CNBC Insight

Menteri RI Ini Tak Punya Rumah & Hidup Miskin Meski Pimpin Megaproyek

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Rabu, 17/06/2026 09:30 WIB
Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono

Jakarta, CNBC Indonesia - Memimpin proyek raksasa terkadang menjadi godaan besar bagi pejabat negara. Anggaran bernilai jumbo dalam proyek pembangunan infrastruktur kerap dikaitkan dengan praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Namun, hal itu tak berlaku bagi Menteri Pekerjaan Umum era Orde Baru, Sutami. Selama 14 tahun menjabat sebagai menteri dalam delapan kabinet, dia konsisten menolak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri. Di tengah banyaknya proyek besar yang berada di bawah tanggung jawabnya, Sutami justru memilih hidup sederhana hingga dijuluki "Menteri Termiskin".

Selama menjadi menteri atau delapan periode, dia konsisten menolak berbagai keuntungan dari jabatan dan memilih hidup miskin. Penyebabnya karena masih banyak rakyat hidup sengsara, sehingga menurutnya tidak pantas bagi pejabat negara menunjukkan kehidupan mewah.


Staf Ahli Sutami, Hendropranoto, dalam kesaksian berjudul Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia (1991) menceritakan, salah satu sikap itu tercermin pada kebiasaan berjalan kaki ketika mengunjungi suatu wilayah, khususnya perdesaan dan pelosok. Dia rela berjalan kaki berkilo-kilo karena tak ingin merepotkan orang. Terlebih, jalan kaki juga dipilih karena lebih efisien dan mudah saat meninjau berbagai proyek infrastruktur.

Dengan cara itu, Sutami bisa mengetahui implementasi pengerjaan proyek di bawah naungannya. Selain itu, jika ada permasalahan, bisa cepat diselesaikan. Baginya, pembangunan infrastruktur di pedesaan dan pelosok wilayah lebih bermanfaat bagi rakyat kecil, alih-alih difokuskan untuk kepentingan industri dan pengusaha.

Dalam pewartaan Tempo (22/11/1980), tutur kata dan keseharian Sutami juga kental dengan kerendahan hati. Sebagai intelektual dan profesional di bidangnya, pria kelahiran 19 Oktober 1928 itu dikenal sederhana dan sangat merakyat.

Meski berkecimpung di sektor yang sering dianggap "lahan basah", Sutami sama sekali tak mengambil uang negara. Bahkan, rumah pribadi saja tak punya. Dia baru memiliki rumah setelah berhenti menjadi menteri pada 29 Maret 1978 karena sakit. Itu pun pembelian rumah dilakukan lewat cicilan per bulan.

Atas dasar ini, dia dijuluki banyak orang sebagai "Menteri Termiskin". Dia pun tak mempermasalahkan julukan tersebut.

Setelah pensiun, diketahui Sutami hidup jauh dari kemewahan. Rumah yang masih dicicil itu pernah diputus aliran listriknya karena dia tak bisa membayar tagihan. Lalu, ketika sakit pun, Sutami enggan ke rumah sakit karena takut tidak bisa membayar biaya pengobatan.

Diketahui, Sutami mengidap penyakit liver kronis. Penyakit tersebut diketahui muncul karena semasa hidup dia kurang mengonsumsi makanan bergizi dan kelelahan akibat sering bepergian dengan berjalan kaki.

Kabar tragis ini kemudian didengar Presiden Soeharto yang segera meminta Sutami berobat tanpa perlu membayar. Namun, Sutami akhirnya kalah dari penyakitnya. Pada 13 November 1980, dia meninggal dunia.

Meski sudah tiada, karya-karya Sutami yang jauh dari sensasi semasa menjabat masih dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Sederet megaproyek yang dibangun di bawah kepemimpinannya antara lain Tol Jagorawi, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera, dan berbagai infrastruktur lain yang menjadi penopang aktivitas masyarakat Indonesia.


(mfa) Add as a preferred
source on Google