CNBC Insight

PM Israel Mengundurkan Diri Usai Menderita Sakit Parah

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
26 April 2026 17:00
Bendera Israel. (Freepik)
Foto: Bendera Israel. (Freepik)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan dirinya tengah menjalani pengobatan akibat kanker prostat stadium awal yang diidapnya sejak beberapa bulan terakhir.

Apa yang dialami Netanyahu seakan mengingatkan publik pada kasus serupa dua dekade lalu ketika pemimpin Israel sakit parah di tengah masa jabatan. Peristiwa itu menimpa  Ariel Sharon. Sosok kuat yang dikenal sebagai jenderal tangguh itu harus mengakhiri masa jabatannya lebih cepat setelah terserang stroke parah pada 2005. Penyakit tersebut memaksanya meninggalkan kursi Perdana Menteri Israel dan fokus pada perawatan intensif.

Dalam laporan The Independent, akibat penyakit tersebut, selama bertahun-tahun Sharon hanya terbaring di rumah sakit dengan alat medis penunjang. Dia makan dan minum melalui selang, serta matanya terus terbuka. Meski secara medis dinyatakan hidup, responsnya terhadap lingkungan sangat minim.

Situasi ini menjadi titik balik dramatis. Dunia menyaksikan bagaimana seorang pemimpin yang sebelumnya dikenal kuat di medan perang harus menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi tak berdaya.

Hingga akhirnya, pada 11 Januari 2014, Ariel Sharon meninggal dunia di usia 85 tahun.

Sebelum jatuh sakit, Sharon merupakan figur militer yang menonjol sekaligus kontroversial. Dalam buku Warrior: The Autobiography of Ariel Sharon (2001) disebutkan, sejak muda dia sudah aktif dalam gerakan Zionisme dan terlibat dalam konflik bersenjata. Karakter kerasnya membuat pendiri Israel David Ben-Gurion mempercayainya sebagai komandan militer di usia relatif muda.

Titik balik karier militernya terjadi sejak Perang Arab-Israel 1948 ketika dia berperan dalam mempertahankan Yerusalem. Kesuksesan itu berlanjut di sejumlah konflik besar lain, seperti Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973.

Namun, perjalanan kariernya juga diwarnai kontroversi. Mengutip Al Jazeera, sejumlah operasi militer yang dipimpinnya menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Dua peristiwa yang paling disorot adalah Pembantaian Qibya 1953 dan Pembantaian Sabra dan Shatila 1982. Di peristiwa terakhir yang terakhir disebut, tercatat 20 ribu warga sipil tewas di tangan Sharo. Dunia internasional pun menjulukinya sebagai "tukang jagal".

Setelah pensiun dari militer, Sharon beralih ke politik dan mencapai puncaknya pada 2001 saat terpilih sebagai Perdana Menteri Israel ke-11. Selama menjabat, dia tetap dikenal dengan kebijakan keras, termasuk operasi militer di wilayah Palestina dan pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat.

Sharon juga tercatat sebagai salah satu perdana menteri terkaya Israel dengan kekayaan dari pertanian, peternakan, dan properti. Namun, semua itu harus terhenti akibat stroke yang mengakhiri karier politiknya dan mengantarnya ke koma panjang. Setelahnya, posisi Perdana Menteri digantikan oleh Ehud Olmert. 

(mfa/mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features