Raja Judol Perang Melawan Pemerintah, Tak Terima Disebut Bisnis Ilegal
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik panas terjadi antara pemerintah Negara Bagian New York, Amerika Serikat (AS), dengan perusahaan prediction market (pasar prediksi) ternama, Polymarket. Kedua pihak resmi saling melayangkan gugatan hukum (dueling lawsuits) karena platform taruhan tersebut dituding melanggar undang-undang perjudian yang berlaku.
Dalam dokumen gugatan yang diajukan pada Kamis (24/9) waktu setempat, Jaksa Agung New York Letitia James menegaskan bahwa Polymarket telah beroperasi secara ilegal sebagai wadah judi online (judol) tanpa mengantongi izin resmi dari Komisi Permainan Negara Bagian New York (New York State Gaming Commission).
Langkah hukum agresif ini menyusul serangkaian gugatan serupa yang sebelumnya dilayangkan kantor James terhadap para kompetitor Polymarket, seperti Kalshi, Coinbase, hingga Gemini Titan.
"Undang-undang perjudian kami ada untuk melindungi warga New York, mencegah dampak buruk dari kecanduan judi, serta mengamankan pendanaan bagi program pendidikan dan kesejahteraan publik," ujar James dalam keterangan resminya, dikutip dari Aljazeera, Jumat (25/9/2026).
"Dengan mengabaikan hukum di New York, Polymarket menyasar kalangan yang paling rentan dan merampas layanan penting dari keluarga-keluarga di sini," tambahnya.
Sasar Kalangan Muda dan Terseret Isu Kartu Debit Curian
Tidak hanya beroperasi tanpa izin, gugatan sepanjang lebih dari 30 halaman itu juga menyebutkan bahwa Polymarket secara aktif mendorong perjudian di kalangan generasi muda. Platform yang kini bernilai lebih dari US$20 miliar (sekitar Rp358 triliun) ini dituding menargetkan pengguna berusia 18 tahun, padahal regulasi negara bagian mensyaratkan usia minimal 21 tahun untuk taruhan olahraga seluler (mobile sports betting).
Gubernur New York Kathy Hochul turut melontarkan kritik pedas. Menurutnya, tindakan Polymarket tidak hanya melanggar hukum secara sadar, tetapi juga membahayakan masa depan generasi muda yang rentan terhadap masalah kecanduan game dan judol.
Tekanan terhadap Polymarket makin meruncing menyusul laporan investigasi The Wall Street Journal baru-baru ini. Laporan tersebut mengungkap adanya gelombang pengguna yang menggunakan kartu debit curian untuk melakukan deposit dan taruhan di platform tersebut hingga menguras rekening korban.
Meski demikian, CEO Polymarket Shayne Coplan dikabarkan sempat merespons santai isu tersebut dengan instruksi internal. "Mari kita terus bertumbuh dan bayar denda saja kalau regulator suatu saat mengetahuinya".
Sebut Kebijakan New York Langgar Hukum Federal
Polymarket juga melayangkan gugatan balik (countersuit) di pengadilan federal Manhattan hanya berselang beberapa jam kemudian.
Perusahaan berargumen bahwa New York telah menempatkan mereka dalam posisi "pilihan mustahil", antara tunduk pada tekanan regulator lokal atau melanjutkan operasional dengan ancaman sanksi pidana masif.
Polymarket menegaskan bahwa otoritas tunggal untuk meregulasi pasar prediksi berada di tangan badan federal, yakni Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (Commodity Futures Trading Commission / CFTC).
"Ini adalah bentuk arogansi kekuasaan tingkat negara bagian yang secara jelas dilarang oleh hukum federal," tulis pihak Polymarket dalam dokumen hukumnya.
Chief Legal Officer Polymarket, Neal Kumar, menyayangkan sikap pejabat setempat yang lebih memilih membesarkan masalah lewat media alih-alih berdialog secara substantif. "Kami memilih berinteraksi langsung mengenai substansinya, namun mereka lebih menyukai pemberitaan media," timpal Kumar.
Hubungan dengan Keluarga Trump
Konflik ini memperuncing ketegangan antara sejumlah negara bagian AS (seperti Arizona, Massachusetts, dan Nevada) dengan pemerintah federal terkait legalitas pasar prediksi, sebuah instrumen yang memungkinkan pengguna bertaruh pada berbagai event contracts, mulai dari pemilu, politik, penghargaan, hingga peristiwa geopolitik krusial.
Sorotan publik terhadap pasar prediksi kian membara setelah platform ini sempat memfasilitasi taruhan sensitif beberapa jam sebelum AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran awal tahun ini.
Menariknya, kasus ini juga beririsan dengan lingkaran kekuasaan di Washington. Polymarket diketahui memiliki kedekatan strategis dengan keluarga Presiden Donald Trump.Â
Startup ini mendapat suntikan modal dari 1789 Capital, sebuah firma modal ventura yang didukung oleh Donald Trump Jr., putra sulung sang presiden, yang juga duduk sebagai anggota dewan penasihat Polymarket.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]