Internasional

Konsultan Ini Tinggalkan Karir Demi Mengajar di Korea Utara

Entrepreneur - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
24 January 2018 15:40
Konsultan Ini Tinggalkan Karir Demi Mengajar di Korea Utara
  • Geoffrey See, seorang mantan konsultan di Bain, mengajar bisnis dan kewirausahaan di Korea Utara
  • Pengusaha Korea Utara mengamati perkembangan China dan menjadikannya inspirasi
  • See telah mengajar lebih dari 1.300 penduduk Korea Utara sejak 2010
 
Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Korea Utara identik dengan gambaran Kim Jong Un, pemimpinnya yang kontoversial, atau penduduknya yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah-tengah perekonomian yang nyaris lumpuh akibat sanksi ekonomi.

Namun, Geoffrey See ingin mengubah semua itu.

See adalah mantan konsultan di perusahaan konsultasi manajemen Bain yang meninggalkan karirnya untuk mengembangkan potensi bisnis Korea Utara. Ia telah mengajar warga Korea Utara dasar-dasar bisnis dan kewirausahaan selama hampir 10 tahun melalui organisasi non-profit Choson Exchange yang berbasis di Singapura, dilansir dari CNBC International.


“Saya rasa orang-orang cenderung melupakan ada 22 juta-25 juta jiwa warga Korea Utara, yang sebagian besar hidup sederhana,” ujarnya.

Organisasi non-profit See mendukung minat wirausaha dan perseorangan terhadap bisnis di Korea Utara dengan mengadakan program pelatihan, magang, dan bimbingan bisnis. Program tersebut tersedia bagi penduduk yang tinggal di dalam maupun luar Korea Utara.

See yakin warga Korea Utara berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka melalui kewirausahaan dan usaha bisnis dan seperti yang dilakukan negara-negara lain, mereka juga ingin agar bisa terhubung dengan perekonomian dunia.


Korea Utara dikenal sebagai negara tertutup dengan situasi bisnis yang sulit. Lalu mengapa See berpikir mengajari masyarakat Korea Utara bisnis merupakan ide yang bagus?

“Dulu saya berpikir negara komunis dan penduduknya ini tidak mungkin tertarik menjalankan bisnis. [Ternyata] mereka memiliki aspirasi pribadi yang sangat kuat untuk membuktikan sesuatu. Jadi, saat saya meninggalkan Korea Utara, saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka?”

See mendirikan organisasi non-profitnya, Choson Exchange, pada 2010 dan sejak saat itu ia sudah mendidik lebih dari 1.300 penduduk Korea Utara.

Ia menceritakan bahwa salah satu kelas pelatihannya dihadiri 20 murid yang sangat pemalu.

“Mereka sangat gugup. Mereka membaca semua bahan pelajaran yang kami berikan, namun tidak berani mengajukan pertanyaan,” kata See.

Karena program yang didirikan See tidak mencari keuntungan dan tidak memiliki hubungan dengan pemerintah Korea Utara, See dan para relawan mencoba menghindari pembahasan soal kapitalisme.

“Kami tidak mengajarkan kapitalisme. Kami menganggap program ini sebagai pelatihan bisnis dan kewirausahaan. Kebanyakan masyarakat Korea Utara percaya hal inilah yang dapat diterapkan di dalam sistem negaranya,” ujarnya.
Dua wanita menggunakan ponsel di tram kota Pyongyang, Korea UtaraFoto: CNBC
Dua orang wanita menggunakan ponsel di tram kota Pyongyang, Korea Utara
Walaupun pemerintah Korea Utara membatasi penggunaan internet penduduknya, See menyadari penggunaan ponsel rakitan dalam negeri di sana sudah semakin menjamur.

“Kami melihat aplikasi pengiriman makanan hadir di ponsel buatan domestik. Kami tidak tahu seberapa sering penggunaannya, namun jelas para warga bereksperimen dengan hal-hal baru,” ujarnya.

Hubungan dagang yang erat dengan China membuat warga Korea Utara terekspos perusahaan-perusahaan teknologi China dan mulai tertarik dengan e-commerce.

“Mereka sering datang kembali [ke kelas] dan membawa contoh-contoh yang mereka lihat, seperti WeChat atau Taobao, dan berkata kami tertarik mencari tahu apakah kami bisa membuat hal serupa di Korea Utara,” kata See. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading