Potensi Hujan Lebat di Wilayah RI Sampai 12 Oktober, Ini Cakupannya

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
07 October 2026 18:40
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (Dok. BMKG)
Foto: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring munculnya potensi peningkatan curah hujan yang akan mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 15 hingga 21 Februari 2026. (Dok. BMKG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia hingga 12 Oktober 2026. Namun, di tengah prediksi hujan ekstrem lokal tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia justru masih menghadapi kondisi kering.

BMKG mencatat sekitar 79,65% wilayah Indonesia diprakirakan hanya menerima curah hujan kategori rendah, yakni 0-50 mm per dasarian, pada Dasarian I Oktober 2026. Dominasi curah hujan kategori rendah ini menunjukkan kekeringan masih mendominasi, terutama di wilayah yang sebelumnya mengalami periode tanpa hujan panjang.

Meski begitu, hujan lebat hingga sangat lebat tetap berpotensi terjadi di beberapa wilayah akibat dukungan dinamika atmosfer skala regional. Pada 6-9 Oktober, status siaga hujan lebat hingga sangat lebat berlaku untuk Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Kalimantan Utara.

BMKG juga memperkirakan hujan intensitas sedang meningkat di sejumlah wilayah, yang mencakup Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.

Memasuki 10-12 Oktober, potensi hujan lebat hingga sangat lebat diprediksi teradi di Sumatra Barat dan Jawa Barat. Sementara, potensi hujan sedang meluas ke Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.

Kondisi ini memperlihatkan kontras cuaca yang cukup tajam. Pada awal Oktober 2026, pola cuaca di Indonesia masih berada dalam pengaruh kuat faktor iklim global yang kurang mendukung peningkatan curah hujan secara merata.

El Niño dengan intensitas sangat kuat masih bertahan di kawasan Samudra Pasifik ekuatorial, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut mengurangi pasokan uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat.

"Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan kondisi atmosfer yang relatif lebih kering masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah Indonesia," jelas BMKG dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (7/10/2026).

Di tengah dominasi kondisi kering, peluang terjadinya hujan masih tetap ada di beberapa wilayah akibat dukungan dinamika atmosfer skala regional. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan berada di sekitar Samudra Hinda.

Dukungan gelombang atmosfer, kondisi suhu muka laut yang relatif hangat, serta pola konvergensi dan belokan angin tersebut dapat menciptakan lingkungan atmosfer yang lebih kondusif bagi pertumbuhan awan hujan.

"Karena itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir maupun angin kencang, masih berpeluang terjadi secara lokal," terang pihak BMKG.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BMKG Ungkap Awal dan Puncak Musim Hujan di RI


Most Popular
Features