CNBC Insight

Gempa Dahsyat Guncang China, Ratusan Ribu Warga Terkubur Hidup-Hidup

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 24/01/2026 08:30 WIB
Foto: Ilustrasi gempa (Getty Images/iStockphoto/Petrovich9)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 830.000 orang tewas dalam satu pagi. Bukan akibat perang, wabah, atau kelaparan, melainkan gempa bumi yang mengguncang Shaanxi, China, pada 23 Januari 1556, tepat 470 tahun lalu. Peristiwa ini kemudian tercatat sebagai bencana paling mematikan dalam sejarah manusia.

Kejadiannya terjadi saat sebagian besar warga Shaanxi masih terlelap dalam dingin pagi. Tak satu pun mereka menyadari sedang berada di ambang maut. Sampai akhirnya, menjelang matahari terbit, bumi tiba-tiba berguncang hebat. Mereka tak sempat melarikan diri sebab dalam hitungan detik, daratan berubah bentuk.

Tanah terangkat membentuk bukit-bukit baru, sementara bagian lain amblas menjadi lembah. Retakan besar membelah permukaan bumi dan memuntahkan aliran air dari perut tanah. Jurang-jurang tercipta seketika, menelan apa pun yang ada di atasnya.


Ketika guncangan akhirnya mereda, kehancuran belum sepenuhnya terasa. Namun begitu matahari terbit, skala bencana itu baru terlihat jelas. Gubuk-gubuk warga, rumah para pejabat, kuil-kuil, hingga tembok kota runtuh nyaris bersamaan.

"Gubuk, rumah-rumah pejabat, kuil, dan tembok kota runtuh secara tiba-tiba," demikian catatan sejarah yang tertulis di era Dinasti Ming, dikutip dari situs Science Museums of China.

Belakangan diketahui, gempa tersebut tidak hanya meluluhlantakkan Shaanxi. Guncangan hebat ternyata terjadi di wilayah yang kini dikenal sebagai Provinsi Shaanxi, Shanxi, Henan, dan Gansu. Getarannya bahkan dirasakan hingga pesisir selatan China. Dampaknya serupa di berbagai tempat. Bangunan runtuh, tanah terbelah, dan permukiman lenyap dalam sekejap.

"Retakan muncul di tanah dan air menyembur keluar. Tembok kota dan rumah-rumah lenyap ke dalam tanah. Dataran tiba-tiba berubah menjadi perbukitan. Sungai Kuning dan Sungai Wei meluap, dan air Sungai Kuning, yang biasanya keruh, menjadi jernih selama beberapa hari," tulis sebuah prasasti yang kemudian dikutip South China Morning Post.

Bencana ini seketika mengguncang Dinasti Ming yang kala itu tengah berada dalam fase kemunduran. Sebab, mengutip situs Britannica, catatan resmi kekaisaran menyebut jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 830.000 orang.

Meski begitu, sejumlah sejarawan modern meragukan angka tersebut dan memperkirakan korban berada di kisaran 100.000 jiwa. Namun berapa pun angka pastinya, Gempa Shaanxi 1556 tetap menjadi salah satu tragedi kemanusiaan dan jadi bencana ini paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia.

Lantas, kenapa gempa ini begitu dahsyat dan mematikan?

Awalnya, masyarakat abad ke-16, memaknai kejadian ini sebagai murka langit dan pertanda kosmis. Namun, penelitian modern mengungkap gempa Shaanxi dipicu oleh aktivitas patahan-patahan besar di Cekungan Weihe, wilayah yang berada di antara blok tektonik Ordos dan Pegunungan Qinling. Pergerakan patahan ini memicu pelepasan energi besar di kerak bumi dan menghasilkan guncangan dahsyat.

Menurut riset "Geomorphological observations of active faults in the epicentral region of the Huaxian large earthquake in 1556 in Shaanxi Province, China" (1998) gempa Shaanxi memiliki magnitudo sekitar 8,0 hingga 8,3. Angka ini memang bukan yang terkuat. 

Namun, besarnya dampak gempa diperparah oleh kondisi permukiman yang tidak tahan guncangan. Banyak warga tinggal di rumah tanah liat atau gua di tebing endapan halus yang mudah runtuh. Kepadatan penduduk serta waktu kejadian pada pagi hari membuat hampir tak ada kesempatan menyelamatkan diri.

Atas kejadian ini, masyarakat memahami betul bagaimana pentingnya membangun permukiman yang lebih adaptif terhadap gempa, seperti membangun rumah tahan gempa dan pemilihan lokasi yang tepat. 


(mfa/mfa)