Modus Maling Bobol Rekening, Uang Rp 114 Triliun Lenyap Seketika

Lynda Hasibuan,  CNBC Indonesia
31 October 2026 12:20
FILE PHOTO: Representations of the Ripple, Bitcoin, Etherum and Litecoin virtual currencies are seen on a PC motherboard in this illustration picture, February 13, 2018. Picture is taken February 13, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo
Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Peretasan besar mengguncang industri mata uang kripto setelah aset senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun dicuri dari Binance, bursa kripto terbesar di dunia. Serangan yang disebut sebagai salah satu pencurian terbesar dalam sejarah aset digital ini diduga melibatkan kelompok peretas elite asal Korea Utara.

Melansir Reuters, insiden tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar kripto. Harga sejumlah mata uang digital mengalami penurunan setelah kabar pencurian tersebar. Binance pun sempat menghentikan layanan penarikan dana untuk menangani dampak serangan sekaligus memastikan keamanan aset para penggunanya.

Di tengah situasi tersebut, Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian yang timbul. Perusahaan juga bekerja sama dengan mitra industri dan aparat penegak hukum untuk melacak serta membekukan aset yang dicuri.

Sekitar US$3 miliar (Rp54 triliun) dari total dana yang hilang dilaporkan berhasil ditemukan dan dibekukan dengan cepat oleh sejumlah penerbit stablecoin, termasuk Tether, Circle, dan World Liberty Financial, perusahaan yang didukung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

"Ini adalah serangan yang kompleks, dan kami berupaya semaksimal mungkin melalui koordinasi dengan penegak hukum untuk menanganinya," tulis Binance dalam unggahannya di platform X.

Pihak Binance memastikan dana nasabah tetap aman dan proses pemulihan aset terus berlangsung. Perusahaan juga memperkirakan layanan penarikan dana dapat kembali dibuka dalam waktu sekitar 45 jam. Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai keberadaan sisa dana sebesar US$3,3 miliar yang belum berhasil ditemukan.

Diduga Melibatkan Kelompok Peretas Korea Utara

Berdasarkan analisis perusahaan keamanan blockchain asal Amerika Serikat, TRM Labs dan Chainalysis, pola serangan terhadap Binance memiliki kemiripan dengan sejumlah peretasan besar sebelumnya yang diduga dilakukan oleh Korea Utara.

TRM Labs menjelaskan bahwa para penyerang berhasil mengendalikan dompet digital yang digunakan Binance untuk menyimpan aset. Mereka kemudian mengarahkan dana dari dompet tersebut ke sejumlah dompet di bawah kendali peretas.

Metode ini disebut menyerupai serangan terhadap bursa kripto Bybit pada 2025. Saat itu, Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat menyimpulkan bahwa peretasan tersebut dilakukan oleh pihak Korea Utara.

"TRM mengaitkan serangan ini dengan unit peretas elite Korea Utara," ungkap perusahaan tersebut dalam analisis yang dipublikasikan di situs resminya.

TRM Labs dan Chainalysis sama-sama menyatakan memiliki keyakinan kuat bahwa Korea Utara berada di balik serangan tersebut.

Selama bertahun-tahun, Korea Utara dituding memanfaatkan kelompok siber yang berafiliasi dengan negara untuk melakukan spionase, pencurian keuangan, hingga memperoleh sumber pendapatan. Meski demikian, pemerintah Korea Utara secara konsisten membantah tuduhan tersebut.

Disebut sebagai Peretasan Terbesar dalam Sejarah

Co-CEO Binance, Richard Teng, menegaskan bahwa perusahaan akan menggunakan dana internal untuk menutup seluruh kerugian akibat insiden tersebut.

"Dana Anda aman dan kami akan menanggung setiap kerugian," tulis Teng melalui platform X.

Ia juga menyampaikan bahwa investigasi internal sejauh ini belum mengidentifikasi pihak atau individu yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sementara itu, Aravind Srinivasan dari perusahaan penyedia likuiditas kripto GSR menyebut insiden tersebut sebagai "peretasan terbesar dalam sejarah".

Dampaknya langsung terasa di pasar aset digital. Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu, yakni US$76.368. Sementara itu, Ethereum atau Ether turun lebih dari 3 persen ke level US$2.178-posisi terendah dalam dua bulan terakhir-sebelum pasar kembali menunjukkan stabilitas.

Token BNB, yang diluncurkan oleh Binance dan dapat digunakan untuk membayar biaya transaksi di platform tersebut, juga mengalami penurunan sekitar 5 persen dalam 24 jam menjadi US$709,70 berdasarkan data CoinGecko.

