Lindungi Pelanggan, Home Credit Perkuat Literasi & Sistem Anti Fraud

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
10 September 2026 15:05
Acting CEO PT Home Credit Indonesia, Sylvia Lazuarni saat menyampaikan pemaparan dalam Multifinance CEO Gathering 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan dan semakin berkembangnya modus penipuan digital, menjaga kepercayaan pelanggan menjadi tantangan sekaligus prioritas utama bagi industri pembiayaan. Menjawab tantangan tersebut, PT Home Credit Indonesia terus memperkuat sistem keamanan digital sekaligus mendorong literasi keuangan sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen yang berkelanjutan.

Acting Chief Executive Officer Home Credit Indonesia, Sylvia Lazuarni, mengatakan bahwa sebagai perusahaan pembiayaan yang telah menjalankan proses bisnis secara digital dan 100 persen paperless, penguatan sistem pengamanan dan mitigasi risiko fraud menjadi prioritas penting. Sylvia menilai tantangan fraud merupakan isu yang dihadapi seluruh industri jasa keuangan, sehingga diperlukan kombinasi antara penguatan teknologi, edukasi konsumen, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

"Untuk perusahaan pembiayaan seperti Home Credit yang memang sudah berbasis digital dan 100 persen paperless (untuk proses pembiayaannya) melalui aplikasi ini, hal yang harus terus ditingkatkan adalah sistem pengamanannya," kata Sylvia dalam Multifinance CEO Gathering 2026 CNBC Indonesia, di Jakarta, Selasa, (11/8/2026).

Menurutnya, upaya pencegahan fraud tidak hanya bertujuan melindungi pelanggan, tetapi juga menjaga kesehatan portofolio kredit perusahaan. Ia menyoroti risiko penyalahgunaan data pribadi oleh pelaku kejahatan yang dapat merugikan konsumen.

"Kami ingin memastikan pelanggan, khususnya pelanggan Home Credit, tidak menjadi korban fraudster. Misalnya ketika data seseorang digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengajukan pinjaman, padahal yang bersangkutan tidak pernah melakukan pengajuan kredit," katanya.

Sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen, Home Credit juga berkomitmen mendukung program literasi keuangan. Perusahaan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan edukasi yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan serta risiko kejahatan digital.

Selain melindungi pelanggan, Sylvia menegaskan bahwa pencegahan fraud juga penting untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan perusahaan. Tingginya kasus penipuan berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah dan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam melakukan penagihan.

"Perlindungan terhadap portofolio kredit juga sangat penting. Jika banyak terjadi fraud, tentu kualitas portofolio akan terdampak dan kemampuan kami untuk melakukan collection akan semakin sulit. Karena itu, kedua sisi ini, yakni perlindungan pelanggan dan perlindungan portofolio kredit, harus dikelola dengan baik dan seimbang," tutup Sylvia.

Selain melindungi bisnis, manajemen perusahaan menilai pendekatan tersebut juga merupakan bentuk tanggung jawab kepada konsumen, terutama mengingat tingkat literasi keuangan masyarakat yang masih beragam.

"Kita semua di industri ini harus sadar bahwa tidak semua konsumen memiliki tingkat literasi keuangan yang sama. Sebagai bagian dari industri pembiayaan, kami memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menyalurkan kredit. Kami ingin berperan dalam menciptakan akses keuangan yang inklusif sekaligus sehat, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan pembiayaan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, bukan menjadi sumber risiko finansial di masa depan," ujarnya.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Awas! 560.000 Penipu Dunia Serang RI Tiap Hari


Most Popular
Features