Bos IMF Ingatkan 'Tsunami AI', Awas Gen Z Terdampak!

Martya Rizky,  CNBC Indonesia
18 October 2026 12:40
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers tentang penilaian tahunan ekonomi Tiongkok di Beijing pada 10 Desember 2025. (Photo by ADEK BERRY / AFP)
Foto: Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers tentang penilaian tahunan ekonomi Tiongkok di Beijing pada 10 Desember 2025. (AFP/ADEK BERRY)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, memperingatkan dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja yang berpotensi menjadi seperti "tsunami yang bergerak lambat". Generasi muda yang baru memasuki dunia kerja dinilai menjadi kelompok paling rentan terdampak.

"Yang paling perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar kerja," kata Georgieva, dikutip dari Fortune, Minggu (18/10/2026).

Menurutnya, pekerja muda biasanya memulai karir dari pekerjaan rutin dan berulang sebelum naik ke posisi lebih tinggi. Namun, perkembangan AI berpotensi mengubah jalur karir tersebut.

IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia akan mengalami perubahan, baik bertambah, berkurang, maupun hilang akibat kemajuan AI. Dampaknya diperkirakan lebih signifikan di negara maju, terutama bagi pekerja dengan keterampilan menengah yang pekerjaannya rentan diotomatisasi.

"Singkirkan mitos bahwa AI mengurangi permintaan tenaga kerja. Yang terjadi adalah AI menggeser permintaan tenaga kerja saat ini. Itu mungkin tidak akan terjadi di masa depan," ujarnya.

Georgieva menilai pemerintah perlu menyesuaikan sistem pendidikan agar pekerja dapat terus mengembangkan keterampilan sepanjang kariernya. Gangguan pasar kerja juga berisiko menekan penerimaan pajak dan memperburuk kondisi keuangan pemerintah.

Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam turut menyoroti menyusutnya peluang kerja bagi lulusan baru. Di Singapura, proporsi lulusan universitas yang memperoleh pekerjaan penuh waktu tercatat 74,4% pada 2025, turun dari 79,4% pada 2024, menurut data yang dilaporkan The Straits Times.

"Langkah pertama dalam dunia kerja, pekerjaan pertama Anda setelah lulus, kini mengalami penurunan permintaan," ucap Shanmugaratnam.

Shanmugaratnam memperingatkan, jika persoalan tersebut tidak ditangani sejak dini, lulusan baru akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan dan kehilangan kesempatan membangun keterampilan.

"Kita tidak boleh kehilangan itu karena jika kita kehilangan itu, kita tidak hanya kehilangan sekelompok anak muda yang harus menunggu selama setahun dan kemudian bersaing dengan kelompok berikutnya di tahun berikutnya, tetapi kita juga kehilangan lebih dari satu tahun keterampilan," tutur Shanmugaratnam.

"Kita kehilangan serangkaian atribut tak berwujud, dan kita kehilangan kepercayaan pada masa depan," sambungnya.

Di sisi lain, sejumlah pemimpin industri teknologi menilai dampak AI terhadap pekerjaan belum sepenuhnya sesuai dengan perkiraan awal. CEO OpenAI Sam Altman mengakui teknologi tersebut belum menghilangkan pekerjaan kerah putih tingkat pemula secepat yang ia perkirakan.

"Saya senang ternyata saya salah," kata Altman dalam wawancara pada Mei.

Sementara itu, CEO Anthropic Dario Amodei menilai otomatisasi dapat mengubah komposisi pekerjaan sekaligus meningkatkan produktivitas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga optimistis AI pada akhirnya akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihilangkan.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Cari Kerja Makin Susah, Presiden Kasih Peringatan ke Lulusan Sarjana


Most Popular
Features