CNBC Insight

Kebiasaan "Purba" Ini Biang Kerok Warga RI Susah Hemat-Menabung?

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 24/01/2026 12:00 WIB
Foto: Ilustrasi Menabung (Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak kecil, masyarakat Indonesia selalu mendapat anjuran lama soal finansial, yakni hiduplah hemat dan menabung. Nasihat ini kerap dianggap sebagai kunci menuju ketenangan finansial, bahkan kemakmuran. Namun, bagi masyarakat Indonesia, hidup hemat bukan sekadar soal kemauan pribadi. Sejarah menunjukkan, penghematan justru tidak pernah benar-benar tumbuh sebagai nilai sosial yang kuat.

Sejarawan Ong Hok Ham pernah menyoroti persoalan ini pada 1986. Kepada Kompas (10 Februari 1986), Ong menyebut masyarakat Indonesia sejak lama lebih mengenal dua kehidupan, yakni hidup mewah dan hidup miskin. Di antara keduanya, konsep hidup hemat nyaris tidak memiliki ruang.

Menurut Ong, akar persoalan tersebut terletak pada sejarah relasi sosial sebelum tahun 1900-an.


"Dalam sejarahnya sebelum tahun 1900, jumlah penduduk Pulau Jawa amat minim. Karena itu, keterikatan dipandang perlu di antara mereka," kata Ong. 

Keterikatan itu kemudian terwujud dalam pemberian upeti, hadiah, fasilitas, hingga tempat tinggi. Jika sudah terpenuhi, maka rasa kesetiaan dan aman bisa terjamin. Sayang, pola itu tidak berhenti di masa lalu.

Ketika masyarakat memasuki era modern, praktik keterikatan tersebut justru bertransformasi menjadi investasi sosial, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Memberi tidak lagi sekadar simbol kesetiaan, tetapi juga sarana menjaga posisi dan relasi dalam struktur sosial.

Bagi kelompok yang hidup berkecukupan, praktik ini tidak terasa sebagai beban. Namun, bagi masyarakat miskin, tuntutan sosial tersebut menjadi tekanan yang sulit dihindari. Alias, semiskinnya orang, dia tetap tidak bisa hidup hemat. 

Contohnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pengeluaran warga sering kali muncul bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan tuntutan sosial. Sebut saja, seperti menjamu tamu, memberi hadiah, atau mengadakan pesta besar meski berhutang. Ini dilakukan tentu saja mengorbankan kondisi ekonomi rumah tangga. Di sinilah, hidup hemat menjadi hampir mustahil dilakukan.

Pandangan Ong kala itu muncul sebagai sikap kritik terhadap pemerintah yang sedang dilanda kesulitan ekonomi. Pada Januari 1986, Presiden Soeharto meminta seluruh lapisan masyarakat hidup hemat dan sederhana. Ini dilakukan sebagai solusi keluar dari krisis ekonomi. 

"Pola-pola hidup sederhana itu bukan saja tertuju kepada pejabat pemerintah. Masyarakat luas, terutama kaum yang berada juga mempunyai kewajiban moral dan moril untuk meresapi dan menghayati pola hidup sederhana itu," ungkap Soeharto, dikutip dari Merdeka (10 Februari 1986).

Namun, seruan itu menuai kritik. Sebab, para pejabat dan orang kaya tidak memberi contoh dengan baik. Mereka masih hidup mewah dan menghambur-hamburkan uang, seperti mengadakan acara di hotel mewah. 

Pada akhirnya, yang menahan guncangan ekonomi bukanlah seruan hidup hemat, melainkan deregulasi kebijakan yang mendorong ekspor dan investasi. Menjelang akhir 1980-an, ekonomi Indonesia pun kembali stabil.


(mfa/mfa)

Related Articles