Awan Hujan di Atas Kalimantan dan Sumatra Melonjak
Jakarta, CNBC Indonesia - Potensi pertumbuhan awan hujan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah cukup tinggi. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan ini terjadi setidaknya selama lima hari ke depan.
"Kalau Kalimantan Tengah, hari ini sampai dengan lima hari ke depan ini potensinya tinggi untuk pertumbuhan awan. Kalau di Sumatra Selatan, itu mulai besok sampai lima hari ke depannya, ini tinggi," jelas Faisal, Senin (27/10/2026).
Dia menjelaskan fenomena ini terjadi tak lepas dari upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan BMKG. OMC dilakukan di sejumlah wilayah yang memiliki titik panas cukup banyak.
Operasi ini dikombinasikan penggunaan dry ice dengan garam (NaCl) untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dia menjelaskan upaya tersebut dilakukan secara masif atas arahan presiden.
"Kami menggunakan juga pesawat Hercules, CN-295, hingga pesawat lain yang dimiliki oleh TNI," ujar dia.
Sebelumnya, hujan dengan intensitas tinggi dilaporkan terjadi di wilayah seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan usai upaya OMC serta dry ice dan NaCl dilakukan.
Faisal menjelaskan OMC dan dry ice digunakan untuk mengurangi kepekataan asap. Yakni dengan membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkapa di bawah ketinggi 6.000-7.000 kaki.
Setelah naik, Matahari akan memicu penguapan dan terbentuk awan hujan. Dari sana, BMKG bakal melakukan penyemaian awan menggunakan NaCl.
Sementara itu, Faisal menjelaskan sebagian wilayah Indonesia bakal memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncak musim hujan disebut terjadi Desember hingga Februari, perlu untuk diwaspadai karena bersifat normal.
Dia menambahkan musim hujan rata-rata di Indonesia diperkirakan mundur 20-30 hari. Penyebabnya karena pengaruh fenomena El Nino.
(npb/dem) [Gambas:Video CNBC]