Awas! 560.000 Penipu Dunia Serang RI Tiap Hari, Uang Hilang Rp16.480 T

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
05 September 2026 16:14
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendartasaat menyampaikan pemaparan dalam Lampung Financial Festival di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendartasaat menyampaikan pemaparan dalam Lampung Financial Festival di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Risiko serangan siber dalam bentuk scam hingga malware dunia terus mengancam Indonesia, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengatakan, tiap harinya serangan malware dan scam ke Indonesia mencapai 560 ribu per hari.

"Paling tidak serangan malware itu tiap hari itu 560.000 dan satu dari dua orang Indonesia itu terpapar scam dalam 12 bulan terakhir ya," kata Filianingsih dalam acara Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026).

Kondisi itu kata dia membuat Indonesia menjadi peringkat kedua yang paling rentan diserang penipuan dunia. Menurut Global Fraud Index 2026, tingkat kerentanan penipuan Indonesia mencapai 6,53, sedikit di bawah Pakistan 7,48.

Di bawah Indonesia ada Nigeria dengan tingkat kerentanan 6,43, India 6,16, Tanzania 5,49, Uganda 5,38, Bangladesh 5,34, Rwanda 4,92, Azerbaijan 4,89, dan Sri Lanka 4,76.

Adapun estimasi kerugian dari penipuan yang telah terjadi mencapai US$ 1,03 triliun atau setara Rp 16.480 triliun. Estimasi kerugian pada 2024 itu bahkan bisa jauh lebih tinggi karena banyaknya kejadian yang tidak dilaporkan, dengan mempertimbangkan reputasi.

"Nah, kita itu adalah kedua ya dikatakan peringkat kedua yang paling rentan penipuan di dunia ya. Estimasi kerugiannya itu bisa sampai Rp 16.480 triliun ya. Jadi ini harus berhati-hati," ujar Filianingsih.

Di tengah besarnya ancaman penipuan dan serangan siber itu, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas penjaga sistem pembayaran Indonesia kata Filianigsih terus memperkuat sistem pengawasan keuangan digital di Indonesia.

"Kita di Bank Indonesia kita punya satu departemen khusus untuk surveillance sistem pembayaran dan perlindungan konsumen," tutur Filianingsih.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Uang Rp 18.000 Triliun Hilang Dirampok Maling M-Banking, Waspada!


Most Popular
Features