Negara Lumpuh Dihantam Banjir Bandang, Grup WhatsApp Jadi Penyelamat

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 04/09/2026 15:15 WIB
Foto: REUTERS/Adnan Abidi

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekelompok pakar teknologi dan teknik sipil mendadak menjadi garda terdepan penyelamatan di Nepal. Lewat sebuah grup WhatsApp khusus, mereka memandu tim evakuasi yang berjibaku menyisir lorong-lorong gelap di dalam perut bumi, mencari para korban selamat yang terjebak di terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) pascabanjir bandang dahsyat.

Grup perpesanan darurat ini sejatinya dibentuk oleh para engineer lokal sesaat sebelum dinding air, lumpur, dan bebatuan menerjang kawasan Lembah Trishuli, Nepal, pada Rabu (26/8). Seiring berjalannya waktu, grup WhatsApp tersebut bertransformasi menjadi komando taktis yang sama krusialnya dengan helikopter dan alat berat di lapangan.

Pemerintah setempat menduga sebagian dari sekitar 900 orang yang dilaporkan hilang dari enam kompleks PLTA, dengan tiga di antaranya masih dalam tahap konstruksi, berhasil lolos dari terjangan maut karena berlindung di dalam terowongan saat bencana terjadi.


Namun, menemukan mulut terowongan saja menjadi tantangan berat. Banjir telah memuntahkan 2,2 juta ton material lumpur dan puing, mengubah total kontur geografis lembah tersebut.

Mengandalkan Blueprint Via WhatsApp

"Bisakah kamu mengirimkan gambar tata letak Chilime?" tulis seorang pejabat pemerintah di grup WhatsApp para engineer tatkala tim SAR menyisir reruntuhan PLTA Chilime yang terkubur di dataran tinggi Himalaya, dekat perbatasan China, dikutip dari Reuters, Jumat (4/9/2026).

Tak berselang lama, salah satu dari 500 anggota grup yang berisikan para ahli itu langsung mengirimkan dokumen cetak biru (blueprint) rumah pembangkit (powerhouse) beserta detail peta jalur evakuasi bawah tanah. Percakapan digital yang dipantau Reuters ini menjadi navigasi vital bagi tim di zona merah.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda kehidupan ditemukan di dalam terowongan PLTA Chilime berkapasitas 22 megawatt (MW) maupun di fasilitas lain di hilir lembah. Kendati demikian, Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal mengindikasikan setidaknya delapan orang masih terjebak di Chilime, sementara Otoritas Listrik Nepal menyebutkan ada 46 jiwa yang dikhawatirkan terperangkap di PLTA Rasuwagadhi, wilayah selatan.

"Banjir telah mengubah kontur medan di sekitar terowongan serta merusak struktur aslinya, sementara lumpur, batu, dan puing-puing menumpuk di bagian dalam," ujar juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet.

Bencana banjir bandang yang dipicu oleh keruntuhan gletser (glacier collapse) ini telah merenggut lebih dari 1.200 nyawa, sementara 4.000 orang lainnya masih hilang. Tragedi ini sekaligus melumpuhkan 10% kapasitas total pembangkit listrik nasional Nepal.

Menembus Labirin Bawah Tanah

Di PLTA Rasuwagadhi, tim penyelamat sempat merangsek hingga 250 meter ke dalam terowongan sebelum akhirnya membentur dinding endapan yang tertutup total.

"Kami sedang berupaya menjangkau kembali ke dalam untuk mencari para korban," ungkap Amshu Kiran Shahi, Dewan Pengurus Otoritas Listrik Nepal, yang meyakini puluhan pekerja mungkin bertahan di ruang-ruang udara bawah tanah yang memiliki cadangan logistik.

Para manajer proyek juga memanfaatkan jaringan grup WhatsApp tersebut untuk mengontak para mantan pekerja demi memetakan labirin terowongan yang telah berubah bentuk. Di proyek PLTA Upper Trishuli 3A, tim penyelamat bahkan harus bekerja selama enam hari hanya untuk membuka akses mulut terowongan yang tertimbun longsor, serta menyuplai oksigen lewat pipa demi menjaga asa korban yang mungkin terjebak di rongga sempit.

Di balik operasi masif ini, kisah-kisah penyelamatan dramatis turut mengalir. Jan Jiwan Thakur, engineer sipil di Upper Trishuli 1, lolos dari maut setelah mendapat peringatan dini sepersekian detik sebelum gulungan lumpur menghantam kantornya. Bersama 100 rekan lainnya, ia berlari mendaki lereng bukit, menyaksikan tempat kerjanya rata dengan tanah dalam hitungan menit.

Sementara itu, para keluarga korban kini hanya bisa menggantungkan hidup pada secercah harapan. Rajesh Shrestha, ayah dari seorang engineer lingkungan bernama Rajish (30) yang hilang di Upper Trishuli 1, terus menatap jalanan di luar rumahnya.

"Setiap kali menengok ke luar, saya selalu membayangkan melihatnya membawa tas dan pulang ke rumah," ucap Shrestha lirih. "Saya bertahan hidup hanya berbekal harapan bahwa ia akan kembali."


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Teknologi Bantu Bisnis Konstruksi Makin Produktif, RI Siap?