Nasib Pedagang HP Miris Jualan Tak Laku, Cuma Merek Ini yang Laris

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 October 2026 15:00
Suasana pedagang di ITC Kuningan di Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Intan Rakhmayanti Dewi)
Foto: Suasana pedagang di ITC Kuningan di Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Intan Rakhmayanti Dewi)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri smartphone global tengah babak belur. Pengiriman ponsel pintar dunia merosot tajam hingga 20% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal III-2026, mencatatkan titik terendah untuk periode kuartal ketiga sejak tahun 2012.

Krisis ini dipicu oleh kelangkaan parah serta lonjakan harga komponen memori (DRAM dan NAND) akibat aksi borong masif dari proyek-proyek infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, biaya komponen melonjak dan memaksa pabrikan mendongkrak harga eceran perangkat hingga rata-rata 20% sepanjang 2026.

Di tengah terjangan badai yang melumpuhkan pasar massal, peta persaingan global menunjukkan kontras yang tajam. Sederet vendor asal China mengalami kejatuhan parah, sementara dua raksasa teknologi dunia, Samsung dan Apple, justru sukses mencetak rekor dan makin mendominasi pasar lewat strategi segmen premium mereka.

HP China Babak Belur, Xiaomi Terjun Bebas

Laporan terbaru Counterpoint Research mengungkap bahwa merek-merek papan atas China seperti Xiaomi, OPPO, dan vivo menjadi korban paling babak belur akibat ketergantungan mereka pada volume penjualan di segmen entry-level hingga mid-range.

  • Xiaomi mencatatkan rekor kejatuhan paling parah di antara pemain utama, di mana pengirimannya terjun bebas lebih dari 30% YoY. Porsi pangsa pasar Xiaomi tergerus hingga tersisa 10%. Perusahaan terpaksa mengerem produksi ponsel murah dan memangkas ekspansi luar negeri demi menghindari kerugian operasional akibat margin yang tidak ekonomis.
  • OPPO (termasuk lini OnePlus dan realme) serta vivo turut mengalami anjlok pengiriman lebih dari 20% YoY, membuat pangsa pasar masing-masing menciut menjadi 9% dan 8%. OPPO bahkan harus melakukan konsolidasi operasional lintas merek demi efisiensi, sementara vivo terpaksa mengorbankan model murah seri Y yang tergeser dari rentang harga terjangkau.

Samsung dan Apple Unjuk Gigi

Berbeda nasib dengan para kompetitor asal Negeri Tirai Bambu yang krisis margin, Samsung dan Apple justru membuktikan daya tahan luar biasa berkat kekuatan ekosistem dan penguasaan di segmen kelas atas (flagship).

Samsung sukses mempertahankan takhta penguasa pasar global dengan mengamankan pangsa pasar sebesar 23%, lonjakan pangsa tertinggi di antara seluruh pabrikan.

Meskipun volume pengiriman Samsung terkoreksi tipis 3% YoY, pundi-pundi pendapatan perusahaan tetap perkasa berkat tingginya permintaan pada lini ponsel lipat flagship Galaxy Z Fold8. Ditambah lagi, kepastian rantai pasok komponen yang stabil turut mengamankan penjualan seri Galaxy A di negara-negara berkembang di tengah mundurnya pemain China.

Di sisi lain, Apple mencetak sejarah gemilang. Pangsa pasar raksasa Cupertino ini berhasil menembus angka 22%, menjadi pencapaian kuartal ketiga tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Kendati volume pengiriman sempat tertahan akibat absennya model dasar iPhone 18 pada fase peluncuran awal, moncernya penjualan lini iPhone 18 Pro, khususnya di pasar China dan India, berhasil menjadi penyelamat sekaligus motor penggerak kinerja Apple.

Berikut ringkasan data pangsa pasar pengiriman smartphone global (sell-in) kuartal III-2026 versi Counterpoint Research:

Produsen (OEM) Pangsa Pasar Q3 2025 Pangsa Pasar Q3 2026 Tren Kinerja
Samsung 19% 23% Menguat (Naik Pangsa Pasar)
Apple 18% 22% Rekor Kuartal III Tertinggi
Xiaomi 12% 10% Anjlok >30%
OPPO 9% 9% Anjlok >20%
vivo 8% 8% Anjlok >20%
Lainnya 34% 28% Tergerus

Prospek Belum Cerah

Counterpoint memproyeksikan industri smartphone belum akan keluar dari zona merah dalam waktu dekat. Para produsen diprediksi akan terus menempuh strategi konservatif: memangkas volume produksi, merampingkan portofolio, dan mati-matian mengandalkan segmen flagship.

Bagi konsumen di segmen sensitif harga (price-sensitive), tekanan dipastikan bakal semakin berat menyusul tingginya harga perangkat dan terbatasnya ketersediaan komponen hingga rantai pasok global benar-benar pulih.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article HP China Tidak Laku, Jualan Oppo-Xiaomi-Vivo Anjlok Parah


Most Popular
Features