CNBC Insight

Diler Honda Berguguran, Ini Sosok di Balik Masuknya Mobil Honda di RI

redaksi,  CNBC Indonesia
10 April 2026 13:25
Bangunan dealer Honda menjalani renovasi usai operasionalnya dihentikan di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Bangunan dealer Honda menjalani renovasi usai operasionalnya dihentikan di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan yang kini menghantam jaringan diler mobil Honda di Indonesia menjadi ironi dari perjalanan panjang merek Jepang tersebut di Tanah Air. Setelah puluhan tahun identik dengan dominasi otomotif Jepang, pelemahan penjualan yang kini memukul jaringan diler memperlihatkan bahwa pemain lama pun mulai menghadapi tantangan baru.

Jejak industri roda empat Honda di Indonesia bermula sejak tahun 1970-an. Kemunculan Honda seiring dengan terbukanya investasi asing di bawah kepresidenan Soeharto. Honda, menjadi salah satu pabrikan otomotif yang sukses masuk ke Indonesia.

Kesuksesan ini tak terlepas dari tangan dingin Ang Kok Ha atau Hadi Budiman. Menurut sejarawan Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), Hadi Budiman adalah pengusaha mobil sejak tahun 1960-an. Namun, Hadi mulai berbisnis mobil Honda ketika melihat peluang importir sebelumnya gagal membawa merek tersebut akibat kegagalan bisnis.

"Pucuk dicinta ulam tiba, kawannya yang semula menjadi pengimpor mobil Honda tidak dapat membayar hutang sehingga izin impornya dicabut. Ang Kok Ha langsung ditunjuk sebagai distributor tunggal mobil Honda pada 24 Maret 1970," tulis Sam Setyautama.

Dari momentum itulah Hadi kemudian memperoleh hak impor sekaligus status distributor mobil Honda di Indonesia. Langkah tersebut dijalankan melalui PT Istana Motor Raya (Imora), yang menjadi pintu awal ekspansi bisnis roda empat Honda di pasar domestik. Kelak, Hadi dan keluarga memiliki andil besar dalam mengelola diler utama Honda, seperti Honda Surabaya Center, Honda Bandung Center, dan Honda Semarang Center.

Waktu awal di Indonesia, berbeda dari rival Jepang yang kuat di mobil niaga, Honda membangun nama lewat sedan seperti Civic dan Accord yang populer di kalangan kelas menengah perkotaan. Reputasi sebagai mobil modern, irit, dan nyaman membuat posisinya semakin kokoh dari dekade ke dekade.

Namun perjalanan itu tak selalu mulus. Pada Peristiwa Malari 1974, gelombang sentimen anti-modal Jepang membuat berbagai produk otomotif asal Negeri Sakura menjadi sasaran amuk massa. Kendaraan Honda, baik sepeda motor maupun mobil, ikut terkena imbas gejolak sosial-politik tersebut.

Momen itu menjadi salah satu ujian besar bagi merek Jepang yang kala itu sedang memperluas pasar di Indonesia. Pada akhirnya, Honda berhasil melewati fase tersebut dan kembali tumbuh pesat.

Bisnis mobilnya pun terus berkembang lewat produksi lokal dan pembentukan PT Honda Prospect Motor (HPM) pada akhir 1990-an. HPM merupakan merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara pihak Jepang dan pihak Indonesia yang kemudian menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).

Kini, tekanan yang menimpa Honda memunculkan pertanyaan baru. Apakah mobil-mobil Honda mulai ditinggalkan masyarakat setelah sempat begitu lama menjadi raja jalanan di Indonesia?

(mfa/mfa)


Most Popular
Features