Hacker Ungkap Fakta Tak Teduga Kamera Pelacak Plat Mobil di Jalan Raya

Redaksi,  CNBC Indonesia
17 September 2026 14:25
Ilustrasi flock safety kamera di jalan raya. (Istimewa)
Foto: Ilustrasi flock safety kamera di jalan raya. (Istimewa)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekelompok peretas dilaporkan merobohkan kamera pengawas (surveillance) milik Flock Safety yang terpasang di atas jalan raya. Sebagai informasi, Flock Safety merupakan perusahaan asal Amerika Serikat (AS). Kamera yang dikembangkan memiliki tujuan untuk investigasi kejahatan lalu-lintas, seperti pencurian mobil, serta pelacakan buronan dan orang hilang. 

Meskipun sama-sama melacak plat mobil, kamera yang dikembangkan Flock Safety berbeda dengan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) di Indonesia. ETLE difungsikan untuk penegakkan hukum dan tilang atas pelanggaran lalu lintas. 

Flock Safety merekam semua kendaraan yang melintas di jalan raya secara terus-menerus, sementara sistem ETLE hanya menangkap gambar/video ketika terjadi pelanggaran lalu-lintas. 

Flock Safety juga hanya mencakup wilayah di Amerika Serikat, sementara ETLE beroperasi di Indonesia yang dijalankan oleh Korlantas Polri.

Kembali ke kasus pembobolan kamera Flock Safety, hacker disebut mengambil salinan data secara hampir utuh dari perangkat tersebut, serta membagikan dokumen-dokumennya kepada media teknologi 404 Media dan WIRED.

Aksi pembobolan ini membuka tabir baru sekaligus mengungkap secara mendetail bagaimana kamera pengawas besutan Flock melacak pergerakan kendaraan hingga pejalan kaki di ruang publik. Tak hanya itu, para peretas juga memublikasikan celah serta cara mereka meretas perangkat lunak tersebut dengan harapan aksi serupa dapat ditiru pihak lain.

Bongkar Enkripsi Kamera Pengawas

Insiden pembobolan ini memberikan akses investigasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sistem yang selama ini diklaim Flock dilindungi oleh pengamanan enkripsi tingkat tinggi pada perangkat (on-device encryption).

Dalam aksinya, para peretas berhasil menyalin data penyimpanan kamera dan memulihkan kunci enkripsi (encryption key) di dalam perangkat. Kunci inilah yang kemudian dipakai untuk membuka ribuan video rekaman deteksi kendaraan.

Bersama lembaga nirlaba transparansi Distributed Denial of Secrets, materi tersebut diserahkan kepada 404 Media dan WIRED untuk dianalisis secara mendalam melalui investigasi gabungan.

Meskipun sebagian besar data sensitif dari pembaca pelat nomor otomatis atau Automatic License Plate Reader (ALPR) tetap terenkripsi, hasil analisis mendeteksi adanya perangkat lunak di dalam kamera yang secara eksplisit mampu mengenali manusia, kendaraan, pelat nomor, hingga sepeda, dikutip dari 404 Media, Kamis (17/9/2026).

Satu unit kamera dilaporkan mampu menghasilkan puluhan gambar dari setiap kendaraan yang melintas. Berdasarkan log aktivitas selama beberapa pekan, perangkat tersebut tercatat menghasilkan lebih dari satu juta gambar. Sistem visi komputer (computer-vision) di dalamnya bahkan kerap mengisolasi stiker bumper hingga atribut spesifik seperti lambang bendera pada tas pengendara motor.

Gelombang Penolakan dan Sabotase

Tindakan perusakan hingga pencopotan paksa kamera Flock menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai geram dengan masifnya pengawasan digital. Di berbagai wilayah, sejumlah orang telah ditangkap akibat menyabotase kamera-kamera tersebut.

