Krakatau Meletus, Bumi Mendadak Berubah Total-36.000 Tewas Seketika
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena alam yang terjadi di Indonesia sempat mengguncang dunia pada 1883 silam. Letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 menewaskan lebih dari 36.000 jiwa dan menyebabkan suhu Bumi secara keseluruhan turun rata-rata 0,6 derajat Celsius selama berbulan-bulan setelahnya.
Tak heran, gunung berapi di Selat Sunda yang menghubungkan Laut Jawa dan Samudra Hindia tersebut memiliki daya ledak setara dengan bom 200 megaton.
Kebangkitan Krakatau pada 1883 merupakan salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah modern, hanya kalah dari letusan Tambora pada 1815 yang menewaskan 60.000 orang.
Dampaknya dirasakan di seluruh dunia dan bahkan menjangkau jauh ke dalam stratosfer, sehingga Bulan tampak berwarna biru pada malam hari.
Mengutip situs resmi Natural History Museum, Minggu (6/9/2026) letusan tersebut melepaskan sulfur dioksida dan partikel lain seperti abu ke udara. Partikel-partikel ini menyaring warna sinar matahari yang mencapai Bumi.
Warna yang berbeda memiliki panjang gelombang yang berbeda pula, dengan warna merah sebagai yang terpanjang, warna ungu sebagai yang terpendek, dan warna-warna lainnya berada di antara keduanya, mengikuti urutan pelangi.
Partikel vulkanik tersebut berukuran lebih kecil dari satu mikron, yang kira-kira seratus kali lebih kecil daripada ketebalan sehelai rambut manusia. Namun, partikel-partikel itu sedikit lebih lebar daripada panjang gelombang cahaya merah.
Ketika tersebar, partikel-partikel tersebut menyerap cahaya merah sambil membiarkan warna-warna lain melewatinya. Hal ini menghasilkan pemandangan bak dalam mimpi serta memicu berbagai fenomena Bulan Biru (Blue Moon).
"Letusan Krakatau merupakan contoh mencolok dari kekuatan alam yang tak tertahankan," ujar Dr. Martin Mangler, Asisten Ilmiah di Museum Sejarah Alam.
"Dalam sekejap mata, letusan gunung berapi dapat mengubah bentuk seluruh planet dengan berbagai cara, dan fenomena Bulan Biru mungkin merupakan yang paling indah sekaligus paling tidak berbahaya," ungkapnya.
Meskipun letusan Krakatau lebih dari satu abad lalu memengaruhi iklim dan palet warna dunia selama bertahun-tahun, dampaknya kini telah mereda.
Alasan Bulan terlihat biru terjadi karena gunung berapi lain telah meletus sejak saat itu, dan terkadang mereka melepaskan partikel dengan ukuran yang sama seperti yang dihasilkan Krakatau.
Selain itu, beberapa peristiwa kebakaran hutan juga menghasilkan kombinasi sulfur dioksida dan abu yang sama, sehingga menimbulkan efek serupa. Tergantung pada seberapa intens penyebabnya, partikel-partikel tersebut dapat terbawa melintasi negara-negara dan menciptakan fenomena Bulan Biru bagi orang-orang di belahan dunia lain.
(fab/fab)