PM Israel Ini Ditembak Orang Tak Dikenal, Nyawanya Tak Tertolong
Jakarta, CNBC Indonesia - Isu kematian pemimpin Israel yang merebak sebenarnya bukan hal baru. Dalam sejarah negara itu, pernah ada seorang perdana menteri yang benar-benar tewas ditembak saat masih menjabat. Sosok tersebut adalah PM Yitzhak Rabin (1992-1995).
Peristiwa tragis itu terjadi pada 4 November 1995. Saat itu Rabin menghadiri aksi besar yang menyerukan perdamaian antara Israel dan negara-negara Arab di Tel Aviv. Dalam acara tersebut, pria kelahiran Palestina itu menyampaikan pidato dan bernyanyi bersama untuk menekankan pentingnya upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.
"Jangan hanya bernyanyi tentang perdamaian, mari kita ciptakan perdamaian!," kata Rabin, dikutip The Guardian.
Namun, ketika acara selesai dan Rabin hendak meninggalkan lokasi, seorang pria yang tak dikenal lolos dari pengawasan dan tiba-tiba mendekatinya untuk melepaskan tembakan dari jarak dekat. Dua peluru mengenai punggung dan tulang rusuk Rabin. Dia segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal beberapa saat kemudian.
Peristiwa tersebut menjadikan Rabin sebagai perdana menteri Israel pertama yang tewas akibat penembakan saat masih menjabat. Pria tak dikenal itu langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Belakangan diketahui, pria tersebut berstatus mahasiswa bernama Yigal Amir. Amir merupakan Yahudi yang tidak menyukai sikap Yitzhak Rabin karena mendorong perdamaian dengan Palestina.
Sebagai wawasan, Rabin dikenal sebagai pemimpin Israel yang getol mendorong perdamaian dengan Palestina. Puncaknya terjadi pada 1993 ketika dia menandatangani Perjanjian Oslo bersama pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat. Mengutip Britannica, salah satu poin penting dalam perjanjian itu adalah pemberian otonomi pemerintahan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Atas upaya tersebut, Rabin bersama Arafat kemudian dianugerahi Nobel Perdamaian pada 1994.
Namun, langkah perdamaian itu tidak diterima semua kalangan di Israel. Banyak kelompok nasionalis menilai kebijakan tersebut justru mengancam keamanan dan eksistensi negara Israel. Demonstrasi besar-besaran pun terjadi untuk menentang pemerintahan Rabin, termasuk dilakukan oleh Yigal Amir.
Mengutip CNN International, Amir diketahui memiliki pandangan ultra-nasionalis dan religius serta menentang keras Perjanjian Oslo. Dia meyakini Rabin telah menyerahkan tanah Yahudi kepada Palestina sehingga harus dihentikan.
Keyakinan tersebut mendorongnya melakukan penembakan yang menewaskan orang nomor satu di Israel itu. Dalam persidangan, Amir bahkan mengaku tidak menyesali perbuatannya meski hakim akhirnya menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.
Selain Amir, tokoh oposisi yang juga keras mengkritik kebijakan tersebut adalah Benjamin Netanyahu dari Partai Likud. Dia termasuk figur politik yang paling vokal menolak Perjanjian Oslo dan kerap terlibat dalam aksi protes terhadap kebijakan Rabin.
Mengutip situs Jewish Independent, dalam sejumlah demonstrasi saat itu, Netanyahu kerap menyamakan Rabin sebagai pengkhianat yang dianggap layak dihukum mati menurut interpretasi sebagian kelompok radikal. Akibat sikap inilah, istri mendiang Rabin enggan menyalami tangan Netanyahu di acara pemakaman.
Kelak, beberapa tahun kemudian, tokoh oposisi di masa pemerintahan Rabin itu akhirnya berhasil menjabat sebagai Perdana Menteri Israel periode 2009-2021 dan dilanjut pada 2022 sampai sekarang.
Kini, Netanyahu sempat diisukan tewas atau terluka parah akibat serangan balasan Iran. Namun kabar tersebut dibantah melalui video singkat yang diunggah akun resmi Telegram Netanyahu pada Minggu (15/3/2026), yang memperlihatkan dirinya sedang berkunjung ke sebuah kedai kopi.
(mfa/luc) Add
source on Google