Semua Lampu Tanda Bahaya Menyala, Puncaknya 2 Bulan Lagi Ancam RI

Redaksi,  CNBC Indonesia
12 October 2026 08:10
PETA PERINGATAN DINI KEKERINGAN METEOROLOGIS BERLAKU DASARIAN III SEPTEMBER 2026
Foto: BMKG

Jakarta, CNBC Indonesia - Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis kini berada di titik tertinggi yang pernah tercatat, menandakan peristiwa El Niño tahun ini sedang berkembang menjadi yang terkuat sejak lebih dari setengah abad lalu. Para ilmuwan memperingatkan dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dikutip Senin (12/10/2026).

Suhu harian di Pasifik tropis kini 6 derajat Fahrenheit (sekitar 3,3°C) di atas tingkat normal yaitu rekor tertinggi sepanjang pengamatan. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menaikkan kemungkinan El Niño ini menjadi yang terkuat sejak tahun 1950, dari 75% menjadi 83%. Banyak ilmuwan meyakini dampaknya bahkan bisa melampaui catatan sebelumnya.

"Lampu bahaya semua menyala. Peristiwa El Niño ekstrem ini akan berdampak luas secara global," ujar Daniel Swain, ilmuwan iklim dari Universitas California, Los Angeles. "Kita belum pernah melihat peristiwa sebesar ini sebelumnya, apalagi di tengah iklim dunia yang terus memanas."

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan El Niño ini akan mencapai puncaknya pada Desember 2026. Suhu rata-rata permukaan laut diperkirakan 8,66 derajat Fahrenheit (4,8°C) di atas tingkat normal yaitu angka tertinggi sejak pencatatan dimulai.

El Niño terjadi ketika angin pasat melemah bahkan berbalik arah, mendorong air hangat mengalir ke arah timur. Hal ini mengubah pola hujan di seluruh dunia. Sebagian wilayah akan dilanda kekeringan panjang, sedngkan wilayah lain kebanjiran hujan lebat yang merusak pertanian.

UNICEF memperkirakan lebih dari 347 juta anak akan terkena dampak langsung kondisi iklim ekstrem akibat El Niño, baik kekeringan, banjir, maupun cuaca panas yang mematikan.

"Kita harus bertindak sekarang untuk melindungi masyarakat dan anak-anak," tegas Direktur Pelaksana UNICEF Catherine Russell.

Sementara itu, analisis dari Laboratorium Dampak Iklim Universitas Chicago memproyeksikan kenaikan suhu akibat El Niño dapat menyebabkan 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia akibat dampak panas ekstrem.

Bagi Indonesia, El Niño biasanya membawa curah hujan di bawah rata-rata yang memperpanjang musim kemarau. Potensi kekeringan dapat mengganggu pertanian, persediaan air bersih, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Sebaliknya, beberapa wilayah dapat mengalami hujan ekstrem secara tiba-tiba.

Para ahli mengingatkan bahwa ini bukan sekadar soal cuaca panas. Ini tentang sistem iklim yang berubah secara mendasar dan kesiapan kita menghadapinya menentukan seberapa besar kerugian yang akan ditanggung.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article El Nino Lepas Gelombang Raksasa di Bawah Laut, RI Rasakan Dampaknya


Most Popular
Features