CNBC Insight

Pria Asal Makassar Diangkat Jadi Menteri Keuangan Thailand

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
08 June 2026 17:00
Wat Phra Kaeo, Temple of the Emerald Buddha and the home of the Thai King. Wat Phra Kaeo is one of Bangkok's most famous tourist sites and it was built in 1782 at Bangkok, Thailand.
Foto: Getty Images/iStockphoto/pigphoto

Jakarta, CNBC Indonesia - Jabatan menteri keuangan di dalam pemerintahan biasanya diisi oleh putra-putri terbaik suatu bangsa. Kriteria ini penting karena menteri keuangan bertanggung jawab mengelola penerimaan dan pengeluaran negara.

Namun tak banyak yang mengetahui, ratusan tahun lalu posisi penting itu di Kerajaan Siam, cikal bakal Thailand modern, pernah dipegang oleh seorang pria asal Makassar.

Sosok tersebut adalah Daeng Mangalle, seorang pangeran dari Kerajaan Gowa. Tahun 1669, Daeng Mangalle meninggalkan Makassar bersama ratusan orang dari Sulawesi Selatan karena kedatangan Belanda.

Mereka sempat menetap di Banten dan mendapat sambutan baik dari penguasa setempat. Namun situasi berubah ketika Kesultanan Banten menjalin hubungan dengan VOC. Tak ingin berada di wilayah yang berada dalam pengaruh Belanda, Daeng Mangalle kembali angkat kaki.

Dari Banten, dia dan rombongannya berlayar menuju Siam, yang kini dikenal sebagai Thailand. Di negeri baru itu, Daeng Mangalle mendapat sambutan hangat dari Raja Phra Narai. Kecakapannya membuat sang raja menaruh kepercayaan besar kepadanya.

"[....] Bahkan, Daeng Mangalle diangkat menjadi bendahara (menteri keuangan) atau dalam bahasa Thai disebut "Doeja Paedi'," tulis H.D Mangemba dalam Sultan Hasanuddin, Disegani Kawan dan Lawan (2007).

Sayangnya, catatan sejarah tidak banyak mengungkap kiprah Daeng Mangalle selama menjabat bendahara kerajaan. Yang diketahui, jabatan prestisius tersebut justru menjadi awal petaka dalam hidupnya.

Dia dituduh terlibat dalam konspirasi yang disebut-sebut disusun kelompok Melayu, Campa, dan Muslim untuk menggulingkan Raja Phra Narai. Tuduhan itu mencakup rencana menjarah istana, membunuh raja, hingga mengubah agama calon penguasa berikutnya. Namun, tuduhan tersebut tidak pernah terbukti.

Daeng Mangalle menolak mengakui kesalahan karena merasa tidak terlibat. Sikapnya berbeda dengan banyak pihak lain yang memilih meminta pengampunan kepada raja.

"Sebagai Pangeran Makassar, dia tidak mungkin bertindak sebagai pengadu tapi lebih suka bertempur dengan teman-teman setanahairnya, terbunuh secara terhormat dan membawa mati rahasia yang boleh jadi dia tahu mengenai komplotan itu," ungkap sejarawan Bernard Dorléan dalam Orang Indonesia & Orang Prancis, dari Abad XVI sampai dengan Abad XX (2006).

Penolakan itu membuat Raja Siam mempersempit ruang geraknya. Permukiman orang Makassar di Ayutthaya dikepung dengan bantuan pasukan Prancis yang menjadi sekutu kerajaan. Ketegangan kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.

Dalam pertempuran berikutnya, Daeng Mangalle dan para pengikutnya memberikan perlawanan sengit menggunakan tombak dan keris. Mereka berhasil menewaskan sejumlah tentara Siam. Namun jumlah pasukan yang tidak seimbang serta perbedaan persenjataan membuat perlawanan itu akhirnya runtuh.

Sekitar 1686, Daeng Mangalle tewas di tangan pasukan Siam. Meski berakhir tragis, keberanian orang-orang Makassar dalam menghadapi kekuatan kerajaan membuat banyak penduduk lokal takjub. Sejarah pun mencatat Daeng Mangalle sebagai salah satu tokoh asal Nusantara yang pernah menduduki jabatan setara menteri keuangan di negeri yang kini bernama Thailand.

(mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Anak Orang Kaya Menangis Lihat Penderitaan Warga RI


Most Popular
Features