Peneliti Bongkar Fakta Baru Misteri Asal-usul Kehidupan di Bumi

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
01 November 2026 12:20
Devil Comet/ Jan Erik Vallestad
Foto: Devil Comet/ Jan Erik Vallestad
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Teori yang menyebut komet sebagai pembawa bahan dasar kehidupan ke Bumi mulai dipertanyakan. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa benturan komet dengan Bumi purba kemungkinan besar justru menghancurkan molekul organik yang dibawanya akibat suhu dan tekanan ekstrem saat tumbukan.

Temuan yang diungkapkan dalam jurnal Scientific Reports menyebut bahwa ada potensi yang dapat menggoyahkan teori yang telah berkembang selama puluhan tahun mengenai asal-usul kehidupan di Bumi.

Selama ini, komet diyakini berperan dalam menyediakan air dan senyawa organik yang dibutuhkan untuk memulai proses kimia pembentukan kehidupan. Komet yang tersusun atas es, debu, serta material organik bahkan kerap dijuluki sebagai bola salju kotor (dirty snowballs).

Gagasan bahwa bahan pembentuk kehidupan berasal dari luar angkasa dikenal sebagai panspermia. Konsep ini telah dikemukakan secara ilmiah sejak 1908, sementara teori mengenai peran komet dalam memasok bahan organik ke Bumi mulai berkembang setidaknya sejak 1961.

Namun, simulasi komputer terbaru menunjukkan bahwa proses tersebut mungkin tidak berjalan semudah yang selama ini diperkirakan.

Dalam penelitian itu, tim menggunakan model terbaru mengenai pembentukan dan evolusi komet untuk menyimulasikan kondisi Bumi purba lebih dari 4 miliar tahun lalu. Simulasi dilakukan sebanyak 100.000 kali untuk menguji kemungkinan komet mengantarkan molekul organik tanpa merusaknya.

Hasilnya, sebanyak 54% simulasi tidak menunjukkan terjadinya tumbukan komet dengan Bumi. Sementara itu, 46% sisanya memperlihatkan setidaknya satu tumbukan, tetapi hanya sebagian sangat kecil yang menghasilkan hingga tiga tabrakan.

Seorang peneliti, Richard Anslow, yang melakukan riset tersebut saat menempuh program doktoral di Institute of Astronomy, University of Cambridge, Inggris, mengatakan sebagian besar tumbukan tidak memungkinkan molekul organik bertahan.

"Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang lingkungan permukaan di Bumi purba, secara rata-rata, simulasi kami menemukan bahwa tidak ada tumbukan yang berhasil," kata Richard Anslow, dikutip CNN, Minggu (1/11/2026).

Menurutnya, komet memang mengandung konsentrasi tinggi sejumlah molekul penting bagi kehidupan. Namun, kecepatan tumbukan yang sangat tinggi membuat material tersebut berisiko rusak sebelum dapat dimanfaatkan dalam proses kimia pembentukan kehidupan.

"Kecepatan khas komet-komet ini saat menghantam Bumi berarti bahwa sebenarnya sangat sedikit, jika ada, yang mampu mengantarkan molekul organik utuh; sehingga komet tampaknya tidak sebermanfaat bagi kimia prabiotik seperti yang sebelumnya diperkirakan," kata Anslow.

Molekul Penting Justru Hancur Saat Tumbukan

Penelitian tersebut secara khusus menyoroti hidrogen sianida (HCN), senyawa alami yang terdiri dari hidrogen, karbon, dan nitrogen. Molekul ini telah terdeteksi pada puluhan komet, termasuk Komet Halley dan Hale-Bopp.

HCN merupakan salah satu prekursor penting dalam proses kimia pra-kehidupan atau prebiotik. Ketika bereaksi dengan air, senyawa tersebut berpotensi menghasilkan asam amino, yakni molekul penyusun protein yang menjadi komponen penting bagi kehidupan.

Namun, ketika komet menghantam permukaan Bumi, material di dalamnya mengalami tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Kondisi tersebut dapat menghancurkan molekul-molekul organik yang seharusnya menjadi bahan dasar pembentukan kehidupan.