Tekanan turut dirasakan saham perusahaan yang berkaitan dengan industri kripto. Saham Coinbase Global turun 4,8 persen, meskipun perusahaan tersebut menyatakan tidak terdampak langsung oleh insiden Binance. Sementara itu, saham MicroStrategy, perusahaan yang dikenal memiliki investasi besar dalam Bitcoin, merosot hampir 6 persen dalam perdagangan setelah jam bursa di Amerika Serikat.

Berawal dari Laptop Engineer yang Diretas

Dalam penyelidikan awal, Binance menduga serangan bermula dari laptop milik salah satu insinyurnya yang telah diretas. Kondisi tersebut memungkinkan penyerang memperoleh akses ke salah satu sistem internal perusahaan dan melakukan penarikan aset tanpa izin.

"Tim keamanan kami sedang melacak seluruh alur serangan melalui komputer yang diretas tersebut, yang kemungkinan menjadi titik masuk insiden ini," ungkap Binance.

Perusahaan kemudian menyampaikan bahwa penyelidikan juga menemukan sejumlah titik peretasan lainnya.

Mark Karpeles, mantan pimpinan bursa Bitcoin Mt. Gox yang berbasis di Tokyo, turut memberikan analisis mengenai insiden tersebut. Ia menilai para peretas kemungkinan berhasil memperoleh akses ke kunci privat (private keys) dari setidaknya dua dompet kripto milik Binance.

Menurutnya, Binance tampaknya telah memisahkan penyimpanan aset ke dalam beberapa sistem berbeda sehingga serangan hanya berdampak pada sebagian aset perusahaan. Meski begitu, insiden tersebut tetap menjadi kerugian besar bagi industri kripto.

Nilai Peretasan Lampaui Dana Perlindungan Binance

Binance merupakan salah satu platform perdagangan aset digital terbesar di dunia dengan sekitar 335 juta pengguna terdaftar secara global. Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan mengelola aset pengguna senilai sekitar US$162,8 miliar.

Untuk melindungi dana nasabah dari risiko pelanggaran keamanan, Binance memiliki dana perlindungan bernama Secure Asset Fund for Users (SAFU). Dana tersebut mencakup cadangan Bitcoin senilai US$1 miliar.

Namun, besarnya nilai pencurian kali ini jauh melampaui jumlah dana perlindungan tersebut.

Sejumlah penerbit stablecoin turut mengambil langkah untuk membatasi pergerakan aset hasil peretasan. Tether mengumumkan telah membekukan aset senilai hampir US$1,57 miliar yang berkaitan dengan insiden tersebut. Sementara itu, Circle membekukan lebih dari US$800 juta.

World Liberty Financial juga bekerja sama dengan perusahaan kustodian BitGo untuk membekukan dana yang terdampak.

Salah satu pendiri Binance, Yi He, mengungkapkan bahwa stablecoin senilai US$27 juta dan token World Liberty senilai sekitar US$2 juta telah dibekukan. Perusahaan kripto Ripple juga dilaporkan ikut membekukan aset senilai sekitar US$200 juta.

Kepercayaan Investor Kripto Kembali Dipertanyakan

Peretasan Binance menambah panjang daftar pencurian aset digital yang mengguncang industri kripto. Berdasarkan data TRM Labs, sepanjang tahun sebelumnya, peretas mencuri aset kripto senilai US$2,9 miliar melalui hampir 150 serangan.

Pada September, platform kripto Bitget juga melaporkan pencurian aset digital senilai sekitar US$350 juta. Rentetan insiden tersebut semakin menyoroti kerentanan industri kripto terhadap serangan siber.

Analis menilai dampak peretasan Binance tidak hanya berkaitan dengan potensi kerugian finansial, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap bursa kripto terpusat (centralized exchanges).

Tim Sun, peneliti senior di HashKey Group yang berbasis di Hong Kong, mengatakan insiden tersebut berpotensi menekan minat investor terhadap aset berisiko dan mendorong mereka mengevaluasi kembali keamanan dana yang disimpan di platform perdagangan kripto.

Sementara itu, Cristiano Ventricelli, Wakil Presiden bidang Aset Digital di Moody's Ratings, menilai dampak jangka panjang terhadap industri akan bergantung pada besarnya kerugian akhir, pihak-pihak yang terdampak, serta keberhasilan pemulihan aset.

Menurutnya, hal yang paling penting adalah apakah insiden tersebut akan memicu gangguan lebih luas atau menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap ekosistem aset digital secara keseluruhan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Binance Kecolongan Rp114 Triliun, Dibobol Hacker Korea Utara


Most Popular
Features