Harga iPhone Diprediksi Bakal Naik Gila-Gilaan, Bisa Tembus Rp 50 Juta
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar kurang sedap datang bagi para pencinta produk Apple. Berdasarkan laporan intelijen pasar terbaru dari TrendForce, raksasa teknologi asal Cupertino itu diprediksi harus merogoh kocek empat kali lipat lebih dalam untuk pengadaan komponen memori iPhone 18 Pro dibandingkan model tahun sebelumnya.
Lonjakan biaya yang ekstrem ini memaksa Apple memutar otak. Di satu sisi, beban produksi kian membengkak, namun di sisi lain, perusahaan harus menjaga daya beli konsumen di tengah iklim makroekonomi yang masih lesu.
Harga Memori Meroket Hingga 400%
Tekanan terbesar rantai pasok Apple saat ini berpusat pada komponen memori. Untuk model Pro berkapasitas 256GB, biaya memori pada kuartal III-2026 diperkirakan melonjak hingga hampir 400% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meskipun tim manajemen telah berupaya keras menegosiasikan harga komponen pendukung lainnya, efisiensi tersebut belum mampu meredam tekanan terhadap total biaya komponen (Bill of Materials/BOM). Akibatnya, penyesuaian harga jual eceran di pasaran dinilai sudah menjadi opsi yang tidak terhindarkan.
Sebelumnya, Apple telah mengumumkan kenaikan harga signifikan untuk sebagian besar lini produknya pada Juni lalu, dengan dalih bahwa mereka telah menempuh segala cara untuk menundanya sebelum akhirnya kehabisan opsi. Meski lini iPhone saat itu belum tersentuh, banderol harga baru untuk seri ponsel pintar andalan ini diprediksi bakal segera diumumkan.
Strategi Rem Harga, Andalkan Bisnis Services
Kendati biaya produksi meroket tajam, Apple dikabarkan tidak akan membebankan seluruh selisih harga tersebut secara ugal-ugalan kepada konsumen. Kenaikan harga untuk seri iPhone 18 Pro diprediksi berada di kisaran US$100 (Rp1,7 jutaan) lebih mahal dibanding pendahulunya, iPhone 17 Pro.
Langkah penuh perhitungan ini diambil bukan tanpa alasan. Lonjakan harga yang terlampau tinggi dikhawatirkan justru menjadi bumerang, membuat basis penggemar setia Apple makin jarang melakukan upgrade perangkat. Terlebih lagi, kelesuan ekonomi global menuntut konsumen untuk jauh lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Sebagai strategi bertahan, Apple diproyeksikan akan makin agresif menggenjot pendapatan dari lini bisnis Services (Layanan) guna menambal celah penurunan marjin dari sektor perangkat keras.
iPhone Ultra Lipat Bisa Tembus Rp48 Juta?
Di tengah ketatnya tekanan komponen memori, TrendForce juga membocorkan proyeksi harga untuk salah satu produk paling dinant, yakni iPhone Ultra yang merupakan ponsel lipat (foldable) pertama besutan Apple.
Perangkat inovatif tersebut diprediksi bakal dibanderol mulai dari US$2.299 (Rp40 jutaan).Sementara varian konfigurasi tertingginya disinyalir bakal melampaui angka fantastis US$3.000 (Rp52 jutaan).
Dengan strategi harga yang kian premium ini, Apple sekali lagi mempertaruhkan kesetiaan pasarnya di tengah gelombang inflasi komponen global.
Namun, perlu dicatat ramalan ini belum tentu menjadi kenyataan. Kita lihat saja seperti apa strategi Apple dalam penentuan harga iPhone teranyar di tengah gempuran krisis kelangkaan chip memori!
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]