Perang Ongkir E-commerce Bikin Pedagang Kecil Merana, Nasibnya Miris

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 14:50 WIB
Foto: Ilustrasi ecommerce. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang ongkir makanan dan ritel instan di China memang mulai mereda setelah diguyur intervensi ketat pemerintah. Namun, di balik meredanya gelontoran diskon besar-besaran dari raksasa teknologi seperti Meituan, Alibaba, dan JD.com, ada warisan kelam yang ditinggalkan, yakni berat dan kerugian telak bagi para pedagang serta restoran kecil.

Sebelumnya, pertarungan brutal pangsa pasar memaksa platform digital menghabiskan miliaran dolar untuk kupon, promo gratis ongkir, hingga insentif demi memanjakan konsumen.

Kendati konsumen di kota besar kini terbiasa menikmati kemudahan belanja instan, mulai dari bahan makanan hingga kosmetik yang tiba dalam waktu 60 menit, para pelaku usaha skala kecil justru menanggung dampak buruknya.


"Pertempuran tersebut memang menguntungkan konsumen, tetapi kerusakan pada operator restoran kecil masih tetap ada," ungkap analis industri makanan Zhu Danpeng, dikutip dari Reuters, Senin (7/9/2026).

Beban Berat di Tengah Perubahan Perilaku Belanja

Dampak dari perang harga ini terlihat nyata pada kinerja keuangan sejumlah pelaku usaha yang sempat menjadi mitra platform. Sebagai contoh, jaringan kedai kopi Luckin Coffee melaporkan penurunan penjualan di toko yang sama (same-store sales) untuk gerai mandiri sebesar 5,3% pada kuartal lalu.

Kinerja itu berbanding terbalik dengan lonjakan 13,8% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menyebut penurunan tersebut tidak lepas dari tingginya basis perbandingan yang tercipta akibat subsidi aplikasi pengiriman sebelumnya.

Di sisi lain, para raksasa teknologi sendiri sempat megap-megap akibat strategi bakar uang ini. Meituan sempat terperosok ke jurang kerugian, profitabilitas Alibaba merosot, hingga laba JD.com hampir menguap, yang oleh para pengamat disebut sebagai fenomena "sama sekali tidak masuk akal dan tidak berkelanjutan".

Kini, ketika para pemain besar mulai beralih fokus membangun infrastruktur logistik jangka panjang, seperti membangun gudang kilat dan supermarket demi mengunci loyalitas konsumen, pedagang kecil tetap harus berjuang sendiri menghadapi gempuran perubahan kebiasaan belanja masyarakat yang telah beralih sepenuhnya ke ritel instan.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce