CNBC Insight

Menteri RI Diculik Kelompok Bersenjata, Diduga Intel Asing

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 09/05/2026 17:15 WIB
Foto: (Rachman/detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah Indonesia mencatat ada seorang menteri yang nasib akhirnya penuh misteri setelah diculik kelompok bersenjata karena dianggap intel asing. Sosok itu adalah Otto Iskandar Dinata atau yang dikenal dengan nama Otista.

Publik masa kini mengenalnya sebagai pahlawan nasional yang wajahnya terpampang di uang pecahan Rp20 ribu dan namanya diabadikan menjadi jalan utama di berbagai kota. Namun, tak banyak yang tahu bahwa akhir hidup tokoh era awal kemerdekaan itu berlangsung tragis.

Otto merupakan tokoh penting dalam pergerakan nasional. Dalam buku Si Jalak Harupat, Biografi Otto Iskandardinata (2003), disebutkan, pada dekade 1920-an dia aktif di organisasi Boedi Oetomo. Menjelang kemerdekaan, Otto juga terlibat dalam proses politik sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).


Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Otto sebagai Menteri Negara. Saat itu, kondisi keamanan Indonesia masih kacau dan pemerintah belum memiliki angkatan bersenjata yang terorganisasi dengan baik.

Otto mendapat tugas membantu membentuk kekuatan militer nasional. Tantangannya besar karena banyak kelompok bersenjata berasal dari latar belakang berbeda. Mulai dari eks anggota PETA dan Heiho bentukan Jepang hingga bekas prajurit KNIL peninggalan Belanda.

Perbedaan latar belakang tersebut memicu ego sektoral. Banyak kelompok menolak dilebur ke dalam satu komando dan memilih bergerak sendiri. Sebagian bahkan menentang pemerintah pusat dengan cara-cara keras demi memperjuangkan kemerdekaan. Situasi inilah yang kemudian menjadi awal petaka bagi Otto.

Pada 19 Desember 1945, Otto Iskandar Dinata diculik kelompok bersenjata bernama Laskar Hitam di Tangerang. Dia kemudian dibawa menuju kawasan pesisir Pantai Mauk. Sejak saat itu, Otto menghilang tanpa jejak.

Menurut Iip D. Yahya dalam buku Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories (2017), penculikan tersebut dipicu desas-desus yang disebarkan agen-agen Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda. Isu itu diduga sengaja dihembuskan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh yang dianggap menghambat persatuan Indonesia.

Di kalangan Laskar Hitam juga beredar kabar bahwa Otto menguasai uang sebesar satu juta gulden Belanda. Tuduhan tersebut dipakai untuk memperkuat narasi Otto berpihak kepada Belanda. Padahal, menurut Iip, uang itu berasal dari rampasan perang Jepang yang memang berbentuk gulden Belanda.

Sejak penculikan tersebut, keberadaan Otto tak pernah diketahui. Dia diduga telah dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut. Karena tidak pernah ada kepastian mengenai nasibnya, pemerintah akhirnya menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata.

Tujuh tahun kemudian, pemerintah menggelar pemakaman simbolis di Bandung. Peti jenazah yang dimakamkan tidak berisi jasad Otto, melainkan hanya pasir dan air laut. Makam simbolis itu berada di Monumen Pasir Pahlawan.


(mfa/wur) Add as a preferred
source on Google

Related Articles