Swasta Minta AI Disetop, Tentara Tolak Takut Kalah Disalip China
Jakarta, CNBC Indonesia - Seruan untuk memperlambat laju pengembangan kecerdasan buatan demi keamanan dunia makin kuat. Para ilmuwan serta pemimpin perusahaan teknologi besar menyampaikan kekhawatiran bahwa perkembangan yang terlalu cepat dapat mengancam keselamatan umat manusia.
Namun militer Amerika Serikat menolak perlambatan tersebut dengan alasan tegas. jika berhenti, China akan melampaui dan posisi unggul akan berpindah ke tangan pihak lain, Kamis (17/9/2026).
Pertentangan ini memunculkan dua pandangan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, para pengembang teknologi memperingatkan risiko yang belum diketahui. Di sisi lain, para pengambil keputusan pertahanan menilai bahwa kecepatan adalah pertahanan terbaik.
Para pemimpin industri kecerdasan buatan termasuk pimpinan Anthropic, OpenAI, serta tokoh seperti Elon Musk telah menyampaikan peringatan bersama. Mereka mengajak pemerintah dan pelaku industri untuk menahan laju pengembangan model kecerdasan buatan tingkat tertinggi. Alasannya, kemampuan sistem tersebut berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahami, menguji, maupun mengawasinya. Tanpa jeda, risiko terjadinya kesalahan fatal atau penyalahgunaan yang tidak dapat dikendalikan akan makin besar.
Anggota parlemen dan pejabat pertahanan Amerika Serikat menyampaikan pandangan yang berbeda. Mereka menegaskan bahwa jika Amerika Serikat memperlambat perkembangannya, China akan memanfaatkan kesempatan itu untuk melampaui posisi terdepan. Dalam urusan pertahanan, negara yang tertinggal tidak akan memiliki kesempatan untuk mengejar kembali.
"Menang dan tetap terdepan dalam perlombaan AI mungkin adalah hal paling penting untuk Amerika Serikat, baik dari prespektif militer maupun ekonomi. Ini adalah perlombaan yang AS tak boleh kalah," kata Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink, seperti dikutip Politico.
Kongres AS saat ini mempertimbangkan untuk menyusun UU sebagai kerangka penggunaan AI oleh militer. Pembatasan yang dipertimbangkan termasuk proses peninjauan untuk memastikan bahwa semua sistem otonom dan AI harus memiliki "pertimbangan oleh manusia" dalam pengambilan keputusan.
Beberapa anggota Kongres AS memberikan peringatan bahwa penggunaan AI dalam operasi militer berpotensi membuat sistem militer menjadi rentan terhadap ancaman baru.
"Potensi agen AI lepas liar kemudian mengambil alih website atau merusak sistem, juga ada di Pentagon. Pentagon bisa menjadi kekuatan yang positif untuk mendorong kajian risiko. Namun sampai saat ini, mereka menghindar dari tanggung jawab," kata Senator Richard Blumenthal.
Ilmuwan dan pengembang menginginkan jeda untuk memastikan teknologi aman sebelum diterapkan secara luas. Pihak militer dan keamanan nasional menilai jeda itu sama dengan menyerahkan keunggulan strategis kepada negara saingan.
Kedua belah pihak sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga keselamatan, keamanan dan pertahanan. Namun caranya berlawanan arah. Satu sisi melihat bahaya dari teknologi itu sendiri. Sisi lain melihat bahaya dari ketinggalan dalam persaingan teknologi tersebut.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]