Gaji Rp 17 M Tak Cukup, Karyawan 41 Tahun Pilih Resign Mulai dari 0

Redaksi,  CNBC Indonesia
25 September 2026 12:20
FILE PHOTO: A logo is pictured at Google's European Engineering Center in Zurich, Switzerland July 19,  2018   REUTERS/Arnd Wiegmann/File Photo
Foto: REUTERS/Arnd Wiegmann

Jakarta, CNBC Indonesia - Gaji fantastis dan kenyamanan kerja ternyata belum tentu cukup untuk menahan talenta-talenta top di industri teknologi. Di tengah gelora kecerdasan buatan (AI) saat ini, fenomena hijrah massal karyawan dari raksasa teknologi menuju ekosistem startup AI tengah menjadi tren baru yang mencuri perhatian dunia.

Salah satu contoh paling nyata datang dari Yousuf Imran, seorang Account Executive (AE) Google berusia 41 tahun. Sepanjang tahun ini, ia berhasil mengantongi total pendapatan hingga US$986.000 (sekitar Rp17,6 miliar). Sebagian besar berasal dari komisi penjualan yang melengkapi gaji pokoknya senilai US$170.000 (sekitar Rp3 miliar) per tahun.

Kendati sudah mengantongi posisi mapan dengan pendapatan selangit, Imran memilih untuk melepaskan semuanya. Ia menilai kompensasi raksasa mesin pencari itu sudah tidak lagi sebanding dengan tawaran "mengubah hidup" yang disodorkan oleh startup AI papan atas lainnya.

"Gaji dari Google sangat besar, tetapi kompensasi ekuitas di OpenAI dan Anthropic benar-benar di level yang berbeda," ungkap Imran, dikutip dari Business Insider dan Entrepreneur.

Alhasil, pada April lalu, Imran memberanikan diri untuk mengundurkan diri dari Google untuk meluncurkan startup tool penjualan AI mulai dari nol. Menurut Business Insider, keluarnya Imran dari Google menjadi penanda bahwa raksasa teknologi tersebut mulai kehilangan 'taring' di era AI.

Paket kompensasi dan tunjangan Google selama ini dinilai sangat menarik dan memikat para pencari kerja. Menurut perusahaan employer branding Universum, Google merupakan pemberi kerja yang paling diminati oleh mahasiswa jurusan bisnis selama lebih dari satu dekade, dari 2009 hingga 2022.

Status itu akhirnya direbut oleh Apple. Hal ini bersamaan dengan tersingkirnya dominasi Google sebagai raja internet, berkat kemunculan raksasa-raksasa AI baru.

Alasan di Balik Eksodus Karyawan Google

Keputusan besar yang diambil Imran bukan sekadar soal angka di atas kertas. Ada beberapa faktor krusial yang membuat dominasi Google sebagai tempat kerja idaman mulai goyah:

  • Bayang-Bayang PHK Massal: Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan Google sejak 2023 memicu kecemasan tersendiri di kalangan internal, membuat karyawan merasa tidak lagi memiliki jaminan keamanan kerja mutlak.
  • Daya Tarik Ekuitas Startup AI: Perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic menawarkan imbalan non-tunai berupa kepemilikan saham dengan potensi keuntungan finansial jangka panjang yang jauh lebih bombastis.
  • Pemangkasan Fasilitas Mewah: Google yang dulunya terkenal dengan tunjangan super roya, -mulai dari camilan gratis, kafetaria premium, hingga layanan pijat, kini secara sistematis memangkas berbagai fasilitas tersebut demi efisiensi biaya.
  • Peluang Inovasi yang Menantang: Para peneliti dan talenta top mendambakan tantangan baru yang lebih segar, terbukti dari langkah sejumlah peneliti AI andalan Google seperti Jonas Adler dan Alexander Pritzel yang memilih hengkang ke Anthropic.

Bergesernya Era Kejayaan Raksasa Teknologi

Selama lebih dari satu dekade (2009-2022), Google memegang takhta sebagai pemberi kerja paling diminati oleh mahasiswa jurusan bisnis versi lembaga Universum. Namun, tahta tersebut kini direbut oleh Apple, seiring bergesernya lanskap industri akibat dominasi era AI.

Berdasarkan laporan resmi perusahaan, median penghasilan karyawan Google sebenarnya masih sangat kompetitif di angka US$331.894 (sekitar Rp5,9 miliar) pada 2024, naik 5% dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, pihak Google tetap optimistis bahwa perusahaan masih memiliki daya tarik yang kuat untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaiknya.

Meski demikian, langkah Imran yang resmi meninggalkan Google pada April lalu untuk merintis startup tool penjualan AI dari nol menjadi sinyal kuat, yakni era keemasan kenyamanan korporat tradisional kini mulai bergeser, tersengat oleh magnet kekuatan ekonomi baru di sektor AI.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ramai-Ramai Tinggalkan Google, Langsung Bikin Pengganti Baru


Most Popular
Features