CNBC Insight

Bikin Geger! Hubungan Presiden RI Ini dengan Mantan Presiden Retak

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
23 June 2026 11:55
Gedung Istana Negara. (Dok. detikcom)
Foto: Gedung Istana Negara. (Dok. detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara presiden dan mantan presiden di Indonesia tak selalu berjalan harmonis. Salah satu keretakan paling terkenal terjadi antara Presiden ke-2 RI Soeharto dan penerusnya, Presiden ke-3 RI B.J. Habibie.

Seperti diketahui, Habibie merupakan salah satu orang kepercayaan Soeharto. Selama lebih dari dua dekade, dia menjadi bagian penting pemerintahan Orde Baru. Mulai dari Menteri Riset dan Teknologi hingga akhirnya dipercaya mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden pada Maret 1998.

Namun, hubungan erat itu berubah drastis setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 dan Habibie menggantikannya sebagai presiden. Menurut pengakuan Habibie dalam memoar berjudul Detik Detik Yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006), setelah pelantikan dirinya justru kesulitan bertemu dengan Soeharto. Berbagai upaya komunikasi tidak mendapat respons.

Pertemuan pun tak pernah terjadi. Kontak pertama keduanya setelah pergantian kekuasaan hanya berlangsung singkat melalui sambungan telepon pada 9 Juni 1998 saat Habibie mengucapkan selamat ulang tahun kepada Soeharto.

"Mengapa Pak Harto tidak bersedia bertemu atau berkomunikasi dengan saya sampai saat ini?," kenang Habibie saat menulis memoar tahun 2006. 

Belakangan diketahui, penolakan itu dipicu kekecewaan Soeharto terhadap sejumlah langkah politik yang diambil Habibie. Adik Soeharto, Probosutedjo, dalam memoar berjudul Saya dan Mas Harto (2010), mengungkapkan kekecewaan pertama muncul saat proses peralihan kekuasaan. Waktu itu, Soeharto menanyakan Habibie kesiapan menjadi presiden. Awalnya bilang tidak siap, tetapi kemudian menerima jabatan tersebut tanpa penolakan.

"Ini membuat kakak saya menjadi sangat kecewa," kenang Probosutedjo.

Keretakan semakin dalam ketika Habibie mengambil keputusan memberikan referendum bagi Timor Timur pada 1999. Kebijakan itu membuat Soeharto terkejut karena merasa Indonesia telah mengeluarkan pengorbanan besar untuk mempertahankan wilayah tersebut.

"Bagaimana dia bisa memutuskan ini! Dia tahu pengorbanan Indonesia yang sangat besar untuk Timor Timur," tegas Soeharto.

Belum berhenti di situ, hubungan keduanya makin memburuk saat pemerintahan Habibie membuka jalan bagi penyelidikan dugaan korupsi yang melibatkan Soeharto. Bagi mantan presiden itu, langkah tersebut dianggap sebagai pukulan yang sangat berat. Apalagi sampai memasukkan kasusnya lewat TAP MPR. 

"Baginya itu adalah sebuah penghinaan besar," tulis Probosutedjo.

Sejak saat itu, hubungan Soeharto dan Habibie praktis tidak pernah pulih. Keduanya tak lagi bertemu secara langsung. Bahkan ketika Habibie beberapa kali berupaya bersilaturahmi dan menjenguk Soeharto yang sakit, upaya tersebut disebut tidak mendapat sambutan hingga Presiden ke-2 RI wafat pada Januari 2008.

(mfa/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Ekonomi RI Terpuruk, Presiden AS Telepon dan Desak Presiden RI Ini


Most Popular
Features