Ilmuwan Kaget Ada Ada Bulu Burung di Kotoran Dinosaurus

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 15/09/2026 19:40 WIB
Foto: Kerangka Gus, si Tyrannosaurus Rex, di rumah lelang Sotheby's di New York City, AS, 1 Juli 2026. (REUTERS/Jordan Tovin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para ilmuwan menemukan sesuatu yang luar biasa dalam fosil kotoran dinosaurus yang berusia jutaan tahun. Di dalam sisa makanan yang telah membatu itu, terdapat sisa-sisa bulu yang diduga berasal dari burung purba. Temuan ini memberikan bukti langsung mengenai kebiasaan makan dinosaurus yang sebelumnya belum pernah diketahui dengan pasti.

Laporan Phys.org, Selasa (15/9/2026), menyatakan bahwa fosil kotoran yang telah membatu itu ditemukan pada lapisan tanah yang berusia sekitar Zaman Kapur. Saat para peneliti memeriksa isinya di bawah mikroskop, mereka terkejut menemukan struktur yang jelas merupakan bagian bulu. Bentuk dan susunan seratnya tidak berasal dari reptil biasa, tetapi memiliki ciri khas bulu burung.

Temuan bulu di dalam kotoran dinosaurus ini memiliki makna yang sangat besar. Selama ini para ilmuwan menduga bahwa sebagian jenis dinosaurus pemakan daging juga memangsa hewan bersayap purba. Namun dugaan itu belum pernah dibuktikan secara langsung.


Kini, temuan bulu yang utuh di dalam sisa pencernaan menjadi bukti paling nyata bahwa dinosaurus tersebut memang secara teratur menangkap dan memakan burung purba yang hidup sezaman dengannya.

Bukan hanya itu, keberadaan bulu yang masih dapat dikenali bentuknya juga menunjukkan bahwa dinosaurus tersebut tidak mengunyah makanannya hingga hancur. Mereka menelan mangsa dalam potongan besar, sehingga sebagian bagian tubuh seperti bulu tidak sempat hancur di dalam perut dan akhirnya tertinggal sebagai fosil yang dapat dipelajari jutaan tahun kemudian.

Temuan ini juga memperkuat gagasan bahwa burung telah hidup berdampingan dengan dinosaurus dalam waktu yang sangat lama. Bahkan pada masa itu, burung belum menjadi penguasa langit sepenuhnya dan justru menjadi salah satu sumber makanan bagi hewan-hewan raksasa yang berjalan di daratan.

Artinya, hubungan antara burung dan hewan pemangsa lainnya ternyata sudah terbentuk sejak ratusan juta tahun lalu. Saat itu, burung tidak menikmati lingkungan yang aman seperti masa kini.

Mereka harus selalu waspada karena baik di darat maupun di udara karena masih banyak pemangsa yang siap menangkap dan memakannya, sebagaimana yang terbukti dari sejumput bulu yang tertinggal di dalam kotoran dinosaurus tersebut.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Trump: Penentang Data Center AI, Antek Asing