Raksasa Teknologi Tumbang Seketika, Dampaknya ke Mana-Mana

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 15/09/2026 14:00 WIB
Foto: Reuters
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan global diguncang gelombang aksi jual masif pada perdagangan Senin (14/9). Saham-saham berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di berbagai belahan dunia mendadak terjun bebas.

Pemicunya berasal dari gejolak di Amerika Serikat (AS). Para bos raksasa teknologi pemilik proyek AI melontarkan peringatan keras perihal risiko eksistensial teknologi tersebut.

Sinyal bahaya ini langsung merontokkan kepercayaan pasar terhadap sektor yang selama ini menjadi motor penggerak rekor tertinggi bursa saham dunia.


Tekanan kian bertambah lantaran ekspansi masif infrastruktur AI selama ini ditopang oleh tumpukan utang dan skema pendanaan silang (circular financing), di tengah tren suku bunga global yang masih bertengger di level tinggi.

Sinyal 'Rem Darurat' dari Para Bos AI

Kepanikan bermula dari esai panjang yang diunggah CEO Anthropic, Dario Amodei, melalui platform X pada akhir pekan lalu. Ia menyerukan agar industri AI segera mengerem laju pengembangan kapabilitas sistem di tengah kekhawatiran penyalahgunaan yang makin tak terkendali.

Seruan moral ini disambut kompak oleh para 'raja' AI lainnya, mulai dari Elon Musk (pemilik xAI) hingga Sam Altman (CEO OpenAI). Bahkan, Altman mengumumkan bahwa OpenAI terpaksa menunda rencana penawaran saham perdana (IPO) mereka tahun ini demi alasan keselamatan.

Amodei memperkirakan, dalam rentang 6 hingga 12 bulan ke depan, agen-agen AI berisiko "mengambil alih seluruh internet dan memicu kerusakan bernilai ratusan miliar dolar," dikutip dari Reuters, Selasa (15/9/2026).

Dalam wawancara terpisah, Altman bahkan menyebut ancaman kepunahan umat manusia akibat AI kini berada di titik yang menuntut tindakan nyata pemerintah dan korporasi.

Saham Semikonduktor dan Chip Jadi 'Korban Utama'

Sentimen horor tersebut langsung direspons negatif oleh pasar modal:

  • Wall Street: Indeks teknologi Nasdaq 100 (.NDX) anjlok 1,2% ke level terendah dalam enam minggu pada perdagangan pagi, sebelum sedikit memangkas kejatuhannya di angka minus 0,4%.

  • Sektor Chip: Philadelphia Semiconductor Index (.SOX) rontok 5,2%. Saham Nvidia (NVDA.O) ambles 3%, Advanced Micro Devices (AMD.O) terpangkas 4,5%, dan Micron (MU.O) terperosok 5,4%.

  • Pabrik & Utilitas: Raksasa pembuat mesin semikonduktor Lam Research (LRCX.O), Applied Materials (AMAT.O), hingga utilitas energi Bloom Energy (BE.N) kompak rontok di atas 6%.

  • Bursa Eropa & Asia: Di Eropa, ASML terpangkas 6% menyeret indeks teknologi regional turun 2,2%. Sementara di Asia, SoftBank ambruk lebih dari 10%, disusul pelemahan tajam pada TSMC dan SK Hynix.

"Jika narasi ini berujung pada perlombaan ulang belanja AI, dampaknya bakal sistemik ke ekonomi riil. Selama ini pasar bursa kita 'terlalu panas' digenjot oleh belanja infrastruktur AI," ujar Steve Sosnick, Kepala Analis Pasar di Interactive Brokers.

Antara Ancaman Kiamat dan 'Drama Politik'

Geger AI ini juga merembet ke ranah kebijakan publik. Di Washington, para negosiator Senat AS dikabarkan tengah menggodok undang-undang baru yang bakal mewajibkan perusahaan AI membuktikan langkah mitigasi risiko mereka.

Namun, resistensi datang dari pucuk pimpinan tertinggi. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menepis kekhawatiran tersebut sebagai 'konspirasi sakit' untuk menjegal industri AI dan pusat data (data center), yang mulai dijadikan komoditas panas dalam isu politik domestik.

Sementara itu, dari kubu seberang, Beijing bereaksi tajam. Melalui kolom editorial Global Times, pemerintah China menuding esai Anthropic sebagai "buku panduan gaya Perang Dingin" yang dirancang untuk membegal laju teknologi Negeri Tirai Bambu, di tengah tekanan kompetisi harga dari model AI murah asal China seperti Kimi K3 (Moonshot AI), Qwen (Alibaba), dan DeepSeek.

Di sisi lain, kaum skeptis di Wall Street memilih abai. Investor legendaris Michael Burry, sosok yang sukses meramal krisis subprime mortgage 2008, menilai peringatan para bos AI tersebut tidak lebih dari "senandung kosong (hype and puffery) untuk menutupi perlambatan pertumbuhan yang mulai tak terkendali."

Morgan Stanley pun mencatat proyeksi belanja AI global berpotensi menembus US$1,3 triliun pada 2027 mendatang.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Peran Konektivitas Andal Percepat Transformasi Bisnis Era AI