China Dituduh Maling, Orang Terkaya AS Beri Komentar Tak Terduga
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Nvidia, Jensen Huang, menyampaikan pandangan yang berbeda dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait praktik pelatihan model AI (distillation). Huang menyebut teknik melatih model kecerdasan buatan menggunakan keluaran (output) dari model lain sebagai bentuk kompetisi, bukan pencurian seperti yang dituduhkan oleh Gedung Putih.
Pernyataan tersebut disampaikan Huang dalam wawancara dengan program Squawk Box di CNBC International. Saat ditanya apakah distillation merupakan tindakan perampokan, Huang menjawab bahwa itu adalah bagian dari kompetisi.
"Kamu diperbolehkan menguji produk orang lain sesuka hati," kata Huang. Ia menjelaskan bahwa produk Nvidia juga terkadang dibongkar hingga ke bagian paling dasar oleh perusahaan lain untuk memahami cara kerjanya.
"Saya sebenarnya lebih suka mereka tidak melakukannya. Saya lebih suka tidak ada yang mempelajari produk kami, dan kami bisa terus melaju dengan nyaman. Tapi, sejujurnya, kompetisi membuat semuanya menjadi lebih baik," ujarnya.
Huang juga mengatakan bahwa perusahaan yang tidak ingin produknya digunakan untuk proses tersebut dapat membatasi akses terhadap layanannya.
"Jika Anda tidak suka orang menggunakan produk Anda, yang harus Anda lakukan adalah mengetahui siapa pelanggan Anda dan menonaktifkan layanan tersebut," kata Huang.
Pandangan Huang ini berseberangan dengan sikap para pejabat AS. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Juli lalu menyebut distillation sebagai "pencurian" dan mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan asing yang menggunakan teknik tersebut untuk mengambil kemampuan dari model AI buatan AS.
Praktik distillation kini menjadi salah satu titik ketegangan dalam persaingan antara AS dan China untuk menguasai teknologi AI. Pada awal September, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) menuduh perusahaan-perusahaan AI asal China menjalankan "kampanye distilasi pengetahuan berskala industri" yang melanggar ketentuan penggunaan perusahaan AS.
Sebelumnya, perusahaan AI Anthropic juga mengklaim menemukan Alibaba (pengembang keluarga model Qwen) serta DeepSeek melakukan "distilasi ilegal".
Huang diketahui sebagai salah satu pihak yang menerima manfaat utama dari ledakan teknologi AI. Nvidia yang ia pimpin merupakan raja produsen chip AI tercanggih yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan AI.
Saat ini, Huang tercatat sebagai orang ke-7 terkaya di dunia menurut Forbes. Harta kekayaannya bernilai US$196,7 miliar atau setara Rp3.516 triliun.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]