Anslow menjelaskan, sekalipun terdapat tumbukan yang memungkinkan sebagian HCN bertahan, jumlah senyawa yang berhasil dihantarkan kemungkinan tidak cukup untuk mendukung proses kimia tersebut.

Selain itu, jika komet jatuh ke lautan, HCN yang dibawanya berpotensi cepat larut sehingga konsentrasinya menjadi terlalu rendah.

Proses pembentukan kehidupan juga tidak hanya membutuhkan HCN. Sejumlah senyawa lain yang mengandung fosfor dan sulfur diperlukan untuk mendukung reaksi kimia prebiotik. Sementara itu, unsur-unsur tersebut tidak secara rutin ditemukan dalam komet.

Dengan demikian, keberhasilan komet memasok satu jenis molekul belum tentu cukup untuk menciptakan lingkungan yang mendukung munculnya kehidupan.

Asteroid hingga Mars Jadi Alternatif

Jika komet bukan pemasok utama bahan pembentuk kehidupan di Bumi, para peneliti melihat sejumlah kemungkinan lain yang masih perlu dieksplorasi.

Salah satunya adalah teori bahwa sup purba (primordial soup) di Bumi mampu menghasilkan sendiri molekul-molekul yang dibutuhkan untuk memulai kehidupan melalui reaksi kimia alami.

Asteroid juga menjadi kandidat alternatif sebagai pembawa material organik dari luar angkasa. Berbeda dengan komet, asteroid umumnya menghantam Bumi dengan kecepatan lebih rendah dan jumlah yang lebih banyak.

Temuan dari sampel asteroid Bennu dan Ryugu turut memperkuat kemungkinan tersebut. Kedua asteroid diketahui mengandung sebagian besar jenis asam amino yang digunakan untuk membangun protein.

Selain Bumi, penelitian ini juga membuka kemungkinan bahwa komet justru memiliki peran lebih besar dalam memasok bahan kimia pembentuk kehidupan di Mars purba.

Anslow menjelaskan, ukuran Mars yang lebih kecil dan jaraknya yang lebih jauh dari Matahari membuat kecepatan tumbukan komet di planet tersebut relatif lebih rendah dibandingkan di Bumi.

Kondisi itu memungkinkan molekul HCN memiliki peluang lebih besar untuk bertahan saat komet menghantam permukaan Mars.

Menurutnya, temuan ini dapat menjadi perspektif tambahan dalam memahami evolusi awal Mars, termasuk kemungkinan planet merah tersebut pernah memiliki kondisi yang mendukung kehidupan.

Teori Komet Belum Sepenuhnya Gugur

Meski demikian, penelitian terbaru ini tidak serta-merta menutup kemungkinan bahwa komet pernah berkontribusi terhadap munculnya kehidupan di Bumi.

Queenie Chan, profesor madya ilmu kebumian di Royal Holloway University of London yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai ada kemungkinan HCN telah mengalami reaksi kimia sebelum komet memasuki atmosfer Bumi.

Reaksi tersebut berpotensi menghasilkan senyawa penting secara biologis, termasuk bahan penyusun protein, yang lebih stabil dan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan saat tumbukan.

Menurut Chan, ketidakmampuan komet mengantarkan HCN dalam kondisi utuh tidak sepenuhnya menghapus kemungkinan perannya dalam memasok senyawa organik lain yang berkontribusi terhadap persediaan bahan kimia pra-kehidupan di Bumi.

Pandangan serupa disampaikan Nicolle Zellner, profesor fisika di Albion College, Michigan. Ia mengaku tidak terkejut dengan hasil penelitian tersebut, tetapi juga belum bersedia mengesampingkan komet sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kemunculan kehidupan.

Zellner menilai penelitian tersebut telah memberikan gambaran dan batasan yang lebih jelas mengenai seberapa besar kemungkinan komet berperan dalam mengantarkan bahan dasar kehidupan ke Bumi.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ilmuwan Ungkap Fakta Soal Makhluk Bumi Berasal dari Luar Angkasa


Most Popular
Features