Ayatollah Ali Khamenei Kagumi Presiden RI, Sebut Pemersatu Bangsa
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebelum wafat, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, ternyata pernah mengagumi sosok Presiden pertama RI, Soekarno. Kekaguman itu terungkap dalam memoar yang menceritakan pengalaman hidupnya di penjara pada masa rezim monarki Iran.
Kisah tersebut tertulis dalam memoar berjudul Cell No. 14 (2021), yang mengisahkan pengalaman Khamenei saat ditahan pada 1970-an karena aktivitasnya melawan pemerintahan Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi.
Selama di penjara, dia pernah berbagi sel dengan beberapa tahanan lain, termasuk seorang pemuda komunis yang sangat tertutup. Menurut Khamenei, pemuda itu jarang berbicara dan selalu menghindari pertanyaan tentang dirinya.
"Saya bertanya tentang dirinya, tetapi dia tidak pernah menjawab secara jelas dan lebih memilih berbicara tentang hal-hal sepele," kenang tokoh besar Iran itu.
Belakangan, pria kelahiran 19 April 1939 itu mengetahui bahwa pemuda tersebut merupakan seorang jurnalis yang memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Tudeh. Meski begitu, hubungan keduanya tidak terlalu dekat karena pemuda tersebut cenderung menyendiri dan jarang berinteraksi.
Khamenei juga melihat pemuda itu berada dalam kondisi mental yang tertekan setelah ditangkap. Dia bahkan jarang makan. Melihat hal tersebut, Khamenei mencoba menolongnya dengan memberikan makanan, bahkan sampai harus menyuapinya agar mau makan.
Namun, kemudian terungkap alasan di balik sikap dingin pemuda tersebut. Dia ternyata khawatir Khamenei, seorang ulama sekaligus aktivis gerakan Islam, akan mengajaknya bergabung dalam organisasi Muslim. Jika nantinya, gerakan mewujudkan republik Islam berhasil, pemuda yang tak disebutkan namanya itu akan mengalami nasib berbeda.
Sebab, kekhawatiran muncul karena dia mengaku tidak mempercayai agama.
"Biarkan saya jujur, saya tidak percaya pada agama apa pun," kata pemuda tersebut.
Mendengar pengakuan itu, Khamenei mencoba menenangkan kekhawatiran sang tahanan. Dia menekankan perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi orang-orang yang menghadapi kesulitan yang sama.
Untuk menjelaskan pandangannya, Ali Khamenei bahkan menyinggung pemikiran Presiden pertama RI, Soekarno, yang menurutnya menjadi contoh dalam membangun persatuan di tengah perbedaan. Dia merujuk pada pidato Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.
"Tahukah kamu bahwa Presiden Sukarno dari Indonesia pernah mengatakan pada Konferensi Bandung bahwa dasar persatuan negara-negara berkembang bukanlah kesamaan agama, sejarah, atau budaya, melainkan 'kesatuan kebutuhan'," ungkapnya.
Dengan mengutip pernyataan tersebut, Khamenei menunjukkan kekagumannya terhadap gagasan Soekarno tentang persatuan lintas ideologi dan keyakinan. Dia kemudian menjelaskan kondisi para tahanan di penjara saat itu mencerminkan ide yang sama.
"Persatuan seperti itulah yang menghubungkan kita sekarang. Masalah yang kita hadapi sama, dan nasib kita tidak pasti. Agama seharusnya tidak menjadi faktor pemisah di antara kita."
Menurut Khamenei, pemuda komunis itu tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu darinya. Dari sinilah, sikap si pemuda berubah dan mulai akrab dengannya. Setelah bebas dari penjara, aktivisme Khamenei berhasil. Tahun 1979, monarki Iran runtuh dan berubah menjadi Republik Islam Iran.Â
(mfa/mfa) Addsource on Google