Sebagai respons atas gelombang protes, sejumlah kota di AS memutuskan untuk menyetop penggunaan kamera Flock sepenuhnya. Bahkan, sebuah departemen kepolisian setempat terpaksa membuat replika palsu kamera dari cetakan 3D semata-mata untuk mengecoh para pelaku vandalisme.

Dalam sebuah wawancara, salah satu peretas dari kelompok kolektif bernama stegan0gram melontarkan kritik pedas terhadap teknologi pengawasan massal tersebut.

"Mengapa hanya merusak mereka jika kita bisa merekayasa balik (reverse engineer) dan menemukan rahasia dari mereka yang memata-matai kita?" ujarnya. "Kami membebaskan perangkat keras di lapangan, melumpuhkannya, dan melanjutkan rekayasa balik pada kamera serta perangkat penunjangnya."

Jaringan Nasional dan Kontroversi Privasi

Selama ini, kamera Flock memotret kendaraan yang melintas dan mengirimkan datanya ke server pusat perusahaan. Sistem Flock kemudian membaca pelat nomor, mencatat ciri-ciri fisik kendaraan, dan menyimpannya dalam basis data bertanda waktu (timestamped).

Data tersebut tidak hanya dapat diakses oleh instansi lokal pemilik kamera, melainkan terkoneksi ke dalam jaringan nasional yang bisa diakses oleh ribuan instansi lain-mulai dari kepolisian, perguruan tinggi, bandara, hingga instansi federal.

Kendati menawarkan kemudahan penegakan hukum, jaringan terintegrasi ini menuai kontroversi besar. Investigasi sebelumnya mengungkap bagaimana aparat lokal menggunakan jaringan Flock untuk membantu penegakan aturan imigrasi (ICE) di wilayah yang melarang kerja sama semacam itu, hingga pelacakan terhadap warga yang melakukan prosedur medis privat. Temuan-temuan ini memicu perdebatan nasional mengenai batasan privasi masyarakat di ruang publik.

Celah Keamanan dan Temuan Teknis

Berdasarkan analisis file sistem Android di dalam kamera, para peretas mendapati beberapa partisi penyimpanan yang tidak dienkripsi, termasuk direktori yang menyimpan kunci pengaman untuk membuka file video dan foto tangkapan kamera.

Sebelumnya, pada awal 2025, peneliti keamanan siber Jon "GainSec" Gaines sempat membeberkan kerentanan serupa yang memungkinkan akses tingkat akar (root-level access) pada perangkat Flock. Kendati demikian, pihak perusahaan saat itu mengecilkan tingkat keparahannya dengan dalih bahwa celah tersebut memerlukan akses fisik langsung dan rekaman tidak akan bertahan lama di perangkat karena segera diunggah ke server awan (cloud).

Dari hasil pemindaian log aktivitas selama 21 hari, kamera tersebut tercatat memotret sekitar 50.200 kendaraan dengan total 1,6 juta gambar yang dihasilkan. Rata-rata, sebuah kamera memantau hingga 4.300 kendaraan per harinya, bergantung pada tingkat kepadatan lalu lintas di lokasi pemasangan.

Menanggapi insiden pembobolan ini, juru bicara Flock menegaskan bahwa pencabutan dan perusakan kamera pengawas merupakan tindakan melanggar hukum. Terkait temuan kunci enkripsi, pihak perusahaan menyatakan terbuka terhadap laporan kerentanan melalui jalur resmi (Vulnerability Disclosure Policy), namun menilai informasi yang beredar saat ini belum cukup rinci untuk diaudit secara menyeluruh.

Di sisi lain, para pengamat menilai aksi vandalisme maupun peretasan liar dikhawatirkan justru akan menjadi senjata bagi pihak berwenang untuk semakin memperketat pengawasan.

"Jenis vigilantisme seperti itu hanya akan mengkristalkan keyakinan negara bahwa alat pengawas ini sangat diperlukan," ujar Noel Pichardo, mantan petugas kepolisian yang juga kritikus vokal Flock.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pakai Baju ini Biar Wajah Tak Bisa Dilacak dan Dikenali Kamera


Most Popular
Features