CNBC Insight

Ada Ancaman di Jepang, Presiden RI Ini Sampai Dikawal Yakuza

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Senin, 30/03/2026 12:15 WIB
Foto: Dok. REUTERS/Toru Hanai
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kerja ke Jepang pada 29-30 Maret 2026. Prabowo tentu bukan presiden pertama yang ke Jepang. 

Jauh sebelum kunjungan itu, ada satu lawatan Presiden RI ke Negeri Sakura yang menyimpan kisah tak biasa. Yakni mendapat pengawalan oleh kelompok Yakuza karena ada ancaman keamanan. 

Peristiwa ini terjadi saat Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke Jepang pada 29 Januari hingga 11 Februari 1958. Lawatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjalanan luar negeri setelah sebelumnya dia singgah ke sejumlah negara Timur Tengah dan Thailand.


Menurut Merdeka (30 Januari 1958), selama berada di Jepang Soekarno dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Jepang Nobusuke Kishi, Kaisar Hirohito, serta mengunjungi berbagai kota seperti Osaka, Kobe, dan Hiroshima. Di balik agenda diplomatik tersebut, suasana di lingkar pengamanan presiden ternyata tidak tenang.

Tim pengawal mendapat informasi adanya ancaman serangan terhadap Soekarno dari anggota gerakan Permesta atau Perjuangan Rakyat Semesta. Saat itu, Indonesia memang sedang menghadapi gejolak besar akibat pemberontakan Permesta yang dipimpin Ventje Sumual, yang menuntut otonomi daerah karena menilai pemerintah pusat terlalu berfokus pada Pulau Jawa.

Ancaman itulah yang membuat tim pengamanan menyusun langkah ekstra. Sejarawan Masashi Nishihara dalam Japanese and Sukarno's Indonesia: Tokyo-Jakarta Relations, 1951-1966 (1996) mencatat, salah satu anggota tim pengamanan, Kolonel Sambas Atmadinata, langsung menghubungi teman lamanya semasa perang, yakni Oguchi Masami.

Dari jalur inilah muncul ide penggunaan pengawal pribadi. Sambas kemudian dipertemukan dengan Yoshio Kodama, salah satu tokoh besar Yakuza di Jepang.

Kodama lalu memerintahkan anak buahnya, Kusunoki Kodotai, untuk mengerahkan anggota Yakuza membantu pengamanan. Hasilnya, sekitar 20 anggota Yakuza ikut diterjunkan menjaga keselamatan sang proklamator selama lawatan berlangsung. Kelompok ini kemudian dikenal dengan sebutan Polisi Ginza.

Menariknya, ancaman tersebut memang nyata, meski tidak sampai berujung serangan langsung kepada presiden. Sebab, pada waktu yang sama, tokoh utama pemberontakan, Ventje Sumual, juga sedang berada di Jepang.

Namun, kepada Merdeka (5 Februari 1958), Sumual menepis dugaan ancaman terhadap Soekarno. Ia menegaskan tujuan lawatannya berbeda.

"Sumual mengatakan perlawatannya ke luar negeri sekarang ini mempunyai tujuan tunggal, yaitu mengkonsolidasi dan memperkuat kedudukan daerah yang menentang pemerintah pusat," ungkap Merdeka (5 Februari 1958).

Ketatnya pengamanan terlihat jelas sepanjang kunjungan. Saat Soekarno bertemu Kaisar Hirohito, misalnya, rombongan dikawal rapat oleh barisan kepolisian Jepang. Merdeka (3 Februari 1958) menggambarkan suasana itu secara rinci.

"Satu barisan polisi Jepang berpakaian seragam dengan tugas berjaga-jaga, berhubung dengan desas-desus adanya komplotan yang mengancam jiwa presiden, mengawal iringan tiga mobil yang ditumpangi presiden," tulis Merdeka.

Meski situasi keamanan berhasil dikendalikan, termasuk berkat tambahan pasukan dari Yakuza, lawatan Soekarno akhirnya dipersingkat. Semula kunjungan dijadwalkan berlangsung 18 hari, tetapi dipangkas menjadi hanya 13 hari.

Menurut Merdeka (7 Februari 1958), keputusan itu diambil setelah Soekarno menerima dua pesan mendadak dari Jakarta. Pertama, situasi politik dalam negeri yang semakin genting dan membutuhkan penanganan langsung kepala negara. Kedua, kabar bahwa Ibu Negara Fatmawati diperkirakan segera melahirkan.

Alhasi, Soekarno memutuskan kembali lebih cepat ke Tanah Air sekaligus menutup salah satu lawatan paling unik dalam sejarah diplomasi Indonesia, yakni turun gunungnya yakuza mengawal Presiden RI. 


(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google