Ini Kisah Wanita Terkaya di Dunia yang Dulunya Sangat Miskin

Entrepreneur - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
22 April 2018 12:53
Ini Kisah Wanita Terkaya di Dunia yang Dulunya Sangat Miskin
Jakarta, CNBC Indonesia - Memiliki kekayaan bersih US$ 7,4 miliar (Rp 101 triliun), CEO Lens Technology Zhou Qunfei menjadi wanita terkaya di dunia menurut Forbes. 

Wanita berusia 48 tahun ini tidak mendapatkan kekayaannya dengan mudah. Zhou kecil lahir di sebuah desa di provinsi Hunan di China Timur.   

Zhou tidak memiliki masa kecil yang indah. Dia kehilangan ibunya ketika berusia lima tahun dan ayahnya menjadi buta serta kehilangan jari dalam kecelakaan pabrik. 


Kepada CNCB Make It, Zhou mengatakan: "Saya harus terus memikirkan di mana makan saya berikutnya dan bagaimana saya mendapatkannya." 

Zhou sendiri putus sekolah pada usia 16 tahun dan mengembara ke Shenzhen di China Selatan untuk bekerja di pabrik lensa jam tangan pada 1986. Seiring berjalannya waktu, dia kemudian dipromosikan ke peran manajerial.  

Foto: Lens Technology


Pada tahun 1993, dengan tabungan sebesar 20.000 HK dolar (US$ 2.547,80), Zhou dan delapan anggota keluarganya mendirikan sebuah workshop yang memproduksi lensa di sebuah apartemen tiga kamar di Shenzhen, yang berfungsi baik sebagai tempat kerja dan tempat hidup mereka. 

Di apartemen itu, ia meluncurkan perusahaan pertamanya. Dan, 10 tahun setelah itu Zhou berhasil membangun pabrik lensa atau kaca jam tangan yang mempekerjakan 1.000 orang. 

Kemudian pada 2003, dia mendapat telepon dari Motorola yang mengajak perusahaannya menjadi pemasok. Tanpa pikir panjang, Zhou menerima undangan yang sekaligus bisnisnya berkembang secara internasional.  

Sekarang, Zhou tengah membangun kerajaaan manufaktur teknologi seperti halnya Tesla, Apple, Samsung dan Huawei. 

Foto: Lens Technology


Zhou menghubungkan kesuksesannya dengan ketekunannya. Salah satu tantangan terbesarnya adalah memenangkan kontrak dengan Motorola tahun 2003. 

"Tantangan terbesar saya adalah ketika saya mengalahkan saingan lain dan memenangkan kontrak dengan Motorola pada 2003," kata Zhou kepada CNBC Make It. 

Kala itu, Zhou baru saja memulai dan memiliki sedikit fleksibilitas dalam keuangan perusahaannya, tetapi ingin memastikan kesepakatan itu terlaksana.

Akibatnya, Zhou harus rela menjual rumah dan barang berharga lainnya untuk memenuhi tuntutan perusahaan. Namun, dia masih kekurangan dana dan menjadi putus asa.
 

Zhou mengakui bahwa itu adalah saat tergelap dalam kehidupan kewirausahaannya. Bahkan percobaan bunuh diri pun tidak terelakan. "Saya berdiri di peron Stasiun Hung Hom di Hong Kong, hampir melompat, mengigau. Berpikir bahwa ketika saya pergi, semua masalah juga akan hilang," kata dia. 

Tapi, kemudian panggilan telepon dari putrinya membatalkan dirinya untuk bunuh diri.

Dia pun berbahagia karena  Motorola sangatlah membantunya baik untuk segi finansial dan psikis.
 

"Saya menyadari bahwa untuk keluarga dan karyawan saya, saya tidak bisa menyerah. Saya harus melanjutkan."

Dengan bantuan Motorola, ia mengatasi masalah keuangan.
 Pada tahun 2004, perusahaan Zhou mengirim lebih dari 100 juta unit layar untuk model Motorola V3 saja - ponsel layar datar dengan ucapan ikonik "Hello Moto."

Pada tahun 2007, Zhou mengalahkan vendor China lainnya untuk menjadi pemasok utama bagi Apple. Pada 18 Maret 2015 atau 22 tahun lalu setelah ia memulai bengkel keluarga di apartemen tiga kamar itu, perusahaan Lens Technology milik Zhou melantai di bursa dan memiliki valuasi US$ 11,4 miliar dengan jumlah pekerja mencapai 82.000 karyawan di China.    (ray/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading