran Proyek Rp1,7 T Tak Cair, Presiden RI Marahi Menteri Ekonomi

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
06 July 2026 12:00
Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto. (JOHN GIBSON / AFP)
Foto: Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto. (JOHN GIBSON / AFP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden ke-2 RI, Soeharto pernah murka dan memarahi seluruh jajaran menteri ekonomi karena anggaran megaproyek Rp1,7 triliun yang tak kunjung dicairkan.

Proyek yang dimaksud adalah Proyek Asahan, hasil kerja sama Indonesia dengan sejumlah perusahaan Jepang yang ditandatangani pada 6 Juli 1975, tepat hari ini 51 tahun lalu.

Mengutip situs PT INALUM, Proyek Asahan merupakan proyek industri dan kelistrikan yang memanfaatkan aliran Sungai Asahan di Sumatera Utara sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk memasok kebutuhan pabrik peleburan aluminium. Pada masanya, proyek tersebut menjadi salah satu investasi terbesar di Indonesia dengan nilai mencapai 411 miliar yen atau sekitar Rp1,7 triliun.

Besarnya nilai investasi membuat Soeharto memberi perhatian khusus terhadap proyek tersebut. Dia menunjuk orang kepercayaannya sesama tentara, A.R. Soehoed, sebagai Ketua Otorita Proyek Asahan untuk mengawal pelaksanaannya.

Namun, setahun setelah kerja sama diteken, proyek justru menghadapi kendala. Anggaran yang dibutuhkan untuk menopang pembangunan tak kunjung turun dari pemerintah. Soehoed berulang kali menanyakan persoalan tersebut kepada para menteri terkait, tetapi tak kunjung memperoleh kepastian.

Akibat tak menemukan jalan keluar, Soehoed kemudian melaporkan persoalan itu kepada Presiden Soeharto. Sang presiden awalnya meminta Soehoed kembali berkoordinasi dengan para menteri ekonomi. Namun hasilnya tetap nihil.

"Tapi, saya minta sama Menko Ekuin, tidak ditanggap juga. Jadi, akhirnya saya datang lagi pada Pak Harto," ujar Soehoed seperti dituturkan ulang kepada Tjipta Lesmana dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa (2008).

Mendengar laporan tersebut, Soeharto kembali memastikan apakah berbagai upaya benar-benar sudah dilakukan.

"Kita berusaha saja enggak berhasil," jawab Soehoed.

Menurut penuturannya, wajah Soeharto seketika berubah merah. Presiden hanya memberi jawaban singkat dan meminta Soehoed datang kembali ke kediamannya di Jalan Cendana pada sore hari.

Saat tiba di Cendana, Soehoed mendapati dirinya tidak sendirian. Di ruangan itu telah hadir Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwana IX beserta seluruh jajaran menteri ekonomi.

Dalam pertemuan tersebut, Soeharto meluapkan kemarahannya kepada para pembantunya karena menganggap mereka tidak memberi perhatian serius terhadap proyek yang dinilai sangat penting bagi masa depan industri nasional.

"Saudara harus sadar bahwa Proyek Asahan ini penting sekali! Ini proyek jangka panjang, dan perlu ditunjang dengan anggaran yang cukup. Semua perhatikan ini!,"tegas Soeharto.

Menurut Soehoed, suasana ruangan langsung berubah tegang. Tak seorang pun berani menatap wajah presiden.

"Soehoed mengaku amat terperanjat melihat presiden membentak-bentak para menterinya," tulis Tjipta Lesmana.

Tak lama setelah pertemuan itu, anggaran untuk Proyek Asahan akhirnya mulai mengalir sehingga pembangunan dapat kembali dilanjutkan. Setelah hampir satu dekade dikerjakan, Soeharto meresmikan Proyek Asahan pada 6 November 1984.

Kerja sama Indonesia dengan konsorsium perusahaan Jepang berakhir pada 9 Desember 2013. Sejak saat itu, kepemilikan Proyek Asahan sepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia melalui BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).

(mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Presiden RI Tiba-Tiba Panggil Menteri Ekonomi ke Istana Jam 4 Pagi


Most Popular
Features