Indonesia Nomor Satu, 'Pecandu' Pertama Ditemukan di Wilayah RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia ternyata menjadi tempat lahirnya kebiasaan menggunakan zat adiktif. Penelitian yang dipimpin oleh peneliti asal Australia menemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi pinang atau jambe telah dilakukan oleh manusia di Sulawesi Selatan sejak zaman Es, sekitar 16.000 hingga bahkan 25.000 tahun yang lalu.
Temuan ini berarti nenek moyang penduduk Indonesia sudah mengenal zat yang memberi efek menenangkan dan membius jauh sebelum manusia mulai bertani. Kebiasaan ini adalah yang paling awal ditemukan dibanding wilayah lainnya di dunia
Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Science Advances oleh tim peneliti yang terdiri dari Adam Brumm dan Carney D. Matheson dari Griffith University, Fakhri dari BRIN, Melandri Vlok dari Charles Sturt University, dan Roger Papke dari University of Florida.
Penemuan itu bermula saat tim peneliti menemukan gigi-gigi manusia purba di Sulawesi Selatan yang memiliki lekukan bulat dan dalam yang tidak biasa. Setelah meneliti bentuk lekukan tersebut, para ilmuwan menyimpulkan bahwa lekukan itu terbentuk karena benda keras dan bulat sering diletakkan di antara gigi lalu dihisap dalam waktu yang sangat lama. Benda yang dihisap ternyata bukan lain adalah biji pinang utuh.
Kebiasaan menghisap biji pinang
Ilmuwan sebelumnya mengetahui bahwa kebiasaan mengunyah pinang (betel) yang dicampur kapur dan daun sirih sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Namun penemuan di Sulawesi Selatan membuktikan bahwa asal-usul kebiasaan itu jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Dulu manusia purba tidak mencampur apa pun. Mereka cukup mengambil biji pinang utuh, lalu meletakkannya di antara gigi dan menghisapnya.
"Kami menemukan bahwa zat aktif yang terkandung di dalam biji pinang ternyata dapat terlepas dan masuk ke dalam tubuh hanya dengan cara dihisap saja tanpa perlu dicampur apa pun," ungkap Brumm. "Artinya, nenek moyang kita sudah merasakan efek zat yang memengaruhi kesadaran itu sejak zaman Es, jauh sebelum manusia mulai menanam tanaman atau membuat tembikar."
Peneliti juga menemukan jejak zat aktif pinang yang disebut arekolin pada gigi manusia purba tersebut. Hal itu membuktikan bahwa mereka benar-benar menghisap biji pinang berulang kali sepanjang hidupnya, sehingga meninggalkan lekukan yang dalam hingga ke lapisan dalam gigi yang seharusnya terlindungi.
Kedua manusia purba yang giginya diteliti ternyata menderita kerusakan gigi yang parah. Zat di dalam biji pinang ternyata memiliki sifat membius dan meredakan nyeri. Jadi mereka menghisap biji pinang untuk meredakan sakit gigi yang dideritanya.
Namun makin sering mereka menghisapnya, makin rusak giginya. Makin rusak gigi, makin sering mereka menghisapnya untuk meredakan rasa sakit. Terbentuklah lingkaran kebiasaan yang menyakitkan tetapi terus diulang selama puluhan ribu tahun.
Biji pinang zat 'candu' nomor empat
Kini biji pinang menjadi zat berdampak ke kecanduan yang paling banyak dikonsumsi manusia di seluruh dunia setelah alkohol, kafein, dan tembakau. Setiap hari ratusan juta orang mengunyahnya di wilayah Asia hingga Pasifik. Namun siapa sangka, kebiasaan yang kini merambah ke seluruh dunia itu bermula dari nenek moyang manusia yang hidup di tepian hutan Sulawesi puluhan ribu tahun lalu.
Adam Brumm menegaskan bahwa penemuan ini mengubah pandangan dunia tentang asal-usul kebiasaan manusia.
"Selama ini diperkirakan manusia baru mulai mengenal zat yang memengaruhi kesadaran sekitar 12.500 tahun lalu saat pertanian mulai dikenal. Namun penemuan di Sulawesi menunjukkan bahwa kebiasaan itu sudah ada sejak jauh lebih lebih lama dari perkiraan sebelumnya, dan berasal dari Indonesia."
Artinya, jauh sebelum peradaban besar muncul di sungai-sungai besar dunia, manusia di Indonesia sudah menemukan cara meredakan rasa sakit dan mengubah kesadarannya dari alam yang tumbuh di sekitar mereka.
Kebiasaan itu kemudian menurun dari generasi ke generasi, hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Asia hingga kini.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]