Elon Musk Akhirnya Jujur, Selama Ini Tekor Hasilnya Nol Besar

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 November 2026 15:15
Tesla CEO Elon Musk attends a state dinner hosted by US President Donald Trump and first lady Melania Trump for Chinese President Xi Jinping and his wife, Peng Liyuan, at the White House in Washington, D.C., US, September 24, 2026. REUTERS/Evelyn Hoc
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pengguna layanan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) milik X (sebelumnya Twitter), Grok Bot, mengeluhkan jatah penggunaan harian mereka yang mendadak ludes jauh lebih cepat dari biasanya. Usut punya usut, pemilik platform X, Elon Musk, mengonfirmasi telah membatasi kuota agen AI tersebut secara sengaja akibat beban biaya operasional yang dinilai sudah tidak masuk akal.

Keputusan sepihak ini sontak memicu gelombang protes dari para pelanggan setia.

Pengakuan ini berawal ketika seorang pengguna X menandai (ping) akun pribadi Elon Musk. Pengguna tersebut meminta pemulihan (reset) kuota Grok Bot setelah akunnya menyentuh batas penggunaan 100%, padahal jadwal pembaruan kuota baru akan dilakukan empat hari kemudian. Pengguna tersebut mengaku bahwa dalam kondisi normal, dirinya bahkan tidak pernah menghabiskan kuota hingga 100%.

Musk secara terbuka membalas unggahan tersebut dan membeberkan alasan di balik pengetatan fitur tersebut.

"Biaya untuk melayani komputasi Grok Bot sudah sangat tinggi dan tidak berkelanjutan (unsustainably high) secara finansial jika dibandingkan dengan pendapatan yang masuk," tegas Musk, dikutip dari TechRadar, Selasa (3/11/2026).

Penjelasan Musk justru memicu kekesalan massal di platform X. Sejumlah pengguna melaporkan bahwa indikator penggunaan Grok Bot milik mereka mendadak melonjak hingga batas 100% saat mereka sedang tertidur dan tidak mengoperasikan aplikasi sama sekali. Beberapa akun mencatat lompatan penggunaan yang tidak wajar, seperti dari 50% langsung meroket ke 100%, 35% ke 78%, hingga 70% ke 100% tanpa adanya aktivitas transaksi data.

Ancaman Tekor Industri AI dan Model Bisnis

Pernyataan blak-blakan Elon Musk mencuat di tengah sorotan tajam investor terhadap tingkat profitabilitas dan keberlanjutan finansial (financial sustainability) dari industri kecerdasan buatan global.

Saham-saham raksasa teknologi-termasuk para pemain utama AI-terkoreksi tajam pekan lalu akibat kecemasan pasar terhadap membengkaknya biaya komputasi yang tidak sebanding dengan pendapatan. Alphabet (induk usaha Google) bahkan secara terbuka mengakui bahwa fitur ringkasan berbasis AI (AI summaries) pada mesin pencarinya telah menggerus marjin pendapatan iklan digital perusahaan.

Krisis keberlanjutan model bisnis ini dipicu oleh besarnya celah (gap) antara tarif langganan bulanan pengguna dan biaya pemrosesan token AI di belakang layar. Pengguna alat pemrosesan AI tingkat tinggi seperti ChatGPT maupun Claude Code dilaporkan sering kali mengonsumsi kapasitas komputasi token yang nilainya jauh melampaui biaya berlangganan bulanan yang mereka bayarkan.

Para pengamat industri memperkirakan bahwa tanpa adanya penyesuaian harga langganan atau pembatasan penggunaan, model bisnis layanan AI berisiko tinggi menghadapi kegagalan finansial dalam jangka panjang.

Langkah efisiensi mendadak yang diambil Elon Musk ini menuai reaksi keras dari komunitas pengguna digital. Di forum diskusi Reddit, para pengguna menyindir keputusan pemangkasan fitur dan pembatasan kuota Grok Bot ini sebagai aksi "rug pull" terselubung demi menyelamatkan kas perusahaan dari ancaman pembengkakan tagihan server AI.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dua Raja AI Akhirnya Akur, Elon Musk Mendadak 'Nimbrung'


Most Popular
Features