Diler Honda Digeser Mobil China, Tanda-Tanda 'Kiamat' Mobil Jepang?
Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi mobil Jepang yang selama puluhan tahun tak tergoyahkan di Indonesia kini mulai menghadapi tantangan baru. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena penutupan diler-diler mobil Jepang, khususnya Honda, di beberapa kota.Â
Bahkan dalam beberapa kasus terbaru, bekas showroom merek Jepang itu langsung bertransformasi menjadi diler mobil asal China seperti Chery dan Lepas. Kepada CNBCÂ Indonesia, dikutip Kamis (9/4/2026), Honda menyebut penutupan diler tidak mencerminkan penurunan kinerja, melainkan bagian dari efisiensi dan optimalisasi jaringan.
Fenomena ini menarik karena sangat kontras dengan sejarah panjang mobil Jepang di Indonesia. Puluhan tahun lalu, merek-merek asal Negeri Sakura justru menjadi simbol kebangkitan industri otomotif nasional dan berhasil menjelma sebagai raja jalanan RI.
Awal mula mobil Jepang di RI bermula pada 1961. James Luhulima dalam buku Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini (2012) mencatat, gelombang pertama mobil Jepang ditandai dengan masuknya 100 unit jip Toyota Land Cruisier untuk kepentingan kementerian.
Namun, kebangkitan sesungguhnya baru mencapai puncak pada era Orde Baru. Pada 1968, Indonesia di bawah Presiden Soeharto mulai membuka lebar pintu investasi asing. Jepang yang tengah menikmati kebangkitan ekonomi pascaperang melihat Indonesia sebagai pasar potensial sekaligus basis produksi baru.
Momentum tersebut diperkuat oleh kegagalan Indonesia melanjutkan program mobil nasional pada fase awal, sehingga pemerintah lebih memilih jalur perakitan lokal bersama investor asing.
"Pemerintah lebih suka membeli mobil Jepang yang harganya lebih murah dan pembayarannya dapat dilakukan dengan kredit yang dijamin oleh negara kedua belah pihak," ungkap pengusaha mobil Indonesia HasjimNing dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang (1986)
Dari sinilah industri mobil Jepang berkembang pesat, dan perlahan mobil-mobil barat yang mahal mulai dapat saingan berat. Masuknya investasi Jepang juga ditopang oleh kedekatan politik dan bisnis antara Jakarta-Tokyo, termasuk lewat peran Soedjono Hoemardani yang disebut sukses menjembatani investasi Toyota ke Indonesia pada awal 1970-an.
Peran berikutnya datang dari Astra International, yang menjadi tulang punggung distribusi dan produksi mobil Jepang di Indonesia. Sejak kerja sama awal dengan Toyota pada 1969, Astra berkembang menjadi perpanjangan tangan berbagai merek Jepang seperti Daihatsu, Isuzu, hingga Nissan.
Jaringan distribusi yang luas, layanan purnajual yang kuat, serta skema pembiayaan yang matang membuat mobil Jepang menjadi pilihan utama keluarga Indonesia selama puluhan tahun.
"Pada tahun 1990 Gaikindo menyebutkan bahwa Astra telah berhasil menguasai lebih dari separuh pangsa pasar otomotif di Indonesia. Produk yang dihasilkan antara lain Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan Diesel Trucks, Lexus, Peugeot, BMW," tulis Ricardi S. Adnan dalam The Shifting Patronage (2010).
Atas dasar inilah, fenomena tutupnya sejumlah diler Jepang hari ini, menimbulkan pertanyaan apakah mobil-mobil pabrikan Negeri Matahari Terbit mulai ditinggal masyarakat, setelah sempat menyalip mobil-mobil Eropa di awal kemunculannya di Indonesia pada tahun 1960-an?
(mfa/mfa)