Ahli Bintang Arab Ungkap Arti Muncul Sungai Baru di Gurun Madinah
Jakarta, CNBC Indonesia - Hujan deras mengguyur sejumlah wilayah di Madinah, Arab Saudi, selama tiga hari. Fenomena tersebut membuat sebagian kawasan gurun berubah, dari yang tadinya hanya hamparan pasir menjadi aliran air yang menyerupai sungai.
Fenomena gurun yang berubah menjadi aliran air ini menarik perhatian penggemar aktivitas off-road. Salah satunya Jawaher Shaheen yang bersama suaminya menjelajahi sejumlah lokasi di sekitar Madinah setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Shaheen mengatakan mereka mengunjungi beberapa lokasi dengan jarak sekitar 15-20 kilometer antara satu titik dan titik lainnya. Intensitas hujan semakin meningkat selama perjalanan.
"Tempat pertama yang kami datangi adalah Al-Qaa di Afrah Al-Raddadi sekitar pukul 4 sore, ketika hujan mulai turun dengan stabil," kata Shaheen, dikutip dari Arab News, Kamis (3/9/2026).
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Al-Furaish. Di lokasi tersebut, hujan turun lebih deras hingga air mulai mengalir di permukaan gurun.
"Lokasi kedua adalah Al-Furaish, tempat hujan turun lebih deras. Karena intensitasnya, air banjir mulai mengalir," ujarnya.
Perjalanan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya memakan waktu sekitar satu jam. Shaheen mengatakan hujan paling deras terjadi di sekitar Malaf Aar di Al-Sadarah.
"Di lokasi pertama dan kedua, hujan berlangsung antara 15 hingga 30 menit dan turun dengan deras sebelum berangsur-angsur melemah hingga matahari terbenam," kata dia.
Shaheen menambahkan, hujan berlangsung selama tiga hari dengan curah hujan paling tinggi terjadi pada Jumat (28/8). Pengalamannya menjelajahi berbagai wilayah Arab Saudi membuatnya tertarik menyaksikan perubahan lanskap gurun Madinah setelah hujan.
"Masih ada kemungkinan hujan turun lagi. Kami sangat antusias dengan musim ini dan menunggu lanskap berubah dari gurun menjadi aliran air, sebelum kemudian menghijau dan berubah seperti surga tersembunyi," tuturnya.
Hujan dan Cuaca Ekstrem
Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM) sebelumnya memperkirakan badai petir yang disertai hujan es terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jazan, Asir, Baha, Makkah dan Madinah.
Awan badai juga berpotensi terbentuk di Hail, Jouf, Northern Borders, Eastern Province hingga Najran. Angin kencang yang membawa debu dan pasir turut berpotensi mengganggu jarak pandang. Di sejumlah wilayah Tabuk, jarak pandang bahkan diperkirakan bisa mendekati nol.
Kondisi serupa juga terjadi di perairan sekitar Arab Saudi. Di Laut Merah, kecepatan angin diperkirakan mencapai 15-35 kilometer per jam dan dapat menembus 50 kilometer per jam di wilayah yang terkena awan badai.
Tinggi gelombang diperkirakan berkisar 0,5-1,5 meter dan dapat melebihi 2 meter ketika badai petir berlangsung. Kondisi laut juga diperkirakan menjadi lebih berbahaya di wilayah yang terdampak badai.
Dikaitkan dengan Bintang Suhail
Fenomena hujan di tengah gurun juga muncul bersamaan dengan periode kemunculan bintang Suhail yang dikenal masyarakat Arab sejak zaman dahulu. Majed Al-Sahoubi, spesialis astronomi dan hubungan antara bintang, musim serta cuaca, menjelaskan waktu kemunculan Suhail berbeda-beda berdasarkan wilayah Arab Saudi.
"Bintang itu muncul di Jazan di bagian selatan Kerajaan sekitar 7 Agustus, di Arab Saudi bagian tengah sekitar 24 Agustus, dan di wilayah paling utara sekitar 7 hingga 10 September," kata Al-Sahoubi kepada Arab News.
Menurutnya, awal musim Suhail tidak memiliki tanggal tetap. Namun, ia menegaskan bahwa kemunculan bintang tersebut tidak secara langsung menyebabkan hujan.
"Orang-orang Arab telah mengenal dan menghargai Suhail sejak zaman dahulu, tetapi kemunculannya tidak memiliki hubungan langsung dengan curah hujan."
"Sebaliknya, bintang itu berkaitan dengan membaiknya kondisi cuaca. Hubungan ini bersifat indikatif, bukan sebab-akibat. Suhail merupakan tanda bahwa kondisi mulai membaik, tetapi bintang itu sendiri tidak memengaruhi atau mengubah cuaca," jelasnya.
Al-Sahoubi mengatakan hujan pada periode ini umumnya tidak teratur, terutama di wilayah Arab Saudi bagian tengah dan kawasan gurun. Kondisinya berbeda dengan wilayah selatan seperti Abha dan Al-Baha yang cenderung mengalami periode hujan lebih konsisten.
"Di wilayah gurun, curah hujan pada waktu seperti ini biasanya tidak teratur, sementara periode hujan yang lebih konsisten dimulai sekitar 16 Oktober, Insyaallah."
